Ada banyak tokoh besar dilahirkan di negeri ini, tapi tak sedikit yang berhasil menjadi inspirator bagi orang lain. Ungkapan tersebut tampaknya tak berlaku bagi Bung Karno. Membaca kisahnya, sosok Bung Karno memang tak pernah bosan, laiknya sumur tanpa dasar yang terus ditimba dan tanpa ada habisnya. Kisah Bung Karno yang terus menjadi besar dari waktu ke waktu, mendalami pikiran dan sepak terjangnya memang tak kunjung menciut. Selain dikenal sebagai Bapak Bangsa, Bung Karno memperjuangkan Bangsa Indonesia melalui kata dan tulisannya yang menggetarkan dunia.

Dari gurunya HOS Cokroaminoto, Bung Karno mempelajari bahwa berpidato bukan hanya kemampuan berbicara saja, melainkan juga seni bagaimana cara menyampaikan pesan. Ia mengasah kemampuan orasi yang berkobar dan intonasi yang baik. Di Surabaya dalam sudut kamarnya, Bung Karno terus mempraktikkannya dengan melakoni para pemimpin besar dunia saat berpidato. Melalui cakrawala buku-bukunya ia terus melatih dirinya.

Jejak-jejak pemikiran Bung Karno selalu konsisten melalui retorikanya, ia membangun kesadaran dan konsisten terhadap anti imprealis dan kapitalis. Sebagai pemikir dan pemimpin pergerakan, Bung Karno menyempurnakan pemikirannya melalui retorikanya di Sidang Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tahun 1960. Melalui pidatonya To Build The World New, ia menawarkan membangun dunia kembali dengan lebih adil dan mengusulkan Pancasila sebagai piagam PBB.

Dalam komunikasi politik Internasional, Bung Karno telah memainkan peran penting dalam diplomasi tingkat tinggi atau summit diplomacy, yang mana peran kepala negara lebih dominan dari pelaksanaan diplomasi. Dalam sidang pidato PBB tersebut, Bung Karno  bukan hanya menyampaikan pesan saja, akan tetapi ia ingin memberikan representasi bahwa dirinya adalah bangsa Indonesia, sehingga jika ingin  melihat Indonesia maka lihatlah Bung Karno.

Selain itu seorang pemimpin negara menurut pakar komunikasi Roderick Hart, komunikasi merupakan bagian terpenting yang harus dimiliki pemimpin negara atau the sound of leadership.  Komunikasi politik dapat dipahami sebagai segala aktivitas dalam proses transaksi makna berupa simbol-simbol, beserta segala akibatnya dalam kehidupan manusia yang sarat perbedaan kebutuhan dan kepentingan, dengan tujuan untuk saling mempengaruhi, mengatur, mengontrol, dan menguasai.

Maka dari itu, melalui tutur katanya, Bung Karno mampu menunjukkan kredibilitas dirinya sebagai pemimpin pergerakan bangsa. Ia berhasil memperjuangkan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan dan membacakan pidato Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Dalam setiap pidatonya, Bung Karno selalu tampil mempesona. Ia memiliki seni retorika yang khas, yaitu karakter bicara, emosi pendengar, dan perkataan yang disampaikan.

Dalam tulisan pledoinya, “Indonesia Menggugat”  ia berpidato di depan para penjajah Belanda. Salah satu karateristik utama komunikasi politik Bung Karno adalah kegemarannya mengulang kata dan kalimat yang dianggap perlu stressing. Kebiasaan ini dilakukan Bung Karno sejak usia muda. Selain itu, Bung Karno memiliki sifat yang kukuh, tegas, dan berani mengambil keputusan dengan menanggung resiko apapun. Ketegasan, keberanian, dan sikapnya yang teguh tentu sangat memengaruhi komunikasi politik Bung Karno. Komunikasinya yang straight to the point, tidak berbelit, jelas, dan sangat kuat dimanifestasikan melalui suaranya yang lantang dan menggelegar.

Bung Karno bukan hanya komunikator biasa, ia memiliki kemampuan bahasa secara lisan dan tulisan di atas rata-rata politikus pada umumnya. Kelihaian dalam berkomunikasi dengan intonasi yang baik, tutur kata yang sistematis, dan keluasan wawasan membuat Bung Karno tidak hanya memesona rakyat Indonesia, melainkan masyarakat dunia. Dengan demikian, untuk menjadi seorang pemimpin, diperlukan kemampuan komunikasi politik laiknya Bung Karno. Komunikasi Politik Bung Karno bisa menjadi preseden bagi calon pemimpin masa depan dan bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda. 

Oleh: Shinta Lestari

%d blogger menyukai ini: