ISLAMRAMAH.CO, Keunikan Masjid Menara Kudus acapkali mengundang decak kagum masyarakat Indonesia, bahkan termasuk para arkeolog. Masjid itu mengadopsi model bangunan tempat ibadah umat Hindu dan Budha. Sebuah menara mirip candi berdiri anggun di sebelah kiri depan masjid. Keistimewaan masjid itu tak lepas dari sang pendiri, yakni Sunan Kudus, yang kemudian diprakarsai kembali pembangunannya oleh KH Raden Asnawi Kudus.

KH Raden Asnawi Kudus sendiri adalah tokoh yang membaktikan seluruh hidupnya untuk agama dan masyarakat. Ia hidup dalam tiga masa, yaitu masa Kolonial Belanda, Penjajahan Jepang dan pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Kiprahnya tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional dan internasional.

Pondok pesantren Raudhat al-Thalibin, Bendan Kudus, dan Madrasah Qudsiyah menjadi bukti kiprahnya di tingkat lokal. Ia termasuk salah satu tokoh ulama Kudus yang ikut memprakarsai lahirnya Nahdlatul Ulama (NU). Di level internasional, KH Raden Asnawi pernah dipercaya untuk mewakili Indonesia dalam acara Muktamar Islam sedunia yang diadakan di Makkah pada tahun 1926 M. Ia juga anggota komite Hijaz untuk menghadap Raja Ibnu Saud pada tahun 1966, sebelum NU berdiri.

KH Raden Asnawi adalah putra sulung dari H.R Abd Allah Husnin, seorang pedagang di kompleks terkenal di Kudus pada akhir abad-19. Sedangkan ibunya bernama R Sarbinah. Ia lahir di kampung Damaran, Kota Kudus pada tahun 1281 H atau 1861 M dengan nama R. Ahmad Syamsi. Nama R. Asnawi diperoleh setelah menunaikan ibadah hajiuntuk ketiga kalinya. Silsilah keturunan dari garis ayah, ia masih keturunan Sunan Kudus.

Pada tahun 1897 M, tepat pada usia 25 tahun, KH Raden Asnawi diajak pergi ke Tanah Suci oleh ayahnya. Di Mekkah ia sempat belajar pada KH Shaleh Darat Semarang, Kiai Mahfudz al-Tarmasi dan Sayyid Umar Shatha’. Pertemuan dengan ulama-ulama Nusantara membuatnya makin betah tinggal di Kota Suci untuk menimba ilmu kepada mereka.

Orang yang paling berjasa dalam menguatkan niatnya tinggal di Mekkah adalah Syaikh Hamid Mana Kudus, ulama yang telah lama tinggal di Mekkah. Ia tidak hanya memberikan pendidikan spiritual kepada KH Raden Asnawi, melainkan juga memberikan bantuan material. Dialah yang menyediakan tempat tinggal dan mempertemukannya dengan ulama-ulama Nusantara di Mekkah.

Selama bertahun-tahun belajar di Mekkah, keilmuannya semakin diperhitungkan. Ia mulai mengajar ilmu-ilmu agama baik di dalam Masjidil Haram maupun di rumah pribadinya. Di antara ulama-ulama besar Tanah Air yang pernah belajar kepadanya adalah Kiai Wahab Chasbullah Jombang, Kiai Bisyri Sansuri Jombang, Kiai Hanbali Kudus, Kiai Mufid Kudus, dan Kiai A Mukhit Sidoarjo.

KH Raden Asnawi pernah menjadi ketua Sarekat Islam di Mekkah. Pada tahun 1916 M, ia pulang ke Tanah Air untuk menggalang konsolidasi melawan penjajah dengan rekan-rekannya seperti Haji Agus Salim, Cokroaminoto, Sema’un dan tokoh lainnya. Ia juga sempat pulang kampung ke Kudus dan sibuk mengajar dan berdakwah di kota Kudus dan sekitarnya.

Pada tahun 1917 M, KH Raden Asnawi mendirikan Madrasah Qudsiyah yang berada di sebelah barat Masjid Menara Kudus. Satu tahun kemudian, bersama tokoh masarakat, KH Raden Asnawi memprakarsai pembangunan masjid Menara Kudus, sebuah masjid yang pertama kali didirikan oleh Sunan Kudus. Pembangunan itu dilakukan dengan gotong royong secara suka rela, baik di kalangan santri maupun masyarakat sekitar.

%d blogger menyukai ini: