Kita sangat kenal Kiai Said Aqil Siradj. Ia adalah ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Kepiawaiannya dalam khazanah keislaman dan kebangsaan membuatnya dinobatkan sebagai ketua umum dua periode dan berkali-kali menjadi tokoh Muslim berpengaruh di dunia.

Bukan tanpa sebab, jika Kiai Said yang meraih gelar doktornya di Universitas Umm al-Quro dengan nilai Summa Cum Laude ini, dipercaya oleh jama’ah Nahdliyyin menahkodai NU. Secara keilmuan, Kiai Said tidak bisa diragukan lagi, semua disiplin ilmu sudah ia pelajari dan bahkan hafal sanad-sanadnya. Hal yang tidak mudah ditiru oleh tokoh-tokoh Islam lainnya.

Tidak hanya dalam khazanah keislaman, dalam hal kebangsaan (nasionalisme) pun tidak jauh berbeda. Dengan NU dan konsep Islam Kebangsaan, Kiai Said sukses menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar sukses menjadi tauladan dalam berbangsa dan bernegara.

Islam, menurut ia, tidak hanya terpaku pada berbicara surga dan neraka, tetapi juga harus dijadikan sebagai fundamental berbangsa dan bernegara. Ia berpendapat Islam dan nasionalisme adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling mengikat dan menguatkan.

Di era digitalisasi sekarang, misalnya. Di mana multi-informasi yang dengan mudah bisa kita dapatkan, tidak menutup kemungkinan akan berdampak buruk terhadap generasi penerus, khususnya dalam hal nasionalisme. Arus global yang sukar dibendung dapat berpotensi merusak budaya, pergaulan, dan kehidupan sosial di Indonesia. Apalagi terhadap masyarakat yang tidak memiliki dasar nasionalisme yang kuat.

Kiai Said acap kali berpesan ihwal kebangsaan, agar kampus dan warga Nahdliyin berperan menjadi perekat keutuhan NKRI. Ia juga berpesan agar generasi menjaga budaya, jati diri, dan kepribadian supaya tidak dirusak oleh globalisasi. Generasi mesti mampu mendalami ajaran Islam sehingga tidak menjadi radikal.

Kiai Said juga mengajak agar sesama warga negara mengembangkan sikap toleran, saling peduli, menumbuhkan kebersamaan dan tidak terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit.

Dalam pandangan lain, menurut ia, Islam mengajarkan pentingnya memajukan peradaban, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Nabi Muhammad tidak mendeklarasikan negara Madinah, dan negara Arab. Yakni, negara yang civilized, peradabannya maju.”

Oleh karena itu, dewasa ini, kita dituntut dapat bersaing tidak hanya dalam hal religiusitas, tetapi juga disiplin ilmu umum lainnya. Generasi penerus mesti menumbuhkan kembali semangat beragama dan kebangsaan. Menjaga kebhinekaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Barang siapa tidak memiliki Tanah Air, maka tidak memiliki sejarah. Barang siapa tidak memiliki sejarah, maka akan terlupakan.”     

Oleh: Fajar Insani