Negeri ini memiliki dominasi agama Islam terbesar di dunia. Islam masuk ke negeri ini melalui jalan yang damai. Strategi penyebaran Islam di Nusantara dengan jalur perdagangan, dakwah, perkawinan, pendidikan, dan Islamisasi kultural. Sedangkan dahulu, tokoh yang paling sentral dalam penyebaran Islam di Nusantara adalah ulama, raja, sultan, kiai. Dan di Jawa yang terkenal ada dakwah Wali Songo, yang saat itu Islam Nusantara mulai digemakan oleh para Wali Songo, walau pun saat itu bukan bernama Islam Nusantara.

Islam Nusantara saat ini mulai diperkenalkan oleh Nahdlatul Ulama (NU). NU mencoba membentengi umat Islam di Nusantara dari peradaban arus globalisasi yang semakin cepat. NU sadar akan beratnya tugas menjaga kelestarian kebudayaan nasional yang itu adalah warisan leluhur Nusantara. Dari sini NU mencoba mempertahankan kebudayaan Nusantara melalui Islam Nusantaranya. Namun, Islam Nusantara sekarang masih ada pertentangan dari beberapa pihak yang tidak menginginkan Islam Nusantara berdiri, karena menurutnya Islam Nusantara itu ajaran yang sesat. Walakin faktanya tidak demikian.

Islam Nusantara merupakan model pemikiran, pemahaman, dan pengamalan ajaran-ajaran Islam yang dikemas melalui budaya maupun tradisi yang berkembang di wilayah Nusantara (Tri Wahyudi Ramdhan, 2018). Sedangkan menurut Taufik Bilfagih (2016), Islam Nusantara adalah penggabungan pengertian antara Islam dan Nusantara. Yakni, Islam Nusantara merupakan ajaran agama yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadits, yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW, dan yang diikuti oleh penduduk asli Nusantara. Maka demikian, Islam Nusantara adalah ajaran agama Islam yang murni, yang disebarkan di Nusantara dan sesuai dengan perilaku masyarakat Nusantara.

Dengan ini, Islam Nusantara adalah ajaran agama Islam yang sekaligus juga membumikan budaya Nusantara tanpa mengesampingkan tradisi. Jadi, Islam Nusantara itu ajaran yang cocok jika kita gunakan. Sebab, kita bisa belajar dan mensyiarkan agama Islam tanpa membuang unsur budaya dan tradisi. Masyarakat negeri ini juga menyanyangi budaya dan tradisinya, hal itu sudah diprediksi oleh NU. Karena itu, NU adalah salah satu organisasi yang tetap mempertahankan keaslian budaya Nusantara dalam menyebarkan agama Islam.

Sebelum menggaungnya istilah Islam Nusantara, ada dua istilah yang sempat populer di negeri ini, yaitu pribumisasi Islam ala KH. Abdurrahman Wahid dan Mewaspadai Islam Transnasional di era kepemimpinan PBNU oleh KH. Hasyim Muzadi. Islam Nusantara menjadi terkenal ketika momen Muktamar Ke-33 NU. Dalam Muktamar tersebut, NU mengusung tema, “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Sebenarnya, dalam pandangan saya, Islam Nusantara sudah digaungkan jauh-jauh hari oleh dakwah Wali Songo.

Namun, seiring perkembangan zaman, NU mulai menggemakannya kembali. Islam Nusantara sudah dimanifestasikan NU dari awal mulai berdirinya organisasi ini, walau istilah Islam Nusantara tidak ada pada zaman itu. Perjalanan perjuangan NU dalam dakwah agama Islam tak pernah lepas dari budaya dan tradisi Nusantara, dari dulu sampai saat ini. Selain itu, Islam Nusantara tidak hanya menegaskan ideologi, tetapi lebih dari itu. Islam Nusantara di negeri ini untuk menyetarakan peradaban yang toleran dan damai.

Sementara itu, saat ini masyarakat Islam di Nusantara cenderung lebih banyak menggunakan budaya Arab, sehingga dalam kehidupan nyata, budaya Nusantara sedikit demi sedikit hilang dari peradaban, karena tergerus budaya Arabisasi yang semakin besar. Maka dari itu, NU hadir untuk membendung budaya tersebut. NU selalu berusaha dalam membumikan budaya Nusantara menggunakan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Ajaran Islam Nusantara ini sangat relevan dengan keadaan kehidupan masyarakat negeri ini. Islam Nusantara juga satu arah dengan Pancasila dan Bhinneka Tungal Ika. Karena dalam konteks keagamaan, Pancasila sudah Islami dan dalam konteks kebangsaan Pancasila sudah menghargai pluralitas antar umat beragama.

Berkaitan dengan Pancasila, dalam buku, Islam Ramah Untuk Bangsa, menyebutkan, pada awal tahun 2004, penulis buku tersebut mendampingi Tim Pengkajian Syariat Islam. Ketika itu, diterima oleh Rektor Uneversitas Al-Azhar, Syekh Tantawi. Lalu, salah satu seorang peserta menanyakan, tentang bagaimana pandangan Syekh tersebut mengenai Pancasila. Dan Syekh tersebut menyatakan, bahwa keseluruhan isi Pancasila itu adalah pancaran syariat Islam.

Maka dari itu, Pancasila sudah mencerminkan Islam yang ada di Nusantara. Walaupun Pancasila bukan syariat formal, tetapi Pancasila telah mengandung spirit syariat Islam. Karena itu mengapa, Pancasila cerminan dari Islam Nusantara. Pancasila dan Islam Nusantara adalah asas yang harus kita pertahankan, sebab keduanya adalah budaya kita.

Dengan demikian, kita sudah seharusnya melakukan dan menjaga tradisi atau budaya yang telah diwarisi oleh leluhur kita. Marilah kita menyebarkan serbuk Islam menggunakan gabungan budaya Nusantara dengan cara yang sesuai dengan ajaran Islam dan tidak kabur dari Al-Quran dan hadis. Melestarikan budaya Nusantara untuk anak cucu kita demi mempertahankan kemurnian Nusantara yang sudah terjalin. Islam Nusantara adalah ajaran Islam yang ramah untuk peradaban bangsa. Alhasil, Islam Nusantara itu bagus, jika berdiri di negeri ini.

%d blogger menyukai ini: