Tanah Air kembali terjangkit wabah egoisme beribadah. Semangat beragama tanpa memikirkan kemaslahatan bersama, merasa paling benar dan menyalahkan orang lain. Nahas. Agama kerap disalahpahami dan disalahpraktikkan, sehingga menjadi pemicu kekerasan, bahkan pertumpahan darah.

“Salah satu tanda akhir zaman adalah adanya orang yang banyak beribadat tapi jahil, dan ulama (ahli agama) tapi fasik (justru menyalahi ajaran agama).” [HR Ibn ‘Ady]

Kita tidak tahu pasti apakah Hari Akhir sudah dekat, tetapi hadis di atas memancing nalar kita untuk menelisik, apakah orang yang banyak beribadah sudah tentu memiliki pengetahuan luas dan keterbukaan pikiran? Apakah orang alim atau berilmu sudah tentu berlaku baik dan memiliki moralitas luhur?

Fakta justru berkata sebaliknya. Antusiasme beribadah acap kali beriringan dengan sikap fanatik, sedikitnya pengetahuan, mau menang sendiri, dan menyalahkan pandangan orang lain. Hanya pandangan Saya yang benar. Yang lain salah, bid’ah, kafir, sesat, dan sebagainya.

Di sisi lain, masyarakat justru kerap meragukan moral para ulama. Baik dalam hal hidup berlimpah ruah dengan cara menjual keulamaannya kepada publik untuk meraih popularitas (termasuk dakwah virtual di banyak akun media sosial demi viewersfollowers, dan subscribers), maupun menjual diri kepada penguasa agar diberi jabatan atau kekuasaan.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW gemar berkumpul bersama para sahabat untuk mendiskusikan ilmu daripada hanya fokus memperbanyak ibadah saja. Salah satunya, kisah Muadz ibn Jabal, sahabat Nabi SAW yang ahli dalam bidang fiqh. Bahkan, kemampuan dan keberanian Muadz dalam menggunakan kecerdasannya dalam bidang fiqh mendapat apresiasi dari Nabi Muhammad SAW. Beliau menyatakan Muadz adalah orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram.

Dari kegemaran Nabi Muhammad SAW berdiskusi bersama para sahabat, tak lain mengajarkan kita bahwa semangat beribadah tanpa dibarengi dengan pengetahuan yang luas dan pikiran terbuka akan menjerumuskan ke dalam jurang kerusakan, sebab ia kerap tak terkendalikan.

Di sisi lain, umat Islam harus mengenal baik ulama yang dijadian sebagai guru atau panutannya. Bukan sembarang memilih ulama hanya karena kepiawaiannya berbicara dan konten dakwahnya yang lucu menghibur atau memprovokasi banyak orang yang diwujudkan demi memenuhi nafsu saja.

Maka dari itu, kita perlu memahami kembali pemahaman agama Islam. Bukan hanya soal rukun iman dan rukun islam yang terkandung dalam hadis shahih nan popular tentang malaikat Jibril yang mendatangi Rasulullah SAW menanyakan perkara iman dan Islam, tetapi juga perkara ihsan. Padahal, Allah SWT berfirman, “(Dia) menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara kalian yang paling indah/ sempurna (ihsan) amal-amalnya.” [al-Mulk: 2]

Rukun ihsan yang banyak dilupakan umat Islam itu, menurut Haidar Bagir merupakan aspek utama semua agama sebagai spiritualitas dan moralitas. Dalam inti spiritualitas terletak unsur cinta yang merupakan tujuan agama. Bahwa tanpa spiritualitas dan moralitas yang sama-sama luhur, agama justru menjadi sumber bencana dan perpecahan. Bahkan, tanpa cinta, agama bisa menjadi sumber sikap radikal dan agresif yang memicu kekerasan dan pertumpahan darah.

Di dalam hadis Jibril di atas, ihsan adalah beribadat kepada Allah dalam keadaan kamu melihat Allah. Dalam nash hadis disebut seolah-olah, sebab Tuhan tak bisa dilihat dengan mata kepala. Ibadah yang dilakukan dengan kehadiran Tuhan mengindikasikan bahwa Tuhan semata-mata tak lagi berjarak, tetapi telah menjadi intim dengan pelaku ibadah.

Walhasil, hanya dengan ihsan yang berlandaskan cinta, ibadah dapat benar-benar menjadi sumber keberkahan dan kemaslahatan bagi sesama, sementara keulamaan yang tak memandang nama menjadi sumber moralitas luhur bagi masyarakat, sehingga agama kembali pada perannya sebagai sumber spiritualitas dan moralitas di tengah kemanusiaan

%d blogger menyukai ini: