Bagi masyarakat bangsa, mencintai Tanah Air adalah keharusan, tanpa terkecuali. Bahkan, cinta Tanah Air bagi sebuah bangsa ibarat jantung. Karena, tanpa landasan cinta suatu bangsa akan berhenti berdetak dan mati. Cinta Tanah Air menjadi representasi perangai masyarakat suatu bangsa yang ingin hidup menjadi satu kesatuan, sebab perasaan senasib sepenanggungan. Perasaan demikian, yang menurut Otto Bauar disebut sebagai nasionalisme.

Tidak dapat kita elakkan, kehadiran nasionalisme adalah sebuah keniscayaan tersendiri bagi lahirnya negara-negara bangsa di belahan dunia pada abad ke-20. Namun, kehadiran nasionalisme nyatanya tidak semulus sebagaimana ia membawa kemerdekaan bagi bangsa-bangsa dulu. Sampai per-detik ini, paham nasionalisme masih kerap kali ditentang oleh kelompok-kelompok fundamentalis, khususnya Islam. Dalihnya, tidak lain, karena nasionalisme adalah produk Barat. Yang menurut pemahamannya, nasionalisme adalah sumber perpecahan umat Islam menjadi terkotak-kotakkan dalam negara-bangsa. Hal ini yang kemudian diamini oleh Sayyid Qutb sebagai tokoh Ikhwanul Muslimin dan Taqiyyuddin An Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir.

Menilik penafsiran dua tokoh Islam di atas, lantas seperti apa nyatanya Islam menyikapi nasionalisme itu sendiri? Benarkah nasionalisme tidak selaras dengan pemahaman Islam sebagaimana dalam al-Quran? Jika nasionalisme diartikan sebagai representasi kecintaan kita kepada Tanah Air dianggap kesalahan, lantas bagaimana dengan satu perkataan Imam Ali RA dalam Bihar al-Anwar (1698) yang mengatakan, “kota-kota akan makmur dengan bumbu rasa cinta terhadap Tanah Air.”

Tidak hanya sampai di situ, bukankah dalam al-Quran sendiri, ayat-ayat tentang kecintaan kepada Tanah Air banyak ditemukan? Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Qs. al-Anfal: 30). Al-Quran menggambarkan Tanah Air adalah suatu hal yang sangat berharga. Al-Quran menganggap mengusir seseorang dari tanah air sepadan dengan membunuh nyawanya. Imam Fakhruddin ar-Razi dengan tegas bahkan menafsirkan ayat di atas dalam Mafatihul-Ghaib Al Musamma Bi Tafsir Al Kabir, “Allah menjadikan berpisah dengan Tanah Air sebanding dengan dibunuhnya nyawa.”

Dalam ayat lain, bahkan dikisahkan Nabi Ibrahim AS berdo’a meminta keselamatan kepada Allah SWT untuk Tanah Air dan anak-cucu yang dicintainya. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala, (QS. Ibrahim: 35).

Al-Buruswi dalam kitab tafsirnya Ruh al-Bayan, sebagaimana dikutip Lufaefi dalam Tafsir Surat al-Baqarah ayat 35: Belajar Nasionalisme dari Nabi Ibrahim AS (2018) mengatakan, bahwa konteks ayat ini adalah ketika Nabi Ibrahim AS selesai merenovasi Ka’bah dengan anaknya yaitu Nabi Isma’il AS. Menurut al-Buruswi, ayat ini merupakan bentuk munajat Nabi Ibrahim kepada Allah agar negerinya menjadi negeri yang aman, yaitu dijauhkan dari pertumpahan darah, penyakit lepra dan penyakit kusta. Selain itu, ia juga memohon agar Allah menjauhkan penduduk negerinya dari menyembah berhala-berhala, sebagaimana generasi-generasi yang sebelum generasinya.

Pun dalam ayat lain, Allah berfirman, Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal, (QS. al-Hujarat: 13). Al-Baidawi dalam tafsirnya Anwar at-Tanzil wa Asror at-Ta’wil (1418), sebagaimana dikutip Lufaefi dalam Bela Islam Indonesia Bela Keamnusiaan (2019) mengatakan, bahwa Allah telah menjadikan manusia berbeda-beda. Selain itu, manusia juga telah diciptakan dalam berbangsa-bangsa dengan maksud agar bisa saling mengenal. Kehidupan berbangsa tidak sedikitpun benar jika ditunjukkan untuk menyombongkan asal keturunan atau asal bangsanya. Karena, sejatinya yang mulia di sisi Allah adalah orang-orang yang berakhlak mulia.

Oleh sebab itu jelas, dari beberapa ayat serta pemaparan para ulama di atas, maka dapat disimpulkan jika klaim nasionalisme tidak selaras dengan ajaran Islam, dalam hal ini al-Quran, sebagaimana pandangan Sayyid Qutb dan Taqiyyuddin An Nabhani dapat terbantahkan. Karena, terdapat dalil dan landasan dalam al-Quran yang menyebutkan ihwal nasionalisme. Ayat-ayat diatas menunjukkan betapa sangat berharganya sebuah Tanah Air dan mencintainya. Sampai-sampai al-Quran menyandingkan pengusiran dari Tanah Air sepadan dengan pembunuhan atas nyawa atau bahkan lebih berat dan kejam.

Pendek kata, banyak ayat-ayat dalam al-Quran yang menyebutkan tentang nasionalisme. Karena itu, nasionalisme dalam konteks Islam tidaklah bertentangan, selagi tidak dalam pemahaman chauvinistic.

%d blogger menyukai ini: