Syaikhona Kholil Bangkalan: Mahaguru Ulama Indonesia

ISLAMRAMAH.CO, KH Muhammad Kholil atau lebih populer Syaikhona Kholil Bangkalan dikenal sebagai mahaguru ulama-ulama Indonesia. Sebagian besar ulama-ulama di Tanah Jawa merupakan santri Syaikhona Kholil, seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, Kiai Ali Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Mustofa, dan masih banyak kiai-kiai lainnya.

Bahkan ribuan pesantren yang berdiri di Indonesia, pengasuhnya memiliki sanad (sambungan) keilmuan dengan para santri Syaikhona Kholil. Hingga saat ini, beliau begitu populer di kalangan masyarakat pesantren, bukan hanya di Jawa Timur semata, tetapi juga di seluruh penjuru Nusantara. Beliau dikenal sebagai sosok yang memiliki andil besar di dunia pesantren, Nahdlatul Ulama dan perjuangan melawan kolonialisme Belanda.

Syaikhona Kholil lahir pada hari Selasa, 11 Jamadi al-Tsaniyah 1235 H atau 1820 M di Bangkalan, Madura. Beliau termasuk keturunan Sunan Gunung jati. Sejak kecil, Syaikhona Kholil sudah menunjukkan minat yang besar terhadap ilmu-ilmu agama. Hal itu tak lepas dari didikan sang ayah, Kiai Abdul Lathif yang mengajarinya ilmu-ilmu Islam dengan ketat.

Di usia yang masih muda, Syaikhona Kholil dengan mudah memahami pengetahuan Islam, terutama dalam bidang fikih. Ia pun menguasai bahasa Arab dengan baik, bahkan mampu menghafal Nazham al-Fiyah Ibnu Malik (seribu bait ilmu nahwu). Semakin beranjak dewasa, Syaikhona Kholil melanjutkan pengembaraan ilmu ke sejumlah pesantren di Tanah Jawa, seperti pesantren Langitan, Pesantren Cangaan Pasuruan, Pesantren Sidogiri sampai pesantren di Banyuwangi.

Tak jarang, beliau berjalan kaki puluhan kilometer dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Selama di perjalanan, beliau membaca al-Quran, terutama surat Yasin. Beliau dikenal mampu menghafal al-Quran dengan tujuh model bacaan yang berbeda-beda atau disebut qira’at al-sab’ah. Di usia 24 tahun, Syaikhona Kholil menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu-ilmu Islam.

Selama perjalanan dan berada di Mekkah, beliau dikenal rutin berpuasa. Di Haramain beliau belajar kepada ulama-ulama besar asal Indonesia, seperti Syaikh Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Umar Khatib Bima, dan Syaikh Muhammad Yusuf al-Fadani. Karena beliau mahir menulis khat Arab, Syaikhona Kholil dipercaya untuk menjadi penyalin naskah atau penulis risalah. Tulisannya dikenal cantik dan nyaman dibaca, bahkan beliau merumuskan pola penulisan bahasa Arab Melayu atau Jawi.

Sepulang dari Haramain, Syaikhona Kholil dikenal piawai mengamalkan ilmu tarekat dan fikih. Masa itu, beliau hidup di tengah gejolak kolonialisme. Syaikhona memiliki cara sendiri melawan penjajahan tersebut. Ia mempersiapkan murid-muridnya menjadi pemimpin yang berilmu, berwawasan dan tangguh. Selain itu, beliau lebih banyak berperan di balik layar dengan memberikan suwuk (mengisi kekuatan batin/ tenaga dalam) kepada para pejuang. Bahkan beliau menjadikan pesantrennya sebagai tempat persembunyian pejuang.

Perlawanan itu tercium penjajah hingga Syaikhona ditangkap dan dipenjara. Namun demikian, penangkapan itu justru membuat pusing penjajah. Pasalnya, banyak terjadi kejadian-kejadian di luar logika, seperti pintu penjara tak bisa dikunci sampai penjaga penjara berjaga penuh sepanjang waktu. Selain itu, masyarakat berbondong-bondong meminta ikut masuk penjara. Kejadian itu membuat pihak Belanda pasrah merelakan Syaikhona Kholil keluar penjara.

Beliau juga dikenal berperan besar dalam pembentukan Nahdlatul Ulama (NU). Beliau mengutus santrinya, Kiai As’ad Syamsul Arifin untuk memberikan tongkat kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang tengah resah menghadapi situasi keumatan dan memintanya membacakan sebuah ayat al-Quran. Mendapat tongkat dan bacaan ayat al-Quran dari Kiai As’ad, Kiai Hasyim tergetar. Wajahnya menerawang membayangkan wajah sang guru.

Sejak saat itu, keinginan mendirikan Jam’iyah NU makin kuat, namun pendirian itu tak kunjung lahir. Setahun setelah itu Kiai Kholil mengutus kembali Kiai As’ad yang masih berusia 27 tahun untuk memberikan tashbih kepada KH Hasyim Asy’ari dan memintanya mengamalkan Ya Jabbar, Ya Qahhar (lafadz Asma’ul Husna). Tak lama setelah itu Syaikhona Kholil wafat pada 29 Ramadhan 1343 H, sebelum Jam’iyah NU berdiri pada 16 rajab 1344 H.

Comments
Loading...