Era keemasan Islam (Golden Age Era) di rentang abad 8 M-13 M, menjadi salah satu produk yang kerap dipasarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk memikat hati masyarakat agar sepakat untuk menegakkan khilafah. Agaknya, klaim bahwa khilafah akan mengantarkan umat Islam pada kemajuan peradaban perlu dikoreksi. Anggapan demikian adalah fallacy atau sesat pikir yang menghasilkan logika melenceng.

Faktanya, serangkaian etape peradaban dunia ini dipelopori oleh ilmu pengetahuan. Generasi klasik, seperti peradaban Yunani, Romawi, Persia, dan India menjadi unggul karena muncul tradisi berpikir yang menjadikan ilmu berkembang dan tumbuh subur.

Periode klasik Yunani menjadi titik lahirnya pondasi filsafat, ilmu logika, dan konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan lain. Sementara itu, India dan Persia adalah peradaban pertama yang menemukan angka, penghitungan kuadrat, ilmu astronomi. Dasar teorema pythagoras juga diinisiasi oleh seorang filsuf bernama Baudhyana dari peradaban kuno ini.

Bukankah wahyu pertama yang Allah SWT turunkan adalah perintah membaca? Hal ini bisa dipahami sebagai petunjuk bahwa ilmu memiliki peran penting bagi eksistensi manusia. Manusia mendapat mandat untuk memakmurkan bumi dan isinya. Dan Tuhan, dalam firman pertamanya telah memberi isyarat, bahwa pengetahuan adalah modal utama untuk memutar roda kehidupan.

Tak ubahnya peradaban klasik. Periode gemilang Islam yang telah memberikan sumbangsih besar pada dunia juga dimotori oleh ilmu pengetahuan. Pendahulu kita saat itu memiliki kesadaran dan kepedulian tinggi untuk mewujudkan Islam yang unggul dan maju. Mereka mencurahkan perhatian khusus untuk pengembangan ilmu dengan digalakkannya penerjemahan naskah dan manuskrip peninggalan peradaban klasik.

Ketika di Damaskus, Islam mendapat pengaruh kuat dari Yunani dan Romawi. Peralihan pusat pemerintahan dari Damaskus ke Baghdad telah melengkapi khazanah warisan peradaban kuno. Baghdad sendiri adalah kota padat peradaban yang dulu kita kenal dengan nama Mesopotamia. Letak ini strategis karena Islam mendapat pengaruh pula dari peradaban Persia dan India. Dengan ini peradaban Islam menjadi muara berkumpulnya warisan era klasik.

Kerja kolektif dari satu periode pemerintahan Islam ke periode lain, mencapai puncak kegemilangan pada masa khalifah Harun al-Rasyid dan putranya al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah. Imam Suyuthi mengabarkan bahwa Harun adalah khalifah yang taat beribadah, mencintai ilmu dan ulama, serta gemar bersedekah dan bershalawat.

Kecintaannya tadi dibuktikan dengan pembangunan perpustakaan legendaris, Bait al-Hikmah. Lumbung ilmu ini yang menjadi cikal bakal kegemilangan dunia ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam. Melalui Bait al-Hikmah, terwujud institusionalisasi perintah pertama Allah: Iqra’! (Bacalah). Beragam diskusi, penerjemahan, penelitian, dan pengembangan teknologi ramai digalakkan. Geliat intelektual yang dinamis ini yang kemudian melahirkan banyak tokoh dan ilmuwan Islam kenamaan.

Al-Makmun juga merupakan khalifah yang melilki concern tinggi pada perkembangan sains. Nadirsyah Hosen dalam Islam Yes, Khilafah No!, memberikan ilustrasi bahwa dana riset yang digelontorkan al-Makmun kepada Bait al-Hikmah setara dengan dua kali dana Medical Research Centre di Inggris saat ini. Tentu bukan nominal yang sedikit. Ilmuwan kala itu menemui kebahagiaannya atas kedermawanan sang khalifah. Tidak demikian dengan kalangan ulama yang menjauhi dan kurang menyukainya tersebab peristiwa mihnah (inkuisisi).

Rekam sejarah ini telah memberikan legitimasi yang kuat bahwa lokomotif peradaban adalah ilmu pengetahuan. Tanpa adanya kesadaran dan perhatian lebih pada ilmu pengetahuan, akan sulit untuk melihat fajar baru kebangkitan peradaban Islam.

Untuk meraih kembali keunggulan peradaban, diperlukan pembacaan secara menyeluruh terhadap khazanah kejayaan Islam. Hal tersebut adalah upaya konstruktif-obyektif untuk menghindari bentuk perlawanan destruktif terhadap peradaban yang sedang mendominasi saat ini.

Umat Islam harus arif dan tahu diri, bagaimana cara merumuskan strategi untuk bersaing sehat dengan peradaban modern. Perjuangan secara kultural dan intelektual jauh lebih masuk akal dan minim resiko.

Adapun perjuangan politis untuk menggilas peradaban Barat seperti yang dikehendaki HTI dengan pendirian khilafah versi mereka, hanya akan memunculkan ‘benturan peradaban’ dan sangat rawan korban, sebagaimana teori Samuel Huntington (1993) yang menyebut hal demikian dengan Clash of Civilizations.

Perjuangan menaklukkan peradaban dengan menyelami samudera ilmu adalah perjuangan sportif dan jauh lebih terhormat. Nash-nash al-Quran serta hadis telah menjamin kemuliaan ilmu dan para pencarinya. Sebagai contoh Allah berfirman dalam Q.S. Al-Mujadalah [58]: 11, “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang menuntut ilmu.”

Agar tidak timpang, Islam menekankan pentingnya integrasi ilmu dan iman. Keduanya harus seiring sejalan agar membentuk peradaban yang berkeadaban. Puncak dari ilmu adalah adab dan moral. Dan iman (agama) adalah instrumen yang akan mengantarkan ilmu pada puncak tersebut. Sebagaimana tergambar dari figur Harun al-Rasyid, di mana apresiasi terhadap ilmu dibarengi dengan spiritualitas dan kesadaran rohani, yang kemudian membawa Islam menjadi pemegang obor estafet puncak peradaban yang menerangi dunia.

Perlu diketahui, kemajuan Islam saat itu adalah peradaban yang menjembatani Barat mencapai Renaisance dan Enlightenment pada abad pertengahan. Hal ini seharusnya memunculkan psikologi optimis bagi umat Islam, bukan malah membuat kita bersikap kekanak-kanakan dengan menjadikan Barat dan modernisme sebagai musuh bebuyutan.

Ilmu dan iman akan membentuk mata rantai peradaban. Kebanggaan yang mengurat syaraf atas sejarah keunggulan Islam tanpa dibarengi kesadaran dan langkah yang membangun, hanya akan membuat kita jalan di tempat karena terjebak di ruang nostalgia.

Khilafah bukan wasilah (medium) untuk menjemput kemajuan. Menempatkan khilafah sebagai langkah dan prasyarat untuk meraih kegemilangan peradaban adalah jumping conclusion yang nyata dilakukan oleh HTI. Ilmu adalah cahaya dan iman (agama) adalah kompasnya. Kedua hal tersebut yang harus diperhatikan dan digarap dengan seksama oleh setiap Muslim dalam upaya untuk menaklukkan kembali peradaban, bukan khilafah. Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: