Penangkapan ulama-ulama wahabi telah berlangsung sejak Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) diangkat sebagai putra mahkota Arab Saudi. Banyak ulama wahabi yang sekian lama menyokong kekuasaan Saudi, ditangkap dan dipenjara tanpa melalui proses pengadilan. Wahabisme ditengarai sebagai kelompok radikal oleh MBS yang menghambat proses kemajuan dan modernisasi yang sedang gencar-gencarnya dibangun oleh Saudi.

Wahabisme adalah gerakan keagamaan yang mengusung puritanisme Islam dan menebarkan benih-benih radikalisme dan ekstremisme. Dasar-dasar teologisnya dibangun oleh Muhammad bin Abdul Wahab, seorang teolog dari keluarga ulama bermadzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Lahir di Uyainah, Najd, Arab Saudi pada tahun 1702, dan meninggal pada tahun 1792.

Sejak kecil, ia belajar teologi, tafsir, hadis kepada ayahnya. Selain itu, ia belajar hadis pada al-Sindi dan Ibnu Sayf di Madinah. Lalu, ia belajar hadis dan fikih ke Muhammad al Majmu’i di Basrah, Irak. Setelah dari Irak, ia menetap di Huraymila, tempat kelahiran ayahnya. Ia juga sangat menggandrungi kajian tentang tawhid dan akidah. Di kota inilah, ia menulis Kitab al-Tawhid yang kemudian dikenal di seantero Najd, yang tengah dalam pergulatan konflik politik.

Secara genealogis, pandangan-pandangan Muhammad bin Abdul Wahab dipengaruhi oleh madzhab Hanbali dibanding madzhab Syafi’i, Maliki, dan Hanafi, yang lebih menggunakan nalar dibanding hukum Islam. Mazhab Hanbali dikenal sebagai salah satu madzhab yang lebih mengedepankan al-Quran, Sunnah, dan pandangan salaf dalam mengambil kesimpulan hukum, terutama terkait pembahasan masalah ritual dan sosial.

Gagasan utama Muhammad bin Abdul Wahab adalah ummat Islam dianggap telah melakukan kesalahan dan menyimpang dari jalan Islam yang lurus. Sebab itu, ummat Islam perlu kembali kepada al-Quran dan Sunnah agar diterima dan diridhai oleh Allah SWT. Dengan semangat puritan inilah, Abdul Wahab hendak membebaskan ummat Islam dari semua perusakan yang diyakininya telah menggerogoti agama Islam.

Karenanya, wahabisme mengusung tiga ideologi utama, yakni tawhid, takfir, dan jihad. Dalam teologi ketuhanan, mereka memahami pentingnya tawhid uluhiyyah, yaitu pemurnian atas konsep Tuhan yang tidak bisa disamakan dengan apapun dan tidak boleh mengimaninya melalui perantara apapun (tawassul). Siapapun yang beribadah melalui perantara, maka orang tersebut tergolong musyrik. Tentu lain halnya bagi kalangan Ahlussunnah wal Jamaah yang membolehkan tawassul dalam praktik ibadahnya.

Selanjutnya, ideologi takfir yang menjadikan mereka mudah sekali mengafirkan siapapun yang tidak murni dalam menyembah Tuhan. Mereka juga membenci tradisi Barat dan melarang setiap Muslim makan roti dan daging. Bagi setiap Muslim yang melakukan hal itu, ia dianggap kafir. Lebih parah lagi, wahabi kerap mengafirkan kebiasaan ummat Islam, seperti mendengarkan musik, menonton tv, melukis, memotret, dan lain-lain. Alasannya, kebiasaan tersebut dapat mereduksi tawhid, karena melestarikan tradisi non-Muslim. Jika ini diteruskan, maka tak ada ruang bagi kemajuan dan pembaharuan. Sebab, semua hal yang baru dianggap kafir oleh wahabisme.

Terakhir, wahabisme memiliki doktrin jihad sebagai basis ideologi utamanya, yang merupakan implementasi dari pemikiran sebelumnya, yaitu tawhid dan takfir. Jihad, secara spesifik dimaknai sebagai perang bagi wahabi. Menurut doktrin wahabi, hukum jihad adalah fardhu kifayah. Karena itu, setiap Muslim hendaknya melaksanakan perang minimal satu kali dalam setahun. Namun, tidak diperkenankan perang pada musim haji. Tentu ini doktrin yang sangat radikal dan pastinya konyol.

Alasan-alasan inilah yang menyebabkan wahabisme disebut sebagai embrio lahirnya Muslim radikal. Melalui tiga ideologi tersebut, menjadikan pengikut wahabisme bisa mengarah pada tindakan-tindakan radikal dan ekstrem. Bahkan, bisa disebut sebagai ideologi yang melahirkan terorisme.

Dalam sejarahnya, konsepsi tawhid dan takfir ini memiliki konsekuensi yang logis, yaitu pengafiran terhadap kaum sufi, syi’ah, dan pengikut Dinasti Ottoman. Menurut Khaled Abou el Fadl, dari tahun 1802-1806, terdapat kurang lebih 40.000 orang divonis mati dan 350.000 orang diamputasi.

Menurut Abdul Wahab, sebagaimana dikutip Khaled Abou el Fadl, ummat Islam yang melakukan perbuatan syirik harus ditentang dan dibunuh. Ia menafsirkan hal tersebut atas preseden yang dilakukan oleh Abu Bakar dalam memerangi dan membunuh banyak orang munafik, meski mengerjakan lima rukun Islam.

Dengan argumen itulah, para pengikut wahabisme dibenarkan membunuh musuh yang juga Muslim. Atas dasar itu pula, Ibnu Sa’ud pernah mengeluarkan fatwa jihad melawan Dinasti Ottoman dengan menggunakan fatwa Muhammad bin Abdul Wahab. Para pengikut Ottoman dan seluruh ummat Islam yang melakukan syirik dan menjadi munafik adalah kafir yang layak dibunuh. Ironis, tapi begitulah kenyataannya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa, wahabisme, selain penyebab munculnya Muslim radikal dan ekstrem juga merupakan paham yang sangat rigid, tidak mudah menerima perubahan, kemajuan, dan pembaharuan yang sangat mendasar. Mereka mudah sekali mengeluarkan fatwa haram, seperti musik haram, patung haram, ziarah kubur haram, tahlilan haram, dan sejumlah praktik ibadah lain yang dinilainya bid’ah dan haram. Wahabisme juga sangat anti terhadap budaya Barat dan apapun yang berkaitan dengan Barat, sehingga di Arab Saudi, bioskop pun tidak ada hingga saat ini.

Belakangan, wahabisme berkembang pesat menjadi ideologi global akibat penetrasi yang dilakukan oleh Arab Saudi dalam menyebarluaskan wahabisme ke seantero dunia sejak tahun 1975. Taliban, al-Qaeda dan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), yang merupakan organisasi teroris, adalah buah pengaruh pemikiran dari wahabisme. Bahkan, yang disebut terakhir merupakan organisasi teroris yang paling kejam dalam sejarah terorisme, karena mereka tidak lagi menjadikan Barat sebagai musuh utama, melainkan rezim yang sah pada setiap negara. Bahkan, mereka menghalalkan pembunuhan yang sangat sadis terhadap siapapun yang tidak setuju kepada mereka.

Dengan demikian, jelaslah bahwa wahabisme merupakan embrio lahirnya kelompok Muslim Radikal. Sebab, wahabisme mengusung puritanisme Islam yang menyebarkan radikalisme, ekstremisme, bahkan terorisme.

Dengan ideologi tawhid, takfir, dan jihad, wahabisme menghalakan darah siapapun yang tak sejalan dengan ideologinya, baik dari kalangan sesama Muslim sendiri maupun non-Muslim. Al-Qaeda dan ISIS adalah contoh paling nyata yang lahir dari paham wahabisme. Sudahkah kita menyadari hal ini?

%d blogger menyukai ini: