Fakta bahaya bukan hanya penyakit yang menular adalah ditandai dengan tersebar luasnya hoaks, yang berangsur-angsur dapat membodohi umat beragama. Jika beragama hanya berfokuskan pada daya spiritual, dan memarginalkan ilmu, maka hoaks akan memecah belah umat beragama, yang tak kalah dari penyakit menular itu sendiri. Demikian pentingnya Islam berlandaskan ilmu agar umat menjadi egaliter, berbudaya, dan tidak gampang terserang hoaks.

Ilmu ibarat penunjuk jalan bagi manusia untuk mencapai tujuan. Dalam al-Quran maupun hadis tertulis secara jelas tentang pentingnya menuntut ilmu. Sebagaimana sabda Nabi SAW, menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (HR. Ibnu Majah: 224). Pernyataan kewajiban tersebut memperlihatkan ilmu memiliki peran yang tak bisa terwakili. Jadi sudah semestinya setiap Muslim hendaknya meluangkan waktu untuk belajar menuntut ilmu, khususnya ilmu agama.

Islam menganjurkan umatnya untuk membaca, meneliti, memahami alam semesta dan kondisi alam. Anjuran tersebut, berkaitan erat dengan wahyu pertama Rasulullah SAW dalam surat al-‘Alaq terkonsep dalam kata iqra yang secara harfiah berarti membaca. Bermula dari sini, Islam pada perkembangan sejarahnya menjadi batu pijakan sumber peradaban manusia, yang dalam orientasi keilmuannya menekankan pada nilai etika dan moralitas.

Senjata umat Islam adalah keimanan yang mesti dibarengi dengan ilmu. Tanpa ilmu, keimanan seseorang dapat dipastikan sulit mencapai kekhusyukkan. Sedangkan Allah SWT mengharap agar para hambanya dapat beribadah dengan khusuk, Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya (QS. Al-Muminun: 1-2).

Sebagaimana yang kita ketahui, sejumlah tokoh teladan Muslim menjadi khusyuk dalam beribadah karena cakrawala keilmuannya. Beranjak dari ilmu itu, kekuatan imannya kian bertambah kokoh dan tak tergoyahkan. Demikian Rasulullah SAW dibekali oleh Allah SWT akhlak mulia dan ilmu yang luas dan mendalam, upaya agar menjadi teladan sekaligus menjadi manusia memberi manfaat untuk banyak umat.

Keutamaan orang yang berilmu adalah menjadi kekal. Meskipun ia telah wafat berpuluhaan abad alamnya, namanya akan kekal abadi tak tenggelam oleh perubahan zaman. Faktanya, nama Nabi Muhammad SAW masih harum dan terdengar luas, berikut para ilmuwan Muslim lainnya. Atas rahmat dan ridha Allah SWT, sampai saat ini agama Islam dapat berdiri tegak dan termasuk kategori pemilik umat terbanyak di dunia. Tak terlepas dari peran para ilmuwan Muslim untuk terus menyebarkan Islam yang penuh khazanah peradaban dan penjagaan terhadap kemurnian ajarannya.

Seorang yang berilmu mestinya ia tidak mudah termakan hoaks. Mengkroscek kebenaran dan menimbang baik dan buruk adalah ciri orang yang berilmu. Demikian cara Islam memotivasi umatnya dalam menunutut ilmu. Selain menjaga kemurnian ajaran agama, ilmu menjadikan Islam langgeng karena ajarannya bersifat dinamis. Karena itu, perlu dibedakan antara Islam hoaks dan modernisasi Islam, yakni Islam yang dinamis.

Karakteristik Islam yang hoaks adalah seseorang akan ‘gampang kagetan’. Misalnya kasus di Perancis tentang seorang guru non Muslim bernama Paty menunjukkan karikatur yang mengilustrasikan Nabi SAW kepada murid-murid dikelasnya, dikecam oleh banyak publik. Jika seorang dapat berpikir secara jernih, maka ia tidak seharusnya marah dan respons berlebihan lainnya. Sebab yang ditunjukkan Guru Paty adalah suatu kebohongan, jelas bahwa ia seorang non Muslim jadi wajar ia tidak mengetahui siapa dan bagaimana Nabi SAW. Jadi yang karikatur yang digambarkannya hanya kebohongan imajinasinya belaka.

Bahkan umat Islam sendiri, meski sepintas dikenalkan ciri-ciri Nabi SAW tidak ada yang tahu persis wujud beliau. Lalu kira-kira karikatur gambar siapa yang diributkan? Bagi saya dan yang sependapat, kasus ini mengecewakan karena berujung kebiadaban. Sebab, seorang pemuda telah membunuh Guru Paty, lalu memenggal kepalanya. Tanpa rasa malu dan bersalah, setelah membunuh ia mengambil gambar jasad Guru Paty kemudian mengeksposnya ke media sosial.

Saya menjadi teringat kisah yang sering didengar ketika masih kecil, diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA petikan dari kitab Mashaibul Insan min Makaid Syaithan karya Syaikh al-Makdisi al-Hanaf, bahwa seorang ahli ibadah bernama Imam Barseso diperdayakan keimanannya oleh iblis yang menyamar menjadi manusia ahli ibadah. Pada kesempatannya, iblis mengatur muslihat untuk menjerumuskan Imam Barseso dengan mengajaknya  melakukan maksiat agar ketika ibadah dirinya menjadi lebih khusyuk karena kesalahan yang dilakukan sebelumnya. Singkat ceritanya, Imam Barseso termakan tipu daya iblis dengan melakukan pembunuhan, berzina, minuman keras dan memperkosa.

Kisah ini perlu dihayati secara seksama akan bahayanya tipu daya setan, meski ia ahli ibadah tetapi kedangakalan ilmu membuatnya tak terselamatkan dari rayuan tipu daya iblis. Untuk itu, peristiwa pemenggalan guru Paty di Perancis merupakan peristiwa tragis dan momok menakutkan bagi mereka yang dangkal ilmu, karena setan berhasil memperdaya seseorang yang mengaku cinta Nabi SAW untuk bernyali membunuh. Na’udzubillah

Demikian umat Islam harus giat belajar dalam menuntut ilmu agar terlepas dari setan yang ditakdirkan menggoda manusia agar tidak terjerembap dalam kedzoliman, seperti Imam Barseso. Sebagaimana yang dialami oleh Syekh Abdul Qadir seorang sufi dan berilmu tinggi. Ia pula disebut-sebut sebagai rajanya para wali karena banyak karomah yang dimilikinya.

Suatu ketika iblis mendatangi Syekh Abdul Qadir yang tengah berjalan di lapangan yang lapang, tiba-tiba terdengar seruan, hai Abdul Qadir aku adalah Rabbmu, sungguh telah aku halalkan apa yang diharamkan bagimu. Sontak Abdul Qadir langsung melafalkan ta’awudz. Kemudian iblis menampakkan wujud aslinya yang buruk rupa dan tak menyangka seorang yang digodanya sangat pandai sampai mampu mengenali kalau dirinya adalah iblis.

Selanjutnya iblis mengakui bila ia sudah berhasil menggoda 70.000 ahli ibadah dengan cara seperti ini, tapi hanya kamu yang selamat. Sebelum iblis menghilang, ia memuji abdul Qadir sebab ia terselamatkan, pertama karena ilmu (fiqih) yang melekat dalam jiwanya, sehingga ia mampu memahami apa yang haq (benar) dan bathil (salah), sedang yang kedua sebab kondisi spiritual dan ibdahanya, Allah SWT membukakan hati dan membimbing hambanya pada jalan yang benar.

Kisah ini memberi pengetahuan yang menyadarkan bagi kita akan pentingan beragama Islam berlandaskan ilmu. Kendati Islam adalah agama yang benar, setan selamanya ditakdirkan untuk menggoda manusia, tak pandang apa agamanya. Islam yang berlandaskan hoaks adalah Islam yang bersumber dari kebohongan, baik dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Kebohongan ini, setan dijadikan sebagai alat pemantik kemarahan, kekerasan dan kebrutalan.

Mengingat keilmuan Islam dalam perkembangan sejarahnya bermula dari Rasulullah SAW itu sendiri sebagai sumber peletak perkembangan ilmu pengetahuan. Sudah sewajarnya, umat Islam dalam beragama harus berlandaskan ilmu, bukan hoaks yang menutup dari kebenaran dan enggan untuk belajar. Hanya berkoar-koar agama, padahal tak ada ilmu yang dipunya untuk mengajarkan atau mengkritisi cara keagamaan dan sikap orang lain.

%d blogger menyukai ini: