Di tengah tatanan masyarakat saat ini, banyak kita jumpai tarik ulur klaim kebenaran dan kesalehan dalam beragama. Pihak-pihak ini kemudian saling berlomba, bukan untuk mengenalkan hakikat ajaran agama, tapi lebih mengarah pada perebutan massa dan kehendak menunjukkan diri sebagai definisi yang paling benar menurut versinya. Simbol, yang merupakan lapisan terluar dari agama yang cenderung mudah dicerna, selanjutnya diperankan sebagai atribut tak terbantahkan dari kesalehan.

Disadari atau tidak, selama ini kehidupan keberagamaan umat Islam tersentral pada peneguhan aspek ritualistik atau “simbol-simbol”. Lambat laun, tolok ukur kesalehan seseorang dilihat dari tinggi rendahnya kesetiaan yang bersangkutan dalam menegakkan simbol-simbol tersebut. Tidak lagi memperhitungkan spirit agama, yakni perwujudan keadilan sosial. Menganggap beragama cukup dengan gemar ke masjid atau rajin berpuasa. Tanpa perlu acuh pada tetangga yang merintih perih karena dapurnya berhenti mengepul.

Simbol-simbol tadi, sejatinya hanya medium untuk menghayati inti dari kesalehan beragama. Sebut saja puasa. Kontrol emosi dan menumbuhkan empati pada kalangan lemah adalah inti dari berpuasa. Sedangkan, menahan lapar, haus, dan berhubungan biologis menjadi lambang atau ritual dari ibadah puasa itu sendiri. Spiritualitas diri menjadi keniscayaan yang akan lahir dari simbol yang dihayati. Ibadah itu dengan sendirinya akan bernilai dan memiliki dampak moral serta sosial. Bukan sekadar ritual kosong tanpa nilai.

Seperti disebutkan sebelumnya, tidak sedikit umat Islam yang keliru dalam memahami simbol, bahkan malah mempolitisirnya. Kegagalan dalam menghayati simbol, dalam al-Quran disebut dengan kelalaian. Secara spesifik al-Quran mencontohkan orang yang lalai dalam shalatnya, dinarasikan dalam QS. Al-Ma’un.

Tersebut dalam ayat ke 4-5 dari surat al-Ma’un, bahwasanya Celakalah bagi orang yang shalat, yakni yang lalai akan shalatnya. Acap kali orang yang menegakkan simbol kesalehan, seperti ritual shalat, merasa seolah-olah telah menunaikan hakikat dari perintah Tuhan. Muncul pertanyaan, mengapa orang yang shalat tetap ada yang melakukan kemungkaran dan perbuatan keji kepada sesama? Boleh jadi, karena ia tidak menghayati ritual fisik shalat, sehingga esensi ibadah tersebut tidak tertransformasi dalam kehidupan nyata. Rukuk dan sujud menjadi formalitas belaka.

Maka tak heran, mengapa dalam surat tersebut Allah SWT mendefinisikan pendusta agama ialah orang-orang yang abai pada tuntutan-tuntutan sosial dan larut dalam sikap egoisme serta kepongahan. Para pendusta itu bukan orang yang misalnya secara eksplisit meremehkan kewajiban agama. Namun mereka adalah orang yang menghardik anak yatim, yang enggan peduli pada kesulitan masyarakat miskin dan tetangga sekitarnya. Termasuk orang shalat yang tertipu atau menipu diri dengan simbol kesalehan.

Orang-orang tersebut mengingkari substansi dari ajaran agama, dan fatalnya mereka menarik lambang kesalehan untuk berkamuflase. Menebar kasih bagi sesama adalah substansi dari kesalehan. Dan ibadah mahdhah seperti shalat, haji, atau zakat adalah simbol dari keberagamaan yang harus dihayati.

Islam mengajarkan sikap yang mengedepankan solidaritas sosial daripada aspek kesalehan personal. Misalkan kita sedang berpuasa sunnah dan menerima undangan makan. Dalam hal ini, Rasulullah SAW tidak kemudian mengharuskan orang tersebut untuk tetap berpuasa. Namun beliau memberikan pilihan bagi orang tersebut, apakah tetap hendak melanjutkan puasanya atau tidak. Imam Syafi’i memberikan penjelasan lebih lanjut, bahwa dalam rangka menghormati dan tidak melukai hati orang yang mengundang, kita diperkenankan membatalkan puasa sunnah itu.

Dalam berbagai kesempatan, KH. Ali Mustafa Ya’qub tidak jemu mengingatkan agar masyarakat menyentil kepekaannya atas realitas sosial. Pakar hadis Indonesia tersebut mengkritik keras praktik masyarakat negeri ini yang hobi naik haji berulang kali. Padahal masih banyak kewajiban sosial keagamaan yang harus ditunaikan, seperti merangkul fakir miskin dan anak yatim yang terlantar, pembangunan desa tertinggal, serta perbaikan fasilitas pendidikan. Bahkan, secara tegas Kiai Ali menyebut pelaku praktik demikian sebagai “haji pengabdi setan”. Sekali menjalankan ibadah haji, maka telah gugur kewajiban kita. Praktik berulangnya haji sangat rawan diselipi unsur riya’ dan keinginan dipandang mulia. Lebih dari itu, hal tersebut adalah bentuk kezaliman kepada orang lain yang belum pernah berhaji. Mengingat, antrian haji di negeri ini amatlah panjang. Jelas terlihat bahwa ibadah sosial menjadi hal yang penting diprioritaskan.

Manusia terkonfigurasi sebagai magnum opus Tuhan. Hal ini menunjukkan tingginya harkat dan martabat kemanusiaan. Bersamaan dengan itu, manusia pun memiliki potensi menjadi makhluk yang paling hina karena ulahnya sendiri. Umat manusia akan terselamatkan dari kemungkinan itu hanya jika ia mempunyai spirit Ketuhanan (rabbaniyah) dan bersikap baik kepada sesamanya. Seorang yang menutup mata dari kondisi di sekelilingnya terancam menerima kehinaan diri.

Jika hanya memperhatikan kesalehan personal tanpa peduli pada kesalehan komunal, maka agama belum dapat sepenuhnya hadir sebagai rahmat bagi seantero semesta. Malah kian menjauh dari tujuan sejati ajaran Islam dalam pembelaan manusia. Lebih dari itu, orang yang gagal menghayati ritual peribadatan sehingga tak memiliki efek sosial, ia berpredikat sebagai pendusta agama. Imam al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menyebutnya sebagai tindak kejahatan kelas berat. Aktualisasi dari fitrah spiritualitas dalam beragama adalah jembatan menuju kontribusi pada kebijakan dan kebajikan sosial yang nyata. Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: