Kita Butuh Habib yang Mewujudkan Kedamaian

KolomKita Butuh Habib yang Mewujudkan Kedamaian

Dunia modernisasi kontemporer, menyebabkan perubahan dan disrupsi yang konstan atas pilihan-pilihan yang tidak ada sebelumnya. Keberagaman—etnis, ras, suku, jenis kelamin, agama, sekte ideologi—merupakan fakta kehidupan, telah mengalami ekspansi dramatis yang membuka pintu sektarian. Banyaknya pendatang dari Timur-Tengah, etnis Tionghoa, dan juga India, proses asimilasi kian beragam di Indonesia. Keberagaman yang semula mampu menyatukan kekuatan untuk melepaskan diri dari jerat kolonialisme dan imperialisme, kini menjadi sesuatu yang resisten akibat polarisasi kepentingan. Salah satu problematika hari ini adalah munculnya fenomena habib-habib yang tidak mencerminkan akhlak datuknya—Nabi Muhammad SAW.

Dalam perjalanan bangsa Indonesia, banyak kalangan habib yang berjuang di bawah panji nasionalisme Indonesia. Mulai dari tokoh agama, ahli atau akademisi, aktivis sekaligus pejuang, sampai politikus dan pejabat tinggi negara. Misalnya di kalangan nasionalis kita mengenal Habib Husein Muthahar, sang komponis besar pencipta lagu kebangsaan seperti yang sering kita nyanyikan setiap kali tanggal 17 agustus, berjudul Hari Merdeka. Syair Syukur juga salah satu karyanya yang menyentuh relung jiwa setiap anak bangsa. Ia juga penyelamat bendera pusaka sekaligus pendiri Paskibraka.

Tokoh Pahlawan Nasional beberapa kita kenal seperti Tuanku Imam Bonjol dengan nama asli, Sayyid Muhammad Shahab, Raden Mas Antawirya atau Pangeran Diponegoro, dengan nama asli Sayyid Abdul Hamid, dan Raden Hadji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto yang bermarga Basyaiban. Selain itu, ada juga Pencipta lambang negara Burung Garuda yang bernama Sultan Abdul Hamid Al-Qadri. Tokoh agama mungkin lebih banyak lagi, di Jakarta ada Habib Ali Al-Habsyi Kwitang, Habib Salim bin Jindan dan Mufti Betawi, Sayyid Utsman bin Yahya yang dikenal keras, namun kedalaman ilmu dan karya-karyanya yang banyak menjadi rujukan—tidak mencaci, menghujat dan memaki orang lain—tertransendensi pada etik-moral dan budi luhur akhlaknya. Wilayah timur Indonesia ada Habib Idrus bin Salim Al-Jufri.

Di kalangan akademisi juga tak kalah hebatnya. Sebagai contoh yang cukup populer, anggota Konstituante Republik Indonesia, Prof. Habib Abdurrahman Shihab (Ayah dari Prof. Habib Quraish Shihab dan Habib Alwi Shihab). Dan masih banyak nama-nama lain yang turut andil dalam membangun moralitas perjuangan semasa Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saat ini, patut disayangkan. Fenomena Habib-habib yang muncul, cenderung kaku dan keras. Karena banyak habaib yang tidak mencontoh karakter Nabi Muhammad SAW. Kita sering mendengar habaib yang diberi panggung kemudian memanfaatkannya untuk mencaci, menghujat, bahkan menghardik orang lain yang tidak seharusnya bersikap demikian bagi seorang dai atau mubaligh dan pemuka agama. Pemuka agama merupakan percontohan bagi umat.

Habib Alwi Shihab, mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) 1999-2001 mengatakan, “Saya sendiri adalah seorang Habib, saya tidak setuju kalau seandainya Habib-habib menggunakan panggung itu untuk mencederai perasaan pihak lain yang tidak sejalan dengan mereka.” Habib Alwi juga mengungkapkan bahwa kalau ingin mencontoh nabi, maka kita sendiri harus mencontoh karakternya lebih dulu.

Tidak semua habib mengerti persoalan agama. Banyak kalangan habib yang tidak mendalami disiplin ilmu agama. Seorang habib dengan memakai jubah dengan serban melingkari kepalanya, bukan berarti ia berilmu dan berakhlak mulia. Karena situasi saat ini, bertolak belakang dengan situasi zaman. Dahulu, seorang habib akan disimak betul dan diterima oleh seluruh masyarakat moderen. Sebagaimana Habib Salim bin Jindan dan Sayyid Usman bin Yahya yang keras dalam pengertian tegas, dan tegas tidak harus berbentuk makian.

Gelar habib yang dipredikatkan masyarakat, terlalu mudah untuk disematkan. Padahal, gelar itu ditujukan selain bagi keturunan Nabi Muhammad SAW, juga harus berilmu (alim). Penting bagi habib untuk fokus perhatiannya hanya untuk umat Islam dan masyarakat pada umumnya.

Tidak hanya gelar habib yang mudah sekali disematkan masyarakat, kiai, gus, dan juga ustadz, seringkali muncul di permukaan yang realitanya kurang dalam ilmu, atau bahkan tidak berilmu dan berakhlak seperti nabi. Boleh jadi pengaruh media yang memberi gelar-gelar terhormat—mempengaruhi masyarakat—kepada orang-orang yang seharusnya belum memenuhi disiplin keilmuan dan perilaku yang baik.

Sebagian dampak daripada fenomena ini adalah beberapa peneliti yang mengilustrasikan bahwa kondisi Muslim saat ini dalam kondisi sakit dan dipenuhi persoalan kompleks. Pandangan saya, gelar habib yang mendadak mencuat pascareformasi itu, memunculkan politik identitas yang menjadi narasi dalam perpolitikan bangsa kita saat ini. Jika persoalan ini dilimpahkan kepada pemerintah saja, saya rasa tidak adil. Sebab banyak ungkapan yang mengatakan “pemimpin merupakan cerminan atau manifestasi diri rakyatnya.” Banyak masyarakat kita yang hanya belajar melalui dunia internet yang semu.

Bangkitnya teknologi-informasi, melahirkan media sosial yang menghubungkan orang-orang lintas geografi. Media sosial juga memungkinkan orang mendapatkan pelbagai informasi yang mengudara dalam jaringan maya. Media sosial juga sebagai fasilitas sirkulasi informasi yang cukup buruk. Upaya politis dan siaran kebencian dengan anonimitasnya, dapat menghilangkan batasan-batasan kesopanan.

Agama sebagai basis ajaran moral yang tinggi, tak pelak dimanfaatkan beberapa oknum pemuka agama sendiri yang memiliki umat untuk memprovokasi dan mempropagandakan identitasnya. Agendanya ini kemudian ditarik ke gerbong politik praktis sehingga terjadi disparitas dan polarisasi. Instrumen agama sangat efektif untuk mencapai itu semua, hanya dengan menaikkan tensi suhu emosi masyarakat. Bahkan yang lebih ironisnya lagi, menghalalkan hoaks demi tercapainya tujuan.  

Baca Juga  ZIARAH IMAM ALI BIN ABI THALIB
Baca Juga  Puasa Melatih Kejujuran dan Ketulusan

Pihak-pihak yang menjadi sasaran biasanya pemerintah dan semua kongsinya. Selain itu, siapapun yang tidak sejalan dengan kelompok Islamis ini, maka harus dilawan dan dipersekusi. Mimbar-mimbar khutbah dan pendidikan, dipolitisasi tepat saat momentumnya berlangsung. Dakwah habib yang keras dan kaku serta berbau politis, menggema seantero nasional. Banyak Habib berteriak menyerukan kebencian terhadap sesama anak bangsa yang dianggapnya berdosa sehingga harus diperangi dan disingkirkan.

Pemerintah menindak sedikit saja terhadap pelanggar batasan-batasan hukum perundang-undangan di kalangan pemuka agama, akan berdampak pada terhambatnya kelangsungan pembangunan nasional. Banyak yang tidak dapat membedakan antara pelaku kriminal dan pahlawan. Anggapan kriminalisasi ulama sebetulnya adalah bentuk viktimisasi.

Sangat bertolak belakang dengan kriminalisasi ulama di zaman kekhalifahan. Imam Abu Hanifah (satu dari 4 mazhab Sunni) misalnya yang dicambuk dan dipenjara karena tidak mau menjadi hakim saat Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur. Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali) yang ditangkap dan dicambuk oleh Khalifah Al-Mu’tashim karena bertahan bahwa al-Qur’an itu qadim dan bukan makhluk, dan banyak ulama lainnya. (Nadirsyah Hosen, 2020: 260-261). Jauh berbeda dengan situasi saat ini yang sebagian oknum pengkhotbah agama dan habib yang dianggapnya juga dikriminalisasi oleh pemerintah, akibat dakwah-dakwahnya yang menyulut hawa nafsu angkara murka umat Islam.  

Narasi untuk membangun emosi masyarakat—ulama yang dikorbankan, Islam ditindas, Islam termarjinalkan dan seterusnya—menjadi efektif dalam membentuk identitas agama konservatif untuk memobilisasi massa, dalam rangka melakukan perlawanan kelompok fundamentalisme Islam terhadap pihak-pihak tertuduh. Contoh yang terlihat mencolok adalah kasus penistaan agama Basuki Tjahja Purnama (Ahok) yang menggemparkan jagat nasional dan internasional.

Padahal, agama bertujuan membangun kesadaran dan kecerdasan umat, memberikan pengertian hal baik dan yang harus dihindari, membangun ukhuwah (persaudaraan), menebar senyum, membantu sesama—satu iman Islamiyah, satu bangsa, dan satu rasa kemanusiaan—habib yang benar-benar dicintai dan didambakan umat sesuai dengan karakter Nabi Muhammad SAW.

Jika harus membangun wacana politik, idealnya seorang habib lebih menyoroti isu-isu ekonomi, kesenjangan sosial, pendapatan yang tidak merata, budaya korupsi yang menggeliat, dan penegakkan keadilan. Dalam wacana agama, tentu saja kita berharap para habaib—dan juga da’i, mubaligh, ustadz—senantiasa fokus pada peningkatan takwa, memberikan pencerahan tentang karakter nabi (bukan dakwah perang yang terus digelorakan). Selain itu, dakwah juga dibutuhkan untuk membangun persatuan, menanamkan nilai-nilai moderasi dan toleransi beragama, menjaga kerukunan dalam kemajemukan yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa dan mencintai Tanah Air Indonesia.

Dengan carut-marutnya kebencian antarmazhab yang dirasakan saat ini, kita butuh sekali sosok habib yang muncul ke permukaan, sebagaimana saat nabi dilahirkan. Yakni, membangun cinta dan perdamaian diantara suku-suku dan dua imperium besar—Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Sasaniyah Persia—yang kemudian peradaban itu bergeser ke Timur.

Prof. Habib Quraish Shihab dalam sebuah wawancara dengan media tirto pada 24 januari 2017 mengatakan, bawah nabi sebelum ditugaskan untuk berdakwah, disuruh membaca. Wahyu pertama itu iqra!. Setelah itu turun ayat: Bangkitlah, untuk menyampaikan berita. Tapi masih diisyaratkan: Agungkan Tuhanmu. Penampilanmu biar baik. Pakaianmu biar bersih. Tinggalkan segala macam kekotoran. Fisik atau non-fisik. Dan jangan memberi dengan mengharap menerima lebih banyak. Jangan jual agama.

Terlebih, ciri habib yang berasal dari Alawiyyin Hadramaut (mayoritas Indonesia) adalah mematahkan pedang yang berarti tidak bersikap keras. Apalagi terhadap sesama Muslim. Habib seperti ini yang kita butuhkan dan populer di masyarakat sehingga dapat memengaruhi semua elemen agar lebih moderat dalam pandangan agama dan politik.

Habib berarti dikasihi sekaligus mengasihi. Tentu saja kita sebagai umat Islam sudah sepatutnya mencintai dan mengasihi para habaib. Namun hari ini, kita membutuhkan sosok habib yang penuh keteduhan seperti Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan, Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan Jakarta, dan Habib Umar Al-Muthohar Semarang.

Habib milenial yang mampu berdamai dengan situasi modernitas dengan keilmuan kontemporer itu, bernama Habib Husein Ja’far Al-Hadar. Ia sempat diundang dalam podcast Deddy Corbuzier berkomentar seputar keislaman. Ia salah satu habib muda idaman dan idola kaum muda. Melalui dakwahnya di Youtube dengan channel “Jeda Nulis”, betul-betul terlihat tentram dengan nada rendah, berdakwah dengan hati jernih bersih, serta menghargai pluralitas melalui dakwah kekinian, penuh kesejukan dan kedamaian.

Tumbuh kembanglah habib-habib dengan keilmuan yang dalam, mampu menjadi obat bagi banyak penyakit kebencian; mewujudkan kedamaian bagi kemanusiaan dalam bingkai Islam dan Kebhinekaan. 

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.