Insiden pemenggalan kepala guru di Perancis oleh seorang pemuda yang mengaku membela Nabi SAW menjadi konflik pelik pada pekan ini. Citra Islam kian tercemar buruk dan publik tak terkendali dengan opini yang tak bertanggung jawab terkait Islam. Padahal, Nabi SAW adalah sosok yang berakhlak mulia dan paling berpengaruh dalam membentuk satu tatanan norma yang ditaati jutaan orang di plosok dunia.

Sebagai seorang utusan, tindak-tanduknya Nabi Muhammad SAW senantiasa menjadi pusat sentral dan cerminan ajaran yang dibawanya. Mengisahkan kehidupaan di zaman dahulu, tak bisa dilepaskan dengan dijumpainya banyak peperangan, seperti dalam perjalanan kehidupan Nabi SAW. Kendati beliau terlibat dalam banyak peperangan, bukan berarti beliau membenarkan pembunuhan tanpa alasan yang tak berdasar.

Pada masa awal Islam, Makkah sebagai tempat kelahiran dan dakwah pertama Nabi SAW menjadi saksi yang riil atas kebesaran akhlak mulianya. Jika beliau bukan seorang utusan Tuhan, maka manusia mana yang kuat menghadapi pelbagai cacian, fitnah, dan cobaan lainnya dengan lapang dada karena keimanannya yang kuat. Bahkan tak asing kita mendengar kisahnya beliau membalas hujataan itu dengan bersabar, memaafkan, tetap berbuat baik dan mendoakan orang tersebut agar diberi petunjuk.

Sebab itu, Nabi Muhammad SAW sangat mengecam tindakan kekerasan atau aniaya. Pernah suatu ketika dalam peperangan Usamah bin Zaid menghadapi orang kafir bernama Mirdas bin Nafik yang dalam kekalahannya, ia terdesak mengucapkan kalimat syahadat untuk melindungi diri (taqiyah). Kendati sudah mengucap syahadat, Usamah tetap membunuhnya, lalu ditegur oleh Nabi SAW kalau ia tidak berhak membunuhnya karena sudah bersyahadat dan menjadi saudara seiman.

Selanjutnya Rasulullah SAW melafalkan surat An-Nisa ayat 94, Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Nabi SAW mengingatkan Usamah bin Zaid dahulu melakukan hal sama, tetapi beliau tidak mencurigai dan tidak membunuhnya. Kemudian Usamah bin Ziad sangat menyesal atas kekeliruannya, kelak perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di Hari Akhir.

Secara masif Nabi SAW tidak membenarkan pembunuhan, meski sudah jelas yang dihadapinya seorang yang berniat membunuhnya. Tak henti-hentinya beliau mengingatkan sahabatnya agar berhat-hati dalam melakukan tindakan dan memelihara hawa nafsu. Terkadang hawa nafsu mudah mengecoh seseorang berbuat di luar nalarnya. Padahal perkara tersebut dilarang dan tidak dibenarkan, baik secara syariat maupun etika.

Pesan ini kiranya diperhatikan baik-baik oleh sahabat Ali bin Abi Thalib yang tak jadi memenggal kepala musuh. Kala itu Ali dibuat emosi oleh ludah Amr bin Abd Wad al-Amiri yang mengenai wajahnya di tengah berkecamuknya perang Khandaq. Sadar niat jihadnya berubah sebab hawa nafsu bukan lagi jihad, alhasil Ali mengurungkan ayunan pedangnya, sembari meredam ego dan kembali menata niat jihadnya yang bukan lagi karena hawa nafsu.

Sedangkan terkait peristiwa pemenggalan kepala guru di Perancis, Samuel Paty (47) yang menjadi korban pembunuhan pemuda yang berusia 18 tahun. Korban ditengarai melakukan penghinaan sebab menggambar kartun Nabi SAW. Oleh pelaku tanpa salasan yang patut, ia langsung mengekseskusi pemenggalan kepala seraya berucap takbir, hingga dikecam oleh banyak orang, termasuk Islam sendiri (16/10). Konon pemuda ini, saat ditelusuri jaksa penuntut anti-terorisme Jean-Francois Richard menjelaskan kronologisnya, bahwa Paty sudah menjadi target sejak ia mengajar dengan kartun yang mengilustrasikan Nabi Muhammad yang ditengarai menghina baginda Nabi.

Meski demikian, tidak seharusnya seseorang sekonyong-konyong langsung membunuh, apalagi tuduhannya tidak berdasar. Jika seandainya ia benar bersalah atas penodaan agama, maka aksi membunuh tersebut tetap tidak dibenarkan. Bukankah kita saat ini berada di negara yang memedomani hak asasi manusia? Jadi semestinya persoalan ini diserahkan kepada pemerintah atau pihak yang berwajib untuk ditindak-lanjuti dan diadili dengan hukum yang berlaku, tidak ngasal main hakim sendiri.

Cinta yang berasaskan hawa nafsu merupakan penyimpangan, sekali pun cinta itu ditunjukkan kepada Tuhan dan utusannya. Demikian jihad yang paling besar menurut nabi adalah jihad melawan hawa nafsu. Nabi Muhammad adalah seorang yang terpilih, hingga jauh dari kesalahan (ma’shum). Oleh karena itu, D.G Hogar dalam bukunya Arabia menyebutkan, di semenanjung Arab, tak ada seorang pun yang perilakunya ditiru secara detail oleh sejumlah besaran manusia, selain Nabi Muhammad SAW, seorang manusia sempurna (1922).

Walhasil, Nabi Muhammad SAW tidak membenarkan pembunuhan yang mengatasnamakan jihad, padahal ia tidak dalam peperangan yang tengah diserang. Mestinya seorang yang murni mencintai Nabi SAW akan meniru akhlak beliau. Bagaimana ketika Nabi dihujat beliau tidak diam, tetapi tidak marah dan bersikap arif dan tegas dalam menghadapi persoalan.

%d blogger menyukai ini: