Revolusi digital dewasa ini, berbarengan dengan gelombang keterbukaan informasi dan tekologi (media sosial) telah menggiring kita pada satu tatanan dunia baru. Kapan pun, di mana pun, kita gandrungi oleh kebutuhan pokok teranyar nan masyhur, “ketergantuangan terhadap media sosial”. Selayaknya orang Indonesia yang tidak bisa berjauh-jauhan dengan nasi, pun demikian orang-orang di dunia ini, sukar terpisahkan dengan medsos. Wilbur Schramm (1982) menyebutkan, bahwa masyarakat dan media komunikasi adalah kata kembar yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Media sosial menciptakan standar kehidupan yang sama sekali tidak realistis.

Harus diakui memang, medsos adalah salah satu pencapaian spektakuler era ini. Perannya dalam kehidupan sehari-hari sangat dirasakan sekali oleh kita. Hal-hal yang berkaitan dengan informasi domestik, maupun dunia globlal secepat kilat dapat kita dapatkan. Banyak sekali kemanfaatan yang kita bisa rasakan. Namun ironinya, di saat keterbukaan dan kemajuan modernitas itu semua mulai melangit, di sisi yang lain dengan wajah yang sangat menakutkan ancaman-ancaman globalisasi mulai menampakkan keperkasaannya. Berita bohong, caci maki, penipuan, dan bahkan pembunuhan kerap kali mewarnai jagat medsos.

Tidak hanya sampai di situ, disintegrasi bangsa menjadi satu ancaman nyata yang tidak dapat terelakkan, Indonesia tidak terkecuali. Masifnya gelombang budaya global tidak singkron dengan minimnya wawasan kebangsaan di setiap sendi-sendi masyarakat kita. Padahal, kebangsaan adalah basis moral, fundamental utama dalam menghadapi arus global itu sendiri. Karena, berbicara ihwal kebangsaan, berarti berbicara tentang bangsa, negara, dan kita sebagai warganya, di mana masa depan bangsa ada dalam genggaman kita. Karena itu, penting untuk kita ketahui bersama, wawasan kebangsaan harus menjadi kurikulum utama, jalan dakwa di media sosial.

Setidaknya ada dua alasan yang melatar belakangi pentingnya wawasan kebangsaan mesti menjadi penghias di media sosial. Pertama, derasnya arus informasi yang tersebar melalui media sosial, sehingga kebenaran informasi menjadi bias dan kerap mengambang. Fenomena ini menjadi sesuatu yang merepotkan karena realitas sosial dikonstruksi atas realitas media. Kecenderungan munculnya berita hoaks adalah bagaimana produksi dan distribusi berita atau informasi telah mengalami pergeseran. Yang semula produksi berita sangat eksklusif dan hanya dapat dilaksanakan oleh kelompok masyarakat tertentu, sekarang proses produksi berita dan manipulasi berita menjadi semakin mudah, dan diproduksi oleh siapa pun. Jelas, hal ini sangat berdampak buruk dalam tatanan bangsa kedepan.

Mirisnya, disebabkan hoaks dan penggiringan opini tidak sedikit kawula muda yang telah terpapar paham radikal. BIN (2017) sebagaimana mencatat dalam penelitiannya, terdapat 24 persen mahasiswa dan 23,5 persen pelajar SMA yang menyetujui tegaknya negara Islam di Indonesia. Padahal, radikalisme adalah salah satu hulu dari kemunduran, bahkan kehancuran suatu bangsa. Faktor yang menjadi pemantik munculnya radikalisme pada pemuda, tidak lain adalah dari propaganda media sosial itu sendiri.

Kedua, menurunnya koneksi dan interaksi antar sesama. Memudarnya interaksi sosial menurut pandangan Coleman (1907) disebabkan oleh hilangnya media interaksi sosial. Pelajar atau mahasiswa tidak memiliki lagi kesempatan untuk berinteraksi dengan sesama teman, dan pengajarnya. Hal ini jelas disebabkan dari minimnya minat kita dalam berkomunal. Kita lebih memilih menjadi individualis. Padahal, kebangsaan kita, sebagaimana Bung Karno menafsirkan adalah representasi dari gotong-royong itu sendiri. Hidup komunal, berbaur, berinteraksi, dan saling bahu-membahu dalam berbangsa-bernegara.

Memang, tidak mudah menjadi generasi bangsa di era disrupsi. Tantangan-tantangan global semakin kompleks untuk dihadapi, mulai dari hoaks, radikalisme, dan lain-lain. Padahal, peran pemuda sangat vital bagi negara-bangsa dalam merealisasikan cita-cita dan kemajuan bangsa. Maka dari itu, upaya-upaya preventif terkait transmisi hoaks, ujaran kebencian, dan propaganda di media sosial harus dimaksimalkan, agar radikalisasi pemuda dapat terluputkan. Dan semua itu, dapat terealisasi hanya tatkala kita kembali ke khittah kebangsaan, sebagai masyarakat yang nasionalis dan menjunjung tinggi gotong-royong.

Wawasan kebangsaan, mesti kembali dibumikan dalam bentuk nyata, merasuki sendi-sendi masyarakat kita. Dakwah kebangsaan, harus menjadi instrumen penting dalam diskurusus pergulatan di media sosial, kini hingga nanti.

%d blogger menyukai ini: