Penyebaran faham khilafah masih sering terjadi di negeri ini, utamanya di media sosial. Belakang ini, marak terlihat di beranda medsos kita tagar khilafah dengan berbagai macam kalimat. Bahkan hampir setiap hari kata khilafah tersebut muncul. Kita pun yang cinta NKRI dan memperjuangkan ideologi Pancasila menjadi resah atas ulah buzzer khilafah itu. Dan yang ditakutkan adalah masyarakat publik malah mencernanya dengan mudah, hingga salah kaprah.

Namun demikian, kita harus memeranginya agar tidak menjadi wabah baru penyebaran khilafah yang meresahkan publik. Di negeri ini, khilafah diidentikkan dengan HTI yang organisasinya sudah dibubarkan. Walau organisasinya sudah bubar, tetapi orang-orangnya masih bebas hidup yang terus-menerus mengadu domba antara rakyat dengan pemerintah dan bebas membuat keresahan publik di medsos.  

Memang orang-orang pro-khilafah ini terlihat lihai menguasai medsos, walakin dalam realitasnya mereka tidak berani keluar dari sarangnya. Faham khilafah ilegal di negara ini, karena organisasi yang mengusungnya, yakni HTI sudah resmi dibubarkan pemerintahan yang sah, melalui Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Di dunia saat ini, pengusung khilafah adalah kelompok radikal yang berkedok agama, seperti ISIS, Hizbut Tahrir, dan lainnya. Kelompok tersebut sudah terbukti melakukan tindakan radikal yang mengancam setiap negara yang didatanginya. Di negeri ini untungnya kelompok-kelompok itu sudah tidak ada. Namun, kita harus mewaspadai gerakan bawah tanah orang-orang kelompok radikal yang bersembunyi di negara ini, hingga bermetamorfosa ke instansi pemerintahan. Bisa-bisa nantinya akan berdampak buruk bagi kehidupan di masa yang akan datang.

Di sisi lain, kelompok radikal di negeri ini, masih acap kali bermanufer kampanyekan khilafah melalui medsos. Jangan sampai orang-orang pro-khilafah itu menguasai dunia maya, bisa berbahaya nantinya. Dalam pandangan saya, jika seseorang menguasai dunia maya, maka suatu saat nanti orang tersebut dapat menguasai dunia nyata dengan mudah. Karena dunia maya adalah bentuk tidak langsung dari dunia nyata.

Sementara itu, penyebaran faham khilafah di medsos sudah termasuk kejahatan, karena bertentangan dengan Pancasila. Seiring perkembangan zaman, kejahatan saat ini bergeser dan berubah. Sebelum teknologi berkembang, kejahatan itu harus dimulai dengan komunikasi kontak verbal. Sekarang kejahatan bisa dilakukan menggunakan teknologi komunikasi online atau melalui medsos, hal itu disebut dengan kejahatan dunia maya (Hamidin Aji Amin, 2020).

Namun, perkembangan teknologi digital atau teknologi informasi dan telekomunikasi harus kita ikuti dan kita kuasai. Karena jika tidak, kita akan tertinggal jauh dengan orang yang mengikuti perkembangan teknologi. Hal itu menjadi tantangan kita dalam ikut serta mewarnai dan adu gagasan memerangi kelompok pro-khilafah di medsos.

Kita mempunyai peran sentral dalam mewarnai keikutsertaan kita memerangi idiologi khilafah di medsos. Lalu bagaimana cara kita untuk memeranginya? Pertama, mengantisipasinya dengan upaya perkuat literasi diri. Utamanya, menguatkan literasi kebangsaan tentang Pancasila dan ke-Bhinneka Tunggal Ika. Dengan cara itu kita dapat membentengi diri kita terlebih dulu sebelum melakukan perlawanan.

Kedua, setelah membentengi diri kita dengan literasi yang kuat. Kita lalu mengeluarkan dan mengimplementasikan pemikiran kita melalui tulisan dan membagikannya ke semua media. Karena dengan tulisan, kita dapat memengaruhi fikiran seseorang, bahkan dapat merubah dunia, sehingga dunia bisa dalam genggaman kita.

Ketiga, kuasai medsos dari segala sisi. Karena dengan menguasai medsos, kita akan mendapatkan hal baru. Dan jika medsos sudah kita kuasai, maka segala sesuatu tentang teknologi juga akan ikut kita kuasai serta kita akan lebih maju satu langkah kedepan daripada orang yang acuh dengan kemajuan teknologi.   

Dengan demikian, kita sebagai anak bangsa yang peduli terhadap peradaban teknologi dunia dan peduli dengan kemajemukan masyarakat indonesia, sudah seharusnya menjadi kewajiban kita untuk jihad di medsos memerangi buzzer khilafah yang entah bentukan siapa dan tak tahu datangnya dari mana. Alhasil, dengan beradu gagasan melalui medsos, bisa dipastikan kita adalah anak bangsa yang juga ikut berperan dalam kemajuan negeri ini.

Maka dari itu, saya mengajak semua anak bangsa yang dilahirkan di bumi pertiwi ini untuk berperan aktif dan ikut serta memerangi buzzer khilafah. Jika tidak, yang ditakutkan nantinya kalau madsos dikuasai orang-orang pro-khilafah, maka dampak buruknya akan besar bagi kemajuan negara ini. Oleh karena itu, marilah kita semua menggunakan medsos kita dengan bijak, baik, dan benar serta gunakan medsos kita untuk membela kebenaran.

%d blogger menyukai ini: