Tren hijrah yang kian viral di tengah pandemi berhasil merekrut banyak pengikut, khususnya kaum milenial. Hal ini patut diapresiasi. Meski demikian, ada pula hal tentang hijrah yang perlu diluruskan dan dikritisi.

Di dalam Lisanul ‘Arab, Ibnu Mandzur menuturkan, hijrah adalah isim (kata benda) yang berasal dari kata hajara-yahjuru-hajran-hijraanan, berarti keluar dari satu tempat ke tempat lain.

Dahulu, pada masa Rasulullah SAW, yang disebut sebagai Muhajir (orang yang berhijrah) merupakan orang-orang yang ikut bersama Nabi Muhammad SAW pindah dari Makkah ke Madinah. Sebab tersebarnya perintah untuk berhijrah, banyak Muslim berbondong-bondong mengikuti jejak Rasulullah.

Melihat fenomena tersebut, Umar bin Khattab, sahabat dekat Rasulullah SAW menyeru kepada orang-orang Muslim untuk berhijrah yang sesungguhnya, bukan pura-pura berhijrah. Abu ‘Ubaid menjelaskan, maksud hijrah yang sesungguhnya yaitu hijrah yang diniati ikhlas karena Allah ta’ala, bukan hijrah yang diniatkan kepada selain-Nya.

Faktanya, fenomena hijrah yang terjadi saat ini, cenderung lebih mengedepankan penampilan. Terbukti dengan maraknya hijaber dan komunitas Muslim dari berbagai kalangan, serta tingginya tingkat konsumsi masyarakat terhadap merek-merek busana muslim di Indonesia.

 Perlu diketahui, selain hijrah fisik, ada juga hijrah non-fisik yang tak kalah penting, salah satunya, memperbaiki niat. Apakah hijrah yang dilakukan ikhlas karena Allah dan RasulNya atau hanya karena dunia yang ingin diraihnya?

Dari Umar bin Khattab, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang mendapat apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya pada apa yang ia niatkan.”

Sebab turunnya hadis tersebut, lantaran ada seorang pemuda yang mengikuti hijrah bersama Rasulullah SAW, bukan karena keutamaan hijrah, tetapi agar dapat menikahi kekasih dambaan hatinya yang bernama Ummu Qais. Meski hadis tersebut turun sebab Muhajir tersebut, namun nilai dan hukum yang terkandung di dalamnya berlaku bagi Muslim lain secara umum.

Langkah kedua setelah niat, adalah mengubah sikap. Menjaga lisan dan tingkah laku (akhlak) saat berinteraksi sosial termasuk di dalamnya. Namun sayang, menjauhi diri sendiri dari perbuatan yang tidak baik, kian luput dari perhatian orang-orang yang berhijrah.

Selanjutnya, meningkatkan kualitas ibadah. Menunaikan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, bahkan menjalankan sunnah Rasul-Nya dan meninggalkan yang syubhat merupakan bentuk hijrah yang kian terpinggirkan.

Meski demikian, saat seseorang memutuskan untuk berhijrah, janganlah sekali-sekali merasa bahwa dirinya yang paling benar, sedangkan orang-orang lain yang belum berhijrah dianggap sesat. Justru sebaliknya, sebagai Muslim, sudah kewajiban kita untuk mengajak orang lain menuju kebaikan.

Terakhir, pemahaman hijrah yang sesungguhnya perlu dikenalkan dan disebarluaskan, khususnya kepada kaum milenial. Untuk berhijrah, semangat saja tidak cukup, diperlukan juga pengetahuan yang mumpuni dan memadai demi lahirnya Muslim sejati.

Oleh: Balqis Inas