Ekstremisme telah meresahkan umat Islam dewasa ini. Berbagai aksi teror yang mengatasnamakan agama, kerap menyudutkan Islam sebagai pihak yang dipersalahkan. Hal ini tak lepas dari aksi-aksi ekstrem yang dilakukan oleh kelompok Islam puritan, seperti Wahabi. Melalui doktrin takfirismenya, ekstremisme tumbuh subur, sehingga acap kali Islam tercitrakan sebagai sumber lahirnya ekstremisme oleh kalangan internasional. Apakah benar demikian?

Barangkali, semua sistem kepercayaan yang didasarkan pada keyakinan agama, cenderung bersifat supremasif. Artinya, mereka merasa lebih unggul, lebih superior, dan paling benar sendiri daripada yang lain. Doktrin semacam ini tentu sangat berbahaya, karena hanya akan berorientasi pada dominasi kultural dan politik. Kelompok-kelompok ini tidak puas hanya dengan menjalani hidup yang sesuai doktrin mereka sendiri, tetapi juga tidak puas dengan alternatif jalan lain. Mereka tidak sekadar berupaya memberdayakan diri, tetapi juga secara agresif berusaha melemahkan, mendominasi, dan menghancurkan orang lain.

Pokok permasalahannya adalah semua kehidupan yang dijalani di luar ketentuan hukum agama dianggap kafir dan sebuah bentuk kejahatan terhadap Tuhan, sehingga harus ditentang dan dibunuh bahkan diperangi. Inilah yang melatarbelakangi munculnya takfirisme yang menjadi sumber ekstremisme berjubah agama.

Secara historis, kelompok ekstremis ini sudah ada sejak awal berkembangnya Islam, yaitu Khawarij. Khawarij adalah kelompok yang memisahkan diri dari kelompok Muslim mainstream. Mereka tidak puas terhadap cara-cara pemimpin mereka dalam mengelola urusan-urusan umat. Karenanya, mereka berusaha membunuh ketiga pemimpinnya, yaitu Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan Amr bin ’Ash. Mereka berdalih bahwa ketiganya telah melanggar hukum Allah. Pada Ali bin Abi Thalib, mereka tidak setuju karena Ali bersedia melakukan tahkim terhadap musuhnya. Sementara Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Amr bin ‘Ash dianggap memberontak terhadap kekhalifahan yang sah, sehingga mereka wajib diperangi dan dibunuh.

Fenomena Khawarij tersebut, menandai lahirnya takfirisme dalam Islam, yaitu suatu doktrin pengafiran yang mereka percayai berdasarkan ajaran al-Quran. Suatu doktrin yang menyebabkan seorang Muslim yang shalatnya menghadap kiblat yang sama, memiliki Nabi yang sama, Tuhan yang sama, tetapi dianggap sebagai kafir. Bahkan, bagi mereka darahnya menjadi halal akibat justifikasi status kafir tersebut. Tindakan pengafiran tersebut, pada akhirnya akan menjadi sumber lahirnya ekstremisme atas nama agama.

Dalam konteks ini, Muhammad bin Abdul Wahab yang merupakan peletak dasar teologi Wahabi, bisa dikatakan sebagai penerus pemikiran takfirisme ala Khawarij. Menurut Abdul Wahab, orang-orang kafir yang diperangi Nabi Muhammad telah melakukan sejumlah kebajikan, seperti sedekah, haji, umrah, beribadah, dan meninggalkan larangan Tuhan. Akan tetapi, mereka tidak menerapkan tawhid uluhiyyah. Mereka meyakini Tuhan sebagai “al-Khaliq”, tetapi mereka tidak meyakini Tuhan sebagai satu-satunya sandaran dan tujuan. Maka dari itu, barangsiapa memohon kepada selain Allah, seperti memohon pertolongan kepada Nabi Muhammad, para wali, dan orang-orang saleh, maka orang tersebut telah melakukan dosa besar (syirik).

Atas dasar itu, Abdul Wahab melakukan pengafiran terhadap tradisi-tradisi yang berkembang tersebut. Ia menyatakan, “Sebagian besar umat manusia telah dipermainkan oleh setan dan dihiasi perbuatan syirik, yang membuat mereka terlena dengan orang-orang saleh, sembari mengagung-agungkan mereka. Bahkan, orang-orang musyrik di zaman kita lebih sesat daripada orang-orang kafir yang hidup pada zaman Rasulullah.”

Doktrin takfirisme Wahabi menjadikan mereka mudah sekali mengafirkan siapa pun yang tidak murni dalam menyembah Tuhan. Mereka juga membenci tradisi Barat dan melarang setiap Muslim makan roti dan daging. Bagi setiap Muslim yang melakukan hal itu, ia dianggap kafir, dan karenanya harus dibunuh. Tidak hanya itu saja, Wahabi juga kerap mengafirkan kebiasaan umat Islam, seperti mendengarkan musik, menonton tv, melukis, memotret, dan lain-lain. Alasannya, kebiasaan tersebut dapat mereduksi tawhid, karena melestarikan tradisi non-Muslim.

Dalam sejarahnya, konsepsi tawhid dan takfir ini memiliki konsekuensi yang logis, yaitu pengafiran terhadap kaum sufi, Syiah, dan pengikut Dinasti Ottoman. Menurut Khaled Abou el Fadl, dalam Sejarah Wahabi dan Salafi, pada tahun 1802, Wahabi membantai penduduk Karbala yang menganut Syiah, dan pada tahun 1803, 1804, dan 1806, Wahabi mengeksekusi orang Sunni di Mekkah dan Madinah atas pelaku bid’ah. Pada saat penaklukan tahap kedua di Semenanjung Arab, terdapat kurang lebih 40.000 orang divonis mati dan 350.000 orang diamputasi oleh Wahabi. Bukankah hal demikian merupakan bentuk ekstremisme yang sangat nyata dan akut?

Alasan-alasan inilah yang menyebabkan doktrin takfirisme Wahabi disebut sebagai sumber lahirnya ekstremisme Islam. Doktrin takfir menyebabkan mereka mudah sekali menghukumi setiap individu ataupun kelompok yang berbeda dengan mereka sebagai kafir. Karenanya, seorang kafir boleh dan bahkan harus diperangi dan dibunuh.

Tentunya, sebagai umat Islam kita merasa sedih dan prihatin melihat kenyataan tersebut. Islam yang merupakan agama rahmatan lil’alamin, inklusif, dan moderat, oleh Wahabi direduksi menjadi agama yang radikal, ekstrem, dan eksklusif. Karenanya, perlu usaha bersama untuk melawan narasi-narasi Wahabi yang sangat merusak citra Islam sebagai agama rahmat semesta alam. Islam moderat harus menunjukkan eksistensinya.

Maka dari itu, bagi siapa pun yang masih terjebak dalam lingkaran fundamentalisme dan puritanisme Islam ala Wahabi, sebaiknya mereka beralih pada lingkaran Islam moderat. Islam moderat yang cenderung toleran terhadap perbedaan dan menghargai pendapat yang berbeda dengan terbuka dan penuh kelapangan, bisa menjadi kontra narasi takfirisme Wahabi. Di sinilah Islam moderat menemukan celah dan momentumnya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa doktrin takfirisme Wahabi merupakan sumber munculnya ekstremisme dalam Islam. Sebab, mereka mengafirkan siapa pun yang berbeda dengan mereka, dan menghalalkan darahnya. Karenanya, takfirisme Wahabi yang menjadi sumber ekstremisme Islam harus diberantas dan dihabisi, sehingga citra Islam sebagai agama yang moderat kembali dihargai di mata internasional.

%d blogger menyukai ini: