Islam dan cinta itu ibarat cermin yang senantiasa memantulkan bayangannya. Di sudut manapun Islam berada, cinta selalu terpancar pada setiap ajarannya. Manusia membutuhkan cinta karena bisa memberikan harapan untuk meraih sesuatu yang lebih baik. Sebab cinta itu, Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin bertanggung jawab memberikan petunjuk, kedamaian, keadilan, dan kebahagiaan yang hakiki, baik kepada pengikutnya maupun seluruh manusia. Dengan ini kita bisa melihat betapa perlunya umat Islam bermadzhab cinta.

Dalam khazanah Islam, istilah madzhab cinta pada umumnya dilekatkan pada kalangan tasawuf atau sufi. Pasalnya kalangan ini disebut-sebut sebagai orang yang sepenuhnya menghambakan diri kepada Tuhannya dengan  menjauhi hal-hal yang bersifat duniawi. Imam As-Syubli dan Ibnu ‘Athoillah adalah dua orang yang perkataannya selalu menjadi referensi para sufi di zamannya, mengatakan cinta sejati dan yang sebenarnya itu tumbuh dari sesuatu yang tunggal, seperti keyakinan harus Esa karena bila cinta digandakan ia tidak bisa dimurnikan.

Kalangan tasawuf menjadikan cinta sebagai sandarannya madzhabnya. Karena mereka sadar manusia tak bisa lepas dari cinta. Cinta adalah hiasan dari sifat dasar manusia. Dengan ini Allah SWT berfirman, Dihiasi manusia dengan rasa cinta, syahwat terhadap wanita (lawan jenis), anak, harta yang menggunakan timbang-menimbang, emas dan perak, kuda tunggangan (kendaraan) peternakan dan pertanian. Itulah semua perhiasan dunia. Dan Allah adalah tempat kembali yang terbaik (QS. Ali-‘Imran: 14).

Pada ayat tersebut, dijelaskan tentang ketertarikan manusia yang tertuju pada sifat keduniawian adalah sifat lahiriah manusia dan itu wajar. Namun, cinta duniawi yang berlebihan kadangkala membuat manusia tak terkendali selalu mencari kepuasaan yang tak pernah berkesudahan. Demi memuaskan syahwatnya, seorang akan bernyali masif untuk melakukan apapun, entah yang dikorbankannya adalah orang atau yang bersifat materi. Hal ini mesti diingat bahwa duniawi itu cinta yang fana’ (rusak atau tidak abadi) kerap kali membawa dampak negatif. Sedangkan tempat kembali cinta yang baik adalah yang tertuju kepada Allah SWT.

Namun modern kini, tuduhan terhadap anti-duniawi yang mengembalikan cinta hanya pada Tuhan, justru menjadi alibi yang mengkambing-hitamkan dunia tasawuf. Kalangan sufi ditengarai mengakibatkan kemunduran zaman, khususnya bagi umat Islam. Mengingat karakter sufi yang dinilai bertentangan dengan semangat kemajuan dan anti-duniawi. Padahal, perkembangan sains, teknologi, dan pembentukan peradaban yang juga membutuhkan materialistik.

Meski sudah terlanjur menyebar di lapisan banyak masyarakat. Asumsi seperti ini sungguh tidak masuk logika karena mereka pasti tidak membaca sejarah tasawuf. Faktanya Umar bin Abdul Aziz adalah seorang kepala negara yang arif dan bijaksana sekaligus sufi di masa Daulah Umayyah. Kemudian Imam Syafi’i seorang faqih yang jenius  dan guru perempuannya Sayidah Nafisah yang juga seorang sufi.

Seorang Muslim yang bermadzhab cinta, akan tercermin dalam dirinya sikap akhlakul karimah. Menurut Said Aqil Siradj dalam buku Islam Madzhab Cinta, pada perkembangannya segala sesuatu yang bernilai positif atau berunsur akhlakul karimah, seperti menghormati, menolong, memerintah kebaikan dan mencegah kemungkaran, bertanggung jawab dan lainnya. Jika perkara tersebut ditekuni dan disertai ketulusan dari hati hanya mengharap ridha Tuhan, maka akan menjadi tasawuf (2015: h. 17). Jadi ajaran tasawuf itu bukan tentang dzikirullah semata.

Berkiblat pada madzhab Islam cinta tidak harus menjadi sufi atau kalangan tasawuf. Karena ajaran tasawuf sebenarnya adalah sebuah sikap moral dan hati dalam mencari hakikat kebenaran yang sejati. Dengan bermadzhab Islam cinta, seorang mestinya lebih mampu seimbang dalam menekuni kehidupan, baik dunia maupun akhirat. Sebab tujuan manusia diciptakan itu untuk beribadah pada Tuhannya. Bukankah Tuhan itu ada di dunia dan akhirat, lalu kenapa kita harus memberatkan salah satunya?  

Sebagaimana Gus Dur, salah seorang tokoh di Tanah Air yang pernah menjabat sebagai presiden RI merupakan Muslim inspiratif. Konon sifat sufistiknya yang sangat melekat, membuatnya di sebut sebagai wali yang teguh memegang sikap toleransi. Ketika Gus Dur melihat etnis Tionghoa didiskriminasi dan tidak memiliki kebebasan dalam beragama oleh antar kelompok, justru Gur Dus memberikan hak yang setara seperti orang Muslim lainnya. Bahkan, ia membolehkan Tionghoa merayakan Hari Raya Imlek. Ia juga bukan seorang yang mati-matian mempertahankan jabatan, Bagi Gus Dur semua jabatan itu sementara.

Sejatinya umat Islam yang memahami cinta dengan hakikat yang benar, murni untuk Allah SWT ia adalah orang yang pandai dalam menjalani kehidupan dengan tanpa beban. Akal mempunyai logika, begitu juga dengan cinta. Namun akal tak bisa menggabungkan sesuatu yang bertolak belakang, lain halnya dengan cinta yang bisa menggabungkannya. Sebab cinta, betapapun banyak perbedaan dalam pandangan manusia, niscaya ia akan tetap mengupayakan cara untuk berdamai dan mencari alternatif untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.

Demikian agama Islam mengajarkan umatnya untuk mengenal cinta. Hendaknya kini segala cinta yang dimiliki perlu diluruskan kembali. Sebagaimana para sufi yang menganut madzhab cinta, bahwa cinta yang dapat menjernihkan hati dari segala keburukan adalah cinta yang tertuju pada Tuhannya. Semoga kita dapat menuju dan menggapai cinta-kasih dari Allah SWT. Amin

%d blogger menyukai ini: