Di masa lalu, Resolusi Jihad difatwakan untuk membakar semangat umat Islam, baik itu perempuan maupun laki-laki, hukumnya yaitu fardhu’ain bagi mereka yang berada dalam radius 94 km untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dengan atau tanpa mengangkat senjata, semuanya tetap memiliki kewajiban yang sama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang pada saat itu baru saja diproklamirkan. Namun, di era yang serba digital dan maju saat ini, kewajiban untuk berperang dengan mengangkat senjata, tentunya sudah tidak relevan. Tetapi, spirit Resolusi Jihad harus terus diglorakan dengan cara yang lebih kekinian, yakni dengan memanfaatkan fungsi serta peran media sosial.

Sebagai pengingat bagaimana spirit Resolusi Jihad 1945, mari kita tarik kembali ke belakang. Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya 17 Agustus 1945, ancaman penjajahan itu datang kembali. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang kemudian membonceng tentara Inggris, kembali berusaha untuk menjajah dan menguasai Indonesia.

Kondisi yang dianggap genting tersebut, langsung direspons oleh Soekarno dengan cepat. Ia segera mengirim utusan untuk menghadap Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombong. Singkat cerita, Mbah Hasyim bersama dengan ulama lainnya, yaitu wakil-wakil cabang dari Nahdlatul Ulama (NU) di seluruh Jawa dan Madura, berkumpul di Surabaya pada 21-22 Oktober 1945. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah nilai dasar penting bagi bangsa Indonesia, yakni Jihad dalam mempertahankan kemerdekaan Tanah Air dan bangsa. Nilai dasar itu yang kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad.

Resolusi Jihad ini menjadi inspirasi bagi berkobarnya semangat masyarakat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan negerinya. Momentum Resolusi Jihad mempunyai banyak nilai yang bisa kita jadikan sebagai prinsip kebangsaan, baik itu secara individu maupun kelompok, salah satunya, dengan semangat menegakkan agama dan kedaulatan Negara Republik Indonesia.

Maksud dari menegakkan agama, bukan berarti dengan mendirikan negara Islam dan menyalahkan orang lain yang berbeda, melainkan dengan mendidik akal dan jiwa untuk selalu menebarkan kedamaian, cinta dan kasih terhadap sesama. Hal ini yang merupakan esensi dari beragama.

Selain itu, nilai lain dari Resolusi Jihad adalah mempertahankan Negara Republik Indonesia merupakan sebuah kewajiban bagi umat Islam. Sebagai masyarakat Indonesia yang beragama Islam, seharusnya dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Islam sebagai mayoritas di Indonesia, harus dapat menunjukkan sebagai agama publik yang toleran serta mampu mengayomi semua elemen masyarakat dari berbagai keanekaragaman yang dimiliki Indonesia.

Masih dalam memperingati momentum Hari Santri Nasional, mari kita renungkan kembali nilai-nilai dari spirit Resolusi Jihad untuk kita tanamkan di era digital saat ini. Media sosial digunakan sebagai penyalur informasi, yang mendamaikan dan membangkitkan semangat dalam membangun bangsa lebih baik dan beradab serta mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa.

Resolusi Jihad mempunyai semangat komitmen kebangsaan, persaudaraan, gotong royong, dan saling menanamkan kepercayaan di antara warga negara. Semangat komitmen ini, yang harus mulai kita sebarkan di semua media sosial, seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan sebagainya. Perlahan, kita mulai mengubah wajah media sosial kita saat ini, yang tadinya hanya sebagai tempat mengonsumsi berita bohong dengan berbagai kebencian, sekrang menjadi tempat menyalurkan informasi yang menyejukkan serta mengobarkan kecintaan terhadap Tanah Air.

Dengan spirit Resolusi Jihad, akun media sosial kita harus mulai menghadirkan konten Islam rahmatan lil alamin. Membagikan ulang quote dari tokoh-tokoh Islam untuk menyegarkan masyarakat dari konten yang menipu dan memiliki unsur kebencian. Konten yang berisi mengenai banyak pengetahuan tentang Islam yang benar, dirunut dari sumber yang valid. Selain itu, juga menggunakan pesan damai Islam yang dibawakan dengan cara yang menarik.

Akun media sosial harus digunakan untuk melakukan tabayyun. Menjadi pengguna media sosial yang cerdas dalam membaca informasi secara utuh, dan dari sumber yang kredibel. Tentunya, konten yang disebarkan bukan hanya mendamaikan, tetapi juga diambil dari sumber terpercaya.

Dengan demikian, momentum Hari Santri Nasional, tidak hanya sebagai perayaan seremonial tahunan. Namun, sebagai pengingat spirit Resolusi Jihad pada 1945. Jihad kita memang dengan cara yang berbeda, yakni dengan cerdas dalam bermedia sosial. Namun, itu tidak mengurangi esensi dari semangat perjuangan. Dengan Berbagi konten berkualitas dan valid, serta tidak menghujat satu sama lain, tentunya itu merupakan perjuangan dalam melawan kelompok-kelompok intoleran. Maka dari itu, mari kita sebarkan pesan damai di media sosial, yang menunjukkan kecintaan terhadap negeri, sebagai bentuk spirit Resolusi Jihad di era saat ini.

%d blogger menyukai ini: