Pada dasarnya, musyawarah mengandung nilai sikap egaliter. Rasulullah SAW sebagai teladan umat, memberikan contoh dengan cara bermusyawarah dalam menghadapi pelbagai persoalan. Sebab metode musyawarah memiliki tujuan yang dapat menampung dan merangkul banyak pihak agar tidak adanya dominasi, marginalisasi dan terjadinya kesetaraan.

Sebagaimana sifat Rasulullah SAW dengan sosoknya yang ma’sum (terjaga dari segala kesalahan), beliau tidak sungkan bermusyawarah terhadap para sahabat dan orang-orang di sekitarnya. Paling eksklusif adalah praktik musyawarah dalam perjanjian Hudaibiyah (abad ke-6 H), yakni antara kaum Muslimin yang diwakili Abu Bakar dan Umar, sementara kaum Quraisy diwakili oleh Suhail bin Amr. Pada pertengahan pembuatan draf (perjanjian damai) ada banyak negosisasi dari Suhail dan Nabi SAW turut mengiyakan, meski para sahabat dibuat geram karena sikap naif Suhail.

Permintaan itu ialah, pertama kalimat pembuka yang ditulis dengan basmalah diganti ‘dengan nama-Mu ya Tuhan’. Kedua kalimat ‘naskah perjanjian Muhammad utusan Allah diganti menjadi ‘ini adalah naskah perjanjian Muhammad bin Abdullah dan Suhail bin Amr. Belum lagi dengan poin yang ada dalam perjanjian itu, terlihat merugikan umat Muslim. Walaupun begitu, sekian negosiasi yang dipinta Suhail, Nabi SAW hanya mencoba memahami keinginan dari musuhnya dengan musyawarah mufakat, sekadar tidak terpengaruh perdebatan tentang pembuatan draf, karena yang terpenting adalah terwujudnya perdamaian dari perjanjian yang dibuat (Abi Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thobary, Tarikh al-Umam wa alMulk, Juz III: 1979).

Dari yang dicontohkan Rasulullah SAW di atas, kita dapat mengambil pelajaran betapa pentingnya bermusyawarah menggunakan etika demi tercapainya tujuan yang mulia. Hal ini terbukti, perjanjian hudaibiyah yang dilakukan Rasulullah SAW menoreh sejarah penting akan kemenangan yang benar nyata bagi umat Islam. Dari perjanjian tersebut, beliau bisa membangun diplomasi yang menghasilkan kedamaian. Para kaum Quraisy untuk pertama kalinya mengakui, bahwa beliau bukan pemberontak, Islam berdaulat, dan tak kalah membahagiakan adalah Islam akui sebagai agama yang sah.

Bermula dari situ, bukan lagi alasan mengapa musyawarah mufakat mesti ditradisikan. Aisyah RA mengatakan, belum pernah dilihatnya seseorang yang lebih banyak bermusyawarah selain Rasulullah SAW (HR. Tirmdzi). Tak jarang mereka yang bersikap tertutup atau ingin mendominasi, enggan melakukan musyawarah. Sebab ia bisa terkalahkan pendapatnya atau bising mendengar banyak perbedaan pendapat atau karena tujuan politisi lain.

Dari musyawarah ini, Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk bersikap terbuka, tidak menutup diri dari kebenaran, sebab pendapat kita bisa salah dan tak jauh lebih baik dari pendapat orang lain. Sebagaimana firman Allah SWT yang memerintahkan agar bersikap lemah lembut dan memaafkan, lalu bermusyawarah atas persoalan disertai tawakal atas apa yang dimufakati (QS. Ali Imran: 159). Musyawarah diibaratkan dengan latihan mental, untuk itu Rasulullah SAW diperintahkan agar tetap berperilaku lemah lembut, pemaaf, musyawarah dan tawakal.

Oleh karena itu, penting menjaga sikap dan tidak mudah tersinggung dalam bermusyawarah. Sebab dalam musyawarah kemungkinan perbedaan pendapat pasti muncul. Jadi upayakan ketika bermusyawarah harus fokus pada tujuan bersama, bukan pada perdebatan dan keberpihakkan. Setelah Rasulullah SAW wafat, tradisi musyawarah diturunkan pada sahabatnya. Terlihat ketika Abu Bakar dibaiat pada hari pertama, ia mengungkapkan akan mengakui kekurangan dan kelemahannya serta memberikan ruang untuk mengkritisi khalifah apabila berbuat salah.

Jalinan musyawarah yang kerap diterapkan Raulullah SAW, membuktikan ia adalah sosok yang sangat demokratis. Beliau sadar, Islam bukan agama miliknya saja, tetapi seluruh umat Islam. Betapa banyak orang meletakkan harapan pada Islam, pada saat itu pula beliau bersama-sama membangun dan membuka banyak suara agar Islam tidak saja milik Tuhan, Rasul, dan kaum Muslim, tetapi seluruh umat manusia di dunia. Karena Islam adalah agama yang memberi rahmat, jadi semua makhluk dan alam semesta harus merasakan indahnya harapan Islam. Demikian tradisi musyawarah di zaman Rasulullah, yang kita pula mesti mentradisikannya.

%d blogger menyukai ini: