Saat beberapa bulan setelah kemerdekaan Republik Indonesia, negeri ini dijajah kembali oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Namun, untuk menjajah kembali negeri ini tak semudah apa yang dibayangkan, karena adanya peran dan respons cepat dari para kiai dan ulama NU waktu itu. Ketika itu, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari cepat-cepat mengumpulkan ulama se-Jawa serta Madura, dan menghasilkan fatwa yang terkenal, yakni Resolusi Jihad.

Kemudian para ulama Nusantara mendeklarasikan seruan jihad berperang melawan penjajah. Fatwa itu sukses mengobarkan jiwa para santri dan pemuda untuk berjuang mempertahankan negara. Dari fatwa Resolusi Jihad, para santri sangat siap untuk berperang, karena seruan dan perintah para kiai Nusantara. Lalu seiring berjalannya waktu, perang itupun dimenangkan oleh para santri dan pejuang bangsa.

Kemenangan itu tak lepas dari peran ulama NU yang membantu melalui segala cara. Dari fatwa Resolusi Jihad dan pastinya doa kiai serta ulama NU saat itu. Para pejuang kemerdekaan yang melawan kaum penjajah adalah para kiai, yang merasa mendapatkan ilham dan terpanggil memprakarsai dan memimpin perlawanan (DR. Manfred Ziemek, 1986). Mbah Hasyim juga merupakan seorang ulama pendiri NU, sekaligus pejuang dan pahlawan bangsa.

Maka dari itu, sejarah telah mencatat, bahwa ulama NU adalah seseorang yang turut serta berjuang demi kemerdekaan bangsa. Banyak kisah yang harus kita ambil dari ulama NU terdahulu, yang juga berjuang demi kemerdekaan dan kemaslahatan rakyat. Sebenarnya semua ulama dan kiai NU adalah pejuang bangsa dari dulu sampai sekarang. Dahulu, ulama NU berjuang untuk kemerdekaan bangsa, tetapi saat ini ulama NU berjuang menyelamatkan bangsa dari tindakan radikalisme dan intoleransi.

Perjuangan ulama NU saat ini tak luput dari ulama terdahulu, karena keseluruhan ulama NU sekarang merupakan penerus tongkat estafet ulama-ulama terdahulu. Perjuangan ulama telah berjalan dari waktu ke waktu dan masih setia menemani negeri ini dari hiruk pikuk radikalisme dan intoleransi bangsa serta ulama NU telah berjuang bersama demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bertahannya bangsa ini ternyata tidak mudah, sudah 75 tahun lebih usia negeri ini. Sesaat, pasti selalu ada cobaan, rintangan dan lintangan yang dihadapinya. Dari tindakan intoleransi, radikalisme, terorisme, hingga ingin mengubah ideologi negara. Dan yang menjadi prihatin adalah memudarnya nasionalisme rakyat Indonesia seolah-olah sudah pada ambang kemusnahan. Namun untungnya, negara ini mempunyai organisasi yang menemani dan mampu membendung semua hal tersebut, yakni organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Nahdlatul Ulama merupakan perkumpulan para kiai yang mencoba membangkitkan semangat para pengikutnya dan juga masyarakat Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, kiai NU adalah panutan warga NU (Ali Maschan Moesa, 2007). Sudah lama ulama NU berjuang mempertahankan keutuhan negara dari segala macam ancaman. Saat ini, berjuangnya ulama NU adalah menyelamatkan bangsa dari radikalisme.

Sementara itu, banyak sekali kiai-kiai NU yang saat ini jadi panutan kita semua, walaupun yang sudah tiada sekalipun. Contohnya, Syaikhona Kholil Bangkalan, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Maimun Zubaer, KH. Abdurrahman Wahid. Sedangkan yang masih aktif menyebarkan dakwah Islam, KH. Said Aqiel Siradj, dan ulama-ulama NU yang lain.

Memang di Nusantara kita ini tidak memiliki Rasul maupun Nabi. Tidak ada Rasul dan Nabi yang dilahirkan di bumi Nusantara ini, tetapi sejarah yang kita miliki adalah sejarah orang-orang besar keturunan Rasul dan Nabi (Ensiklopedia Ulama Nusantara, 2019). Namun demikian, kita mempunyai berlimpah ulama yang siap berjuang meneruskan dakwah Nabi.

Oleh karena itu, bagaimana sih peran ulama NU dalam menyelamatkan bangsa dari radikalisme? Pertama, melalui pesantren. Karena para ulama NU yang tersebar di seluruh Nusantara hampir semuanya memiliki pesantren dan mempunyai ribuan santri. Dan jika ditambahkan dari keseluruhan pesantren yang tersebar di Nusantara, pasti jumlahnya ada jutaan santri yang menempuh pendidikan.

Dari pendidikan pesanren yang dimiliki kiai NU. Setiap pesantren NU pasti sistem pengajarannya menggunakan paham yang moderat, sehingga menanamkan benih pemikiran pada santrinya pelajaran Islam yang ramah bukan Islam yang marah. Islam yang merangkul bukan Islam yang memukul.

Kedua, ulama NU itu semuanya mencintai Tanah Air dan tidak akan membiarkan bangsa ini tersusupi oleh paham radikalisme yang akan disebarkan oleh kelompok radikal. Jika ada orang NU yang membenci sesama dan membenci negara, dia bukanlah ulama atau warga NU. Karena kata Mbah Moen, kalau ada orang NU yang membenci NU dia hanya orang yang ngaku-ngaku NU.

Nah dipendidikan pesantren ini santri selain mendapatkan ilmu agama, santri juga akan mendapatkan ilmu kebangsaan yang toleran. Ketika telah mendapatkan ilmu kebangsaan diharapkan santri dapat juga menyebarkan ilmunya ke dalam lingkungan sekitar.

Ketiga, ulama NU kerap kali diundang untuk mengisi ceramah agama di masjid atau tempat-tempat lainnya. Ketika berceramah, pasti kiai NU akan menyebarkan paham toleransi yang menyejukkan hati para pendengarnya, sehingga ceramah itu dapat mudah dipahami. Dan pasti oleh jamaahnya dimanifestasikan ke dalam kehidupan bermasyarakat.

Di NU sendiri jika ulamanya bangkit, maka umatnya juga akan bangkit, sebaliknya jika ulamanya tidak bangkit, maka kebangkitan umatnya tidak akan terwujud. Inilah peran sentral ulama NU. Ulama mempunyai peran keteladanan dan pemberdayaan untuk menjaga dan mencegah munculnya radikalisme dan ekstremisme yang diakibatkan kemiskinan serta lemahnya penegakan hukum (Zuhairi Misrawi, 2010).

Di tengah maraknya konflik antar entnis, suku bangsa, dan agama, para ulama NU tetap menunjukkan loyalitasnya terhadap Indonesia sebagai nation-state dan berkomitmen untuk mempertahankan keutuhan NKRI. Sikap seperti kiai NU ini yang harus kita contoh sebagai wujud kecintaan kita terhadap perjuangan para pendiri bangsa.

Maka dari itu, sudah banyak bukti, bahwa kiai NU adalah ulama penyelamat bangsa dari radikalisme. Saat masa penjajahan hingga sekarang ini perjuangan ulama NU masih sama, yakni menjaga NKRI. Begitupun warga NU, mereka adalah penyelamat bangsa yang telah mengikuti jejak para ulama NU.

%d blogger menyukai ini: