Raden Rahmat, putra Syekh Ibrahim al-Samarkandi, yang akrab disapa Sunan Ampel adalah tokoh walisongo tertua di Jawa. Sunan Ampel berperan penting dalam menyebarluaskan dakwah Islam di Jawa dan beberapa wilayah di Nusantara. Namun, usaha dakwah Islam Sunan Ampel tidak lantas diterima masyarakat. Sabar dan ulet merupakan dua hal yang diperjuangkannya dalam menghadapi tantangan dakwah.

Sebelum datang ke Majapahit, Raden Rahmat telah singgah selama dua bulan di Palembang, saat Arya Damar menjadi Adipati Palembang. Menurut Thomas W. Arnold dalam The Preaching of Islam (1977), Raden Rahmat menjadi tamu selama dua bulan dan sempat menyampaikan dakwah Islam kepada Arya Damar. Ketika Arya Damar hampir masuk Islam,  Ia tidak menyatakan keislamannya di hadapan umum, sebab risiko tindakan rakyatnya yang terikat kepercayaan lama. Dalam buku berjudul Atlas Walisongo, Kiai Agus Sunyoto menyebutkan, setelah masuk Islam, Arya Damar memakai nama Ario Abdillah.

Pada abad ke-15, Raden Rahmat datang ke Majapahit, tepatnya sebelum Kerajaan Champa (kampung halamannya) ditaklukkan oleh Raja Koci, pada tahun 1446 Masehi, yakni jatuhnya Champa akibat serbuan Vietnam. Raja Majapahit melarang Raden Rahmat untuk kembali ke kampung halamannya, sebab Champa sudah rusak akibat kalah perang dari kerajaan Koci. Raden Rahmat kemudian ditempatkan di Surabaya, diangkat resmi sebagai imam dengan gelar Sunan, dan kedudukan wali di Ngampel Denta.

Sunan Ampel kerap disebut sebagai guru para wali di Jawa, sebab melalui Pesantren Ampel Denta, ia berperan besar dalam mendidik kader-kader penggerak dakwah, seperti Sunan Giri, Raden Patah, Raden Kusen, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Kemudian menikahkan juru dakwah Islam dengan putri-putri penguasa bawahan Majapahit.

Mau’idzoh hasanah wal Mujadalah billalti hiya ahsan adalah dua metode dakwah Sunan Ampel. Memberi kepuasan kepada jiwa-jiwa sasaran dakwah dengan nasihat, pengajaran, dan teladan yang baik, yakni menampilkan Islam ramah, bukan marah. Serta menyampaikan kebaikan dengan cara perdamaian, bukan kekerasan. Kedua, mujadalah atau bertukar pikiran (dialog) yang rasional, berdasar, dan bersifat objektif, tanpa melukai perasaan masyarakat setempat.

Meski demikian, masih saja ada orang-orang yang menolak, bahkan berniat untuk membunuh Sunan Ampel. Di antaranya adalah penguasa Madura bernama Lembu Peteng. Tidak cukup dengan mengusir kedua utusan Sunan Ampel, Khalifah Usen dan Syekh Ishaq, dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, Lembu Peteng datang ke Ampeldenta, menyamar dan berbaur dengan santri. Saat shalat Isya akan dimulai, Lembu Peteng bersembunyi di tempat wudhu. Ketika melihat Sunan Ampel, Ia segera menikamnya dengan sebuah keris dan menghunusnya, tetapi gagal.

Dalam melaksanakan sholat, Sunan Ampel juga sempat ditertawakan sebab gerakan ibadah yang dianggap aneh oleh masyarakat. Bahkan, Babad Tanah Jawi menuturkan, walaupun masyarakat mencelanya sebab memilih-milih makanan, tidak memakan babi dan katak, Sunan Ampel tetap sabar dan tidak marah.

Pada usia senja, Sunan Ampel menjadi tokoh sesepuh walisongo yang dihormati masyarakat luas, sebab kesabaran dan keuletannya menyampaikan semangat dakwah Islam. Namun, tidak ada keseragaman yang mencatat kapan tokoh asal Champa itu meninggal dunia. Babad ding Gresik mencatat Sunan Ampel wafat pada tahun 1479 Masehi, sedangkan Serat Kandha mencatat Sunan Ampel wafat pada tahun 1406 Masehi. Meski tidak ada kepastian kapan tepatnya Ia meninggal, tetapi makamnya yang terletak di samping masjid Agung Ampel, kini ramai oleh para peziarah dari segala penjuru Tanah Air.

%d blogger menyukai ini: