Sosok Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur tentu tak asing kita mendengar namanya, apalagi dengan gagasan toleransi antarumat beragama. Gus Dur bukan hanya tumbuh sebagai seorang anak kyai semata, tetapi ia tumbuh sebagai seorang tokoh kharismatik. Bagi Indonesia dan dunia, sosok Presiden keempat RI itu nomor wahid bila berbicara soal toleransi dan keberagaman.

Pemikiran Gus Dur telah memberikan warna tersendiri dalam dinamika intelektual Muslim di Indonesia. Bagi sebagian kalangan, ia ditempatkan sebagai intelektual muslim progresif, kritis, bahkan terkesan paradoks, inkonsisten, dan kontroversi, tetapi menjadi inspirator bagi masyarakat, terutama mereka kaum minoritas.

Sepanjang hayatnya, Gus Dur kerap melontarkan pemikiran yang melampaui zamannya. Itu sebabnya, ia sering dianggap kontroversial. Padahal, pesan-pesan dan prinsip besarnya berakar pada satu nilai universal, yaitu kemanusiaan. Pemikiran dan tindakan Gus Dur bukan hanya muncul dalam ruang kosong, tetapi terlahir dan dibesarkan dari proses dialektik dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya.

Dalam pandangan Gus Dur, merawat toleransi dan keberagaman merupakan proses penting untuk menciptakan keharmonisan hubungan antarumat beragama. Toleransi itu tidak hanya untuk menciptakan, tetapi juga merawat. Tentunya, Gus Dur sadar betul bahwa keharmonisan harus dijaga, karena akan sulit memulihkan bila sudah retak dan robek. Pandangan Gus Dur ini tak lepas dari keberagaman umat beragama di Indonesia. Bahkan, Indonesia juga ragam akan keyakinan, kelompok, ras, dan etnis. Sebuah negeri di mana semua tumbuh dengan tanpa rasa takut.

Sepak terjang Gus Dur tak dapat dipungkiri memiliki komitmen tinggi dalam hal kemanusian. Upayanya menentang dan juga melakukan ‘pembongkaran’ tembok-tembok diskriminasi kemanusiaan setidaknya telah mengantarkan bangsa ini mampu melek terhadap ketidakadilan yang telah lama dilakukan oleh penguasa, terutama di masa rezim Orde Baru berkuasa kala itu.

Satu contoh upaya Gus Dur ‘membongkar’ tembok diskriminasi adalah mengenai soal kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan keyakinannya. Di era Gus Dur, jumlah agama yang diakui negara bertambah menjadi enam, yakni dengan masuknya Konghucu. Sebelumnya hanya lima agama yang diakui oleh negara, yaitu Islam, Kristen, Protestan, Hindu, dan Budha. Bukan hanya itu saja, Gus Dur juga membebaskan masyarakat Konghucu menjalankan ibadah agamanya dan merayakannya secara terbuka.

Kita tahu, di masa rezim Orde Baru diskriminasi terhadap etnis Tionghoa terjadi. Namun, di era Gus Dur ruang kemerdekaan dalam menjalankan agama dan keyakinannya bagi kaum Tionghoa itu dibuka. Perjuangan Gus Dur mengenai kemanusiaan, toleransi  dan kebebasan menjalankan ibadah jika dilakukan pembacaan secara mendalam melebihi tekstualitas pemikirannya, tentu akan banyak kita temukan nilai-nilai kesadaran dalam beragama yang diajarkan dan diwariskan oleh seorang Gus Dur kepada kita.

Pemikiran dan sikap humanis Gus Dur dalam urusan kemanusian tentu bukan tanpa alasan. Gus Dur tidak buta dalam memahami ajaran agama Islam. Justru berangkat dari keimanan yang dimilikinya itu, Gus Dur menyampaikan gagasan dan sikapnya dengan tidak melepaskan landasan-landasan agama yang menyertai.

Sebagai misal dalam hal keberagaman, Gus Dur memahaminya adalah sebagai keharusan. Bagi Gus Dur, keberagaman itu adalah rahmat yang telah digariskan oleh Allah SWT. Karena itu, menolak keberagaman atau kemajemukan merupakan bentuk pengingkaran terhadap pemberian ilahi. Dari sini, kita kemudian dapat kembali belajar dari Gus Dur yang ramah dan damai dalam mengaktualisasikan teks-teks agama.

Cara-cara semacam ini pulalah yang sesungguhnya diperlukan pada bangsa yang memiliki keberagaman suku, etnis, budaya, bahasa, hingga agama. Beragama dengan penuh kedamaian, menghormati perbedaan, menjunjung keadilan, dan menghargai kemanusiaan, adalah di antara cara beragama dari seorang Gus Dur dalam membumikan ajaran Islam untuk kepentingan umat dan bangsa.

Dengan demikian, dalam perjalanan hidupnya Gus Dur diabdikan untuk merawat keberagaman yang ada di Indonesia. Hal ini tentu menjadi refleksi bagi kita, ketika keberagaman sedang dihancurkan oleh sikap intoleran, radikalisme, dan semangat persatuan dirobek oleh egoisme kelompok atau fanatisme sempit. Maka dari itu, masyarakat perlu menyegarkan kembali spirit dan nilai perjuangan Gus Dur. Karena sejatinya, sosok Gus Dur bukan hanya sebagai tokoh kemanusiaan, tapi juga ikon toleransi di Indonesia.

%d blogger menyukai ini: