Dulu ada Walisongo yang mendakwahkan Islam dengan santun, ramah, dan toleran. Sekarang kita menemuka Walisongong. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Walisongo, mereka ini cenderung songong dalam berdakwah. Tidak menguasai khazanah keislaman dengan baik, tapi justru menjadikan mimbar keagamaan sebagai bahan olok-olok, menebarkan kebencian, bahkan provokasi dan fitnah.

Lima tahun terakhir ini, panggung politik yang menggunakan jubah agama semakin menggurita. Mereka yang berdakwah dan mengatasnamakan Tuhan, namun isinya kerap mencaci orang lain, bahkan sampai berani mengkafirkan. Hal demikian, jelas tidak menjadikan Walisongo sebagai panutan dalam menyiarkan agama dan mengajak kebaikan.                            Tak elok rasanya, meluapkan emosi berlebihan di atas mimbar, dan mengatakan ‘’kecebong’’ pada mereka yang tak mau mendengar ceramahnya. Cacian dibalas cacian, lalu sikap sabar mana yang dapat ditiru saat ujian menimpanya.

Fatalnya lagi, mereka menuduh orang lain “kafir”, karena berbeda pemahaman tentang Islam. Meski juga mengatakan kafir pada mereka yang tak beragama Islam. Wajar jika ada Non-Muslim yang tersingggung dan komplain dengan pernyataan itu. Jauh dari kesan Islam rahmatan lil ‘alamain. Agama yang memberikan rahmat untuk seluruh manusia.

Menelaah gagasan Islam rahmatan lil ‘alamain perspektif K.H Hasyim Muzadi, ia mengkampanyekan konsep tersebut dengan tiga metode yaitu pendekatan dakwah, pendekatan hukum, dan pendekatan politik, sehingga masyarakat dunia bersimpati  kepada Islam, lalu menjadikannya presiden dalam World Conference of Religious for Peace (WCRP) di pertemuan pimpinan agama sedunia ke-VII di Kyoto, 2006. Ia mengungkapkan, dengan Islam rahmatan lil ‘alamain membuat muballigh (penyebar dan pembawa agama) mampu membawakan Islam penuh keramahan, kedamaian dan kebijaksanaan.

Pribumisasi Islam di Indonesia tak lepas dari jejak Walisongo (wali sembilan). Dakwah yang mengintegrasikan syariat Islam dan budaya. Penyebaran dakwah dilakukan penuh kedamaian, dan jauh dari kekerasan. Beberapa langkah strategis Walisongo dalam mengembangkan agama Islam. Pertama, tadrij (bertahap). Misalnya, membiarkan meminum tuak dan makan babi. Secara bertahap sembari diluruskan perilakunya. Tak semerta-merta mengharamkan dan melabelkan kafir pada mereka yang belum Islam, meski syariat Islam dengan gamblang mengharamkan hal tersebut.

Kedua, ‘adamul haraj (tidak menyakiti). Para ali songo dalam dakwahnya tak mengusik tradisi agama dan kepercayaan masyarakat. Sikap toleran yang diajarkan para wali, membuat masyarakat simpatik karena disampaikan dengan cara damai dan toleran. Langkah  strategi dakwah wali songo tersebut, sudah semestinya menjadi solusi bagaimana menghadapi kondisi masyarakat di tengah-tengah propaganda isu-isu  politik gencatan agama

Terlepas dari segala kesalahan, manusia memang tak luput dari hal demikian. Kiranya, cara ampuh mengajak kebaikan adalah dengan kedamaian. Kehadiran Islam memberikan kehidupan yang layak bagi manusia, menghapus perbudakan, memuliakan perempuan, dan lain-lain. Singkatnya, sering-seringlah berkaca diri sebelum mengajak banyak orang menyuruh berbuat baik. Kita harus hati-hati dengan dakwah ala Walisongong. Kita harus mengikuti cara dakwah Walisongo yang mengajak, tidak mengejek dan merangkul, tidak memukul.

Oleh: Ayu Fuji Astuti