Setiap kejadian intoleransi di negeri ini tak lekang dari isu keragaman. Masyarakat multikultural mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang kepercayaan yang dimilikinya dengan kepercayaan orang lain. Dalam realitasnya, masyarakat selalu mengklaim kebenaran absolut (absolute truth-claims), antar kepercayaan yang saling berseberangan. Maka dari itu pluralisme diperlukan untuk menengahi perbedaan keyakinan tersebut.

Timbulnya ketidakpercayaan setiap individu tentunya memunculkan perpecahan antar manusia. konflik yang tidak diinginkan pasti datang jika pluralisme tidak terjaga. Dan menimbulkan tindakan radikal yang bisa dimanfaatkan oleh sekelompok atau golongan tertentu. Pluralisme bangsa ini menjadi hal penting untuk dipelajari sejak dini, karena dengan pluralisme kita dapat memahami pentingnya perbedaan sesama anak bangsa.

Saat ini masyarakat menilai bahwa keyakinannya adalah yang paling benar. Hal itu tidak menjadi masalah. Namun jika masyarakat berlebihan dalam meyakini segala sesuatu, maka kemunculan fundamentalisme tak terhindarkan serta akan menimbulkan tindakan intoleransi dan radikalisme. Peristiwa itu sangat berseberangan dengan asas dan teori-teori sosial serta bertentangan dengan Pancasila.

Pluralisme merupakan suatu kondisi sosial dari keragaman etnis, bahasa, suku, agama, ras, dan lainnya, yang rela mempertahankan ciri khasnya dan tetap berpartisipasi terhadap masyarakat yang majemuk (Webster, 1976). Maksudnya adalah dari pluralisme masyarakat bisa hidup berdampingan dengan memegang teguh keyakinannya untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bersama.

Namun perpecahan yang sering terjadi di ngeri ini, disebabkan oleh perbedaan antar agama dan etnis. Perbedaan agama dan etnis dijadikan alasan untuk memecah belah bangsa. Biasanya alasan itu digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu. Kelompok atau seseorang yang tidak ingin negeri ini bersatu adalah mereka yang intoleran dan radikal serta pasti akan menolak penyebaran pluralisme.

Bangsa ini sendiri telah memiliki tokoh terkenal yang memperjuangankan pluralisme, yakni Presiden keempat, Gus Dur. Gus Dur menyandang sebagai bapak pluralisme Indonesia, karena jasanya yang tak terlupakan, membela hak-hak rakyat yang tertindas dan kelompok minoritas. Saat menjabat menjadi Presiden, Gus Dur telah banyak mereformasi aspek kehidupan dan kemanusiaan.

Ketika itu, Gus Dur mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 6 Tahun 2000 Tentang Pencabutan Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Kepedulian Gus Dur terhadap kemanusiaan banyak diapresiasi publik, sehingga mendapat sebutan bapak pluralisme bangsa. Beruntungnya kita, karena Gus Dur pernah menjadi Presiden RI. Mungkin jika Gus Dur tak pernah menjadi Presiden, bisa jadi pluralisme tak akan berkembang di negeri ini.

Saat ini pluralisme telah berkembang di negeri ini, karena banyak orang-orang yang memperjuangkannya. Namun kita tak boleh menganggap negeri ini sudah aman, lantaran masih banyak juga di luar sana yang ingin merusak kemajemukan ini demi kekuasaan suatu kelompok yang dapat merugikan banyak orang. Memperjuangkan pluralisme otomatis bersinggungan dengan masalah Hak Asasi Manusia (HAM). Karena pejuang pluralisme selalu memakai alasan HAM untuk membendung segala bentuk benturan yang terjadi di masyarakat. Maka dari itu, kita harus menjunjung tinggi toleransi, karena toleransi akan menjadi dasar dari jiwa pluralisme.

Di sisi lain, jika kelompok radikal atau intoleran menguasai negeri ini, maka berdampak kepada semua kehidupan. Mereka pasti menimbulkan perubahan yang cepat terhadap kemajemukan yang sudah terjalin. Semua itu tak lepas dari tanggung jawab kita sebagai anak bangsa untuk membendung kelompok intoleran dan radikal yang hidup di NKRI. Paling tidak, untuk meredam berbagai fenomena kekerasan dan intoleransi antar umat beragama di negeri ini yang sewaktu-waktu muncul, kita harus bersatu bersama melawannya.

Dengan pluralisme kita akan diarahkan untuk lebih mudah memberikan toleransi terhadap adanya perbedaan yang terjadi di masyarakat. Karena pluralisme sudah menjadi pondasi dari persatuan dan kesatuan negeri ini. Kondisi masyarakat yang toleran memudahkan kita untuk menanam benih pluralisme yang telah diajarkan Gus Dur.

Dengan demikian pluralisme merupakan salah satu solusi negeri ini, yang harus kita lakukan dan sebarkan. Memanifestasikan nilai-nilai yang terkandung dalam sila Pancasila juga salah satu bentuk solusi untuk memerangi faham radikalisme. Semoga ke depannya pluralisme dan toleransi menjadi tren bangsa ini demi mewujudkan kedamaian masa kini dan masa depan. Indonesia adalah milik kita bersama yang harus dijaga.

%d blogger menyukai ini: