Nasionalisme, Benedict Anderson menafsirkan sebagai suatu komunitas politik yang dibayangkan dan diimajinasikan sebagai sesuatu yang terbatas, juga berdaulat. Nasionalisme bersamaan dengan kehadirannya membawa satu peradaban baru, berdirinya negara-negara bangsa (nation-state) di belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Diakui atau tidak, nasionalisme yang kali pertama dipromotori oleh kaum nasionalis Barat ini, banyak sekali membawa peran positif terhadap bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Dengan perjalanan serta diskursus panjang dan alot, nasionalisme Barat dapat menjadi satu dasar konsensus dalam melawan kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah. Yang mana, tidak lain dari melawan penjajah Barat itu sendiri.

Namun, siapa pula yang mengira? Di saat kelompok Islam fundamentalis bernyanyi nyaring dengan suara yang tidak juga menentramkan jiwa, melantunkan lirik-lirik konservatif tentang ketidakselarasan nasionalisme dengan Islam. Ternyata, Nabi Muhammad SAW sendiri adalah sosok yang Nasionalis. Ya Allah jadikan kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Mekkah, bahkan lebih darinya, (HR. Imam an-Nasa’i).

Nabi Muhammad adalah pribadi yang sangat mencintai Mekkah, negeri di mana beliau dilahirkan. Bagi beliau, mencintai Mekkah adalah keniscayaan. Imam ad-Zahabi, pakar sejarah masyhur sebagaimana dalam kitabnya Siyar A’lami Nubala menggambarkan Nabi Muhammad sebagai pribadi yang mencintai Tanah Airnya (nasionalis), “Rasulullah SAW adalah sosok yang mencintai Aisyah, mencintai ayah Aisyah, mencintai Usamah, mencintai kedua cucunya, menyukai manis-manis dan madu. Mencintai gunung Uhud, mencintai Tanah Airnya, dan mencintai para sahabat Anshor.”

Hal ini mengindikasikan, walau secara eksplisit Nabi Muhammad SAW tidak menyebutkan mengenai pentingnya nasionalisme, akan tetapi secara emplisit para ulama berijtihad, menginterpretasikan terhadap beberapa ayat al-Quran dan Hadis, bahwa nasionalisme dianjurkan oleh Islam. Karena, hakikat dari nasionalisme itu sendiri adalah kemanusiaan. Mencari kedamaian dalam berbangsa-bernegara, menjunjung persatuan, mencintai tanah kelahiran, dan menyangkal perpecahan. Ernest Renan (1823-1892), sebagaimana menafsirkan nasionalisme sebagai unsur yang dominan dalam kehidupan sosial-politik sekelompok manusia. Dan telah mendorong terbentuknya suatu bangsa guna menyatukan kehendak untuk bersatu.

Riskan memang, jika kita melibatkan nasionalisme (kebangsaan) dengan Islam tanpa dilandasi pemahaman tentang dua diskursus ini yang mendalam. Namun, bukan berarti tidak mungkin, bahkan sangat mungkin. Mufaizin dalam Nasionalisme dalam perspektif al-Quran dan Hadis mengatakan, mengaitkan Islam dengan kebangsaan dapat dilihat dari dua perspektif. Perspektif pluralisme dalam persatuan dan perspektif universalisme.

Islam memiliki sejarah panjang dan bahkan menjadi penggagas negara kebangsaan pertama di dunia. Yakni negara Madinah, negara yang diproklamirkan oleh Nabi Muhammad SAW. Pun demikian dalam perspektif universalisme, Manshur (2001) berpendapat kebangsaan bertentangan dengan Islam. Sebagai agama universal, Islam tidak membatasi peruntukan bagi wilayah geografis dan etnis tertentu.

Namun juga, Islam tidak menafikan kenyataan bahwa setiap orang mempunyai afiliasi terhadap Tanah Air tertentu. Karena itu, dapat kita simpulkan, bahwa Islam memang tidak bertanah Air, tetapi umat Islam sebaliknya. Dan oleh sebab itu, umat Islam berkewajiban memiliki rasa nasionalisme, menjaga harkat dan martabat bangsanya. Lantaran hakikat dari umat Islam adalah mengimplementasikan dalam realitas misi rahmatan lil ‘alamin.”

Yang demikian, Nabi Muhammad SAW sudah jauh-jauh hari sebelum nasionalisme Barat ada telah mempraktikkannya. Memang, sebagaian pemikir politik Islam berlainan pendapat dalam hal ini. Yang satu berspekulasi bahwa hanya nasionalisme yang berorientasi pada Barat (sekuler), yang dapat dijadikan energi dalam melakukan perubahan sosial-politik di dunia Islam. Dan yang satu lain, menolak dengan verbal semua konsep nasionalisme, seperti yang pernah diutarakan oleh Shidip al-Jawi eks tokoh HTI. Ia berpendapat nasionalisme menjadi sumber, biang keladi kehancuran persatuan umat Islam di dunia.

Namun, ada pula sebagian yang netral. Tidak mau menerima sekonyong-konyong nasionalisme sekuler ala Barat, pun tidak pula serta merta menolak konsep nasionalisme secara keseluruhan. Nahdlatul Ulama (NU), misalnya. NU yang merupakan wadah persekumpulan para ulama yang ‘alim dan kompatibel dalam hal Islam dan kebangsaan berpendapat, hakikat nasionalisme adalah berpihak pada kepentingan seluruh warga bangsa-negara, tanpa terkecuali. Konsep ini selaras dengan konsep Nabi Muhammad SAW dalam menjalankkan roda pemerintahan di Madinah. Dalam artian, sebagimana Mugiyono dalam Relasi Nasionalisme dan Islam serta Pengaruhnya Terhadap Kebangkitan Dunia Islam Global mengartikan, bahwa nasionalisme yang dipahami demikian tidak bertentangan dengan Islam, justru menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam ajaran Islam secara universal.

Karena itu jelas, dalam Islam konsep nasionalisme tidak bertentangan, selagi penafsiran nasionalisme itu tidak chauvinistic. Nabi Muhammad SAW, sebagaimana pengimplementasiannya dalam negara Madinah dan kerinduannya kepada Mekkah, tanah kelahirannya, telah memberi kita pelajaran, bahwa nasionalisme itu tidak salah, apalagi bertentangan dengan Islam.

Menjadi Muslim yang kaffah dan merajut lagi kejayaan masa kelam, bukan berarti mesti mendirikan kembali imperium khilafah. Banyak jalan lain, dengan mencintai Tanah Air kita (nasionalisme) misalnya, menjunjung persatuan, meraih cita-cita luhur bangsa bersama, dan menghormati perbedaan. Seperti Nabi Muhammad SAW, yang beliau praktikan dalam membangun tatanan masyarakat yang Madani di negara Madinah. Yang mana, antara umat Islam, Yahudi, Kristen, dan yang lainnya hidup beriringan, menjunjung tinggi persatuan, dan perbedaan!

%d blogger menyukai ini: