Kehidupan manusia di muka bumi ini tak lekang dari peradaban zaman. Dalam perjalanan kemajuan, semua manusia selalu dibebani dengan memenuhi kewajiban Hak Asasi Manusia (human rightsserta (receive good treatment from other humans) atau menerima perlakuan baik dari manusia lainnya. Manusia juga berhak mendapat dan menerima perlindungan beragama. Agama di sini adalah ajaran tentang kewajiban (Masdar F. Mas’udi, 2020). Selain itu, agama juga mempunyai arti suatu keyakinan yang dimiliki setiap manusia, untuk mendapat wadah dalam beribadat kepada sang Tuhan.  

Memang benar kata kiai Masdar, agama adalah ajaran tentang kewajiban, karena untuk menyadarkan usaha manusia menunaikan kewajiban, terutama kewajiban terhadap sesama. Hak dari sebagian besar manusia yang secara sosial berada dalam posisi yang lemah dan termarginalkan. Agamalah yang pertama kali mengajarkan tentang memanusiakan manusia. Agama apapun tidak ada yang membenarkan tentang penindasan makhluk hidup. Maka demikian, dari kewajiban manusia yang utama dalam beragama adalah masalah HAM.  

Menurut Umaruddin Masdar dalam bukunya, Agama Orang Biasa mengatakan, agama untuk manusia mempunyai dua cakupan. Pertama, agama adalah untuk diri kita (manusia) artinya agama merupakan salah satu alat pembebasan diri dari hawa nafsu yang menolak kebenaran karena kecongkakan dan sikap tertutup, karena merasa telah penuh ilmu. Dari kebebasan ini akan mengangkat harkat dan mertabat kemanusiaan seseorang.

Kedua, agama untuk kemanusiaan. Artinya agama bermakna untuk pembebasan sosial (social liberation). Maksud dari keduanya, yakni bahwa agama bukan untuk agama itu sendiri. Karena pembebasan atau kebebasan itu merupakan konstruksi sosial. Hal itu merupakan karena agama berkaitan dengan hubungan antara manusia dan Tuhannya. Dan dari pembebasan diri ini, pasti memunculkan pembebasan sosial, dan inilah yang seharusnya terjadi.

Sementara itu, kita sebagai manusia yang beragama tidak dibenarkan jika mengatakan bahwa agama kita yang paling benar dan sah serta mengatakan agama lain adalah sesat atau mengatakan agama selain kita adalah kafir. Karena dalam ajaran agama masing-masing menyinggung dan menyakiti hati seseorang itu tidak diperbolehkan. Kita harus menghormati manusia dengan mamanusiakan manusia itu sendiri.

Berkaitan dengan agama, dalam Islam, Al-Quran secara tegas mengatakan, bahwa “tidak ada paksaan dalam beragama” (QS. Al-Baqarah: 256) serta “bagi mu agamamu dan bagiku agamaku” (QS. Al-Kafirun: 6). Dalam Piagam Madinah pasal 25, perlindungan yang sama juga ditegaskan oleh Rasulullah SAW yang berisi, bahwa orang-orang Yahudi Bani Auf adalah satu umat dengan orang-orang mukmin. Orang Yahudi bebas berpegang pada agama mereka. Begitupun sebaliknya, Orang Muslimin bebas berpegang pada agama mereka.

Agama Islam sangat menjunjung tinggi HAM. Hal ini karena agama Islam memandang posisi manusia dengan sangat tinggi. HAM merupakan norma utama dalam relasi kehidupan bermasyarakat. Konsep HAM dapat digunakan sebagai ukuran dari kemaslahatan bersama. Dengan adanya perlindungan HAM, maka kemaslahatan umat akan terjamin secara keseluruhan.

Islam juga menegaskan kesetaraam kedudukan manusia tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Karena dihadapan Tuhan manusia mempunyai kedudukan yang sama dan yang membedakannya adalah ketaqwaannya saja. Di dalam (QS. Al-Hujarat: 49/13) menyebutkan dengan arti, “Wahai manusia! Kami menciptakanmu dari laki-laki dan perempuan; dan kami menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.

Selain itu, begitu juga dengan agama Katolik dan Kristen. Manusia diciptakan dengan dasar imago dei atau gambar Allah, yang artinya penciptaan manusia tak lepas dari kehendak Allah. Dan hanya Allah yang dapat menentukan hidup serta matinya manusia. Agama Kristen pun tidak membenarkan pembunuhan atau pelanggaran HAM. Tradisi Katolik pun menolak penggunaan kekerasan yang keji, seperti mutilasi, dan penyiksaan atau yang menimbulkan rasa sakit dan menciptakan rasa takut sebagai bagian dari cara penghukuman (Kardinal Avery Dulles, OP. Cit., hal. 37).

Di sisi lain, hal yang sama juga terlaksana pada agama Hindu dan Budha. Kedua agama tersebut adalah agama yang paling tua dalam melarang penggunaan kekerasan terhadap sesama manusia. Agama tersebut juga menitikberatkan akan kecintaan pada kehidupan serta saling menyayangi sesama manusia termasuk makhluk hidup lain (Menggugat Hukuman Mati di Indonesia, 2010).

Dengan demikian, ajaran semua agama adalah memanusiakan manusia. Semua agama yang disebutkan di atas tadi sama-sama menitikberatkan HAM. Karena dengan HAM, manusia mendapatkan kebebasan untuk hidup. Tidak ada ada satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan tentang perpecahan antar umat. Kalaupun jika memang ada agama yang mengajak umatnya untuk menyebarkan kekerasan, berarti yang salah bukanlah agamanya, tetapi bisa saja orang yang ada di dalamnya memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadinya.

%d blogger menyukai ini: