Hoaks Ancaman Keutuhan Bangsa

ISLAMRAMAH.CO, Maraknya berita bohong belakangan ini menuai keprihatinan dari sejumlah tokoh bangsa. Sebab, hoaks dianggap sebagai ancaman nyata bagi keutuhan dan persatuan bangsa. Beberapa negara-negara di Timur Tengah yang hancur lebur akibat perang saudara adalah bentuk nyata dari dampak destruktif kabar bohong. Masyarakat diminta untuk memperkokoh persaudaraan dan menghindari segala bentuk provokasi yang dibungkus melalui hoaks.

Sejumlah tokoh berkumpul menggelar Gerakan Suluh Bangsa sebagai bentuk gerakan untuk memperkokoh persatuan masyarakat yang mulai terpolarisasi akibat politik. Terlebih kepentingan politik acapkali dibungkus melalui kabar bohong yang meresahkan masyarakat. Menurut Prof Dr Mahfud MD, maraknya hoaks bisa membuat masyarakat makin terpolarisasi tajam. Kabar bohong adalah bentuk nyata ancaman terhadap keutuhan bangsa.

“Berita bohong tampaknya ada yang mengorganisasi. Bahkan, yang kita dengar, ada yang bayar juga. Polarisasi menjadi semakin tajam. Celakanya lagi, masalah ini lalu disemarakkan oleh berita-berita bohong yang dikapitalisasi begitu rupa,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dalam saresehan kebangsaan yang digelar Gerakan Suluh Kebangsaan, Rabu (9/1) di Yogyakarta.

Mahfud juga mengingatkan bahwa Pemilihan Umum hanyalah rutinitas lima tahunan. Jangan sampai kepentingan pendek itu bisa memecah belah persatuan bangsa. Sebab, keutuhan bangsa jauh lebih mahal dari sekedar politik praktis. “Sayang sungguh sayang kalau negara yang seindah ini hancur hanya karena hoaks dan perbedaan politik. Pemilu itu hanya untuk memilih pemimpin selama lima tahun, sedangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini kita inginkan ada untuk selamanya,” tuturnya.

Di sisi yang lain, Syafii Maarif berharap masyarakat Indonesia bisa menjaga kewarasan dan akal sehat sehingga tak terpengaruh oleh kabar bohong yang marak belakangan ini. Menurutnya, semangat kebangsaan masyarakat Indonesia juga perlu disegarkan dan diperkuat agar bangsa ini tidak mudah dipecah belah. “Semangat kebangsaan kita tidak segar lagi. Jadi perlu disegarkan,” ungkapnya.

Sementara Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan, saat ini nilai-nilai kebangsaan mulai kehilangan khasiatnya sebagai perekat masyarakat Indonesia yang bhineka. Menurutnya, terjadi penguatan politik identitas berbasis agama yang mengancam integrasi sosial masyarakat. “Nilai-nilai kebangsaan, ketika dituntut agar menjadi nilai-nilai yang hidup, memerlukan revitalisasi dan sikap kreatif terus menerus,” ujar Sultan.

Sebagaimana diketahui, sarasehan itu dihadiri sejumlah tokoh, antara lain mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarya Sultan Hamengku Buwono X, dan agamawan Romo Benny Susetyo.

Comments
Loading...