Pada periode antara tahun 1971 dan 1977, Kyai Musikan menghadapi tahun-tahun paling berat. Beliau harus berhadapan dengan tindakan militer Orde Baru yang sangat represif terhadap para Kyai yang mendukung dan berkampanye untuk PPP. Kecurangan terstruktur yang dilakukan oleh Orba untuk memenangkan Golkar mendapatkan perlawanan di mana-mana, termasuk di Kalisat dan Jember. Kyai Musikan tidak mau berkompromi.

Beliau menolak untuk dibungkam dan diam. Beliau terus menyuarakan perlawanan dari podium ke podium, dari desa ke kota. Dan akhirnya beliau ditangkap dan dipenjara di markas tentara. Beliau ditahan di kodim Jember selama enam bulan. Tanpa pengadilan. Bahkan di situpun beliau tetap tak bergeming. Sejengkal pun beliau tidak akan bergeser dari jalan ulama’, apalagi berkhianat kepada Nahdlatul Ulama’ (NU).

Beberapa tahun setelah peristiwa kelam itu, Kyai Musikan alias KH. Baihaqi, dipercaya untuk menjadi Rais Syuriah Pengurus Cabang NU Jember, periode (1979-1984). Catatan tentang periode ini perlu lebih banyak digali lagi, terutama dari arsip-arsip NU. Hanya ada beberapa potongan kisah yang masih perlu dirangkai lagi dan diteliti ke-valid-annya. Apa saja program yang telah dilakukan? Bagaimana dinamika politik, sosial, dan budaya NU Jember pada masa itu?

Bagaimana posisi para Kyai NU Jember dalam dinamika dan pergolakan NU tingkat nasional menjelang Munas 1983 dan Muktamar 1984 di Situbondo yang merupakan titik penting dalam sejarah NU, khususnya berkaitan dengan keputusan kembali ke Khittah dan penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal? Tentu bukan sebuah kebetulan bahwa salah satu tokoh terpenting dalam rangkaian peristiwa itu adalah KH. Achmad Siddiq, yang berasal dari Jember.

Berdasarkan kesaksian KH. Muzanni, salah seorang putra KH. Baihaqi/ Kyai Musikan, pada masa itu Kyai Musikan rutin mengadakan pertemuan dengan beberapa Kyai di Jember, dan, secara khusus, beberapa kali pertemuan empat mata dengan Kyai Achmad Siddiq di Talangsari. Menurut kesaksian putra beliau yang lain, KH. Rosyidi, awalnya Kyai Musikan menolak konsep penerimaan asas tunggal Pancasila.

Beliau mengkhawatirkan masa depan NU dan umat Islam di Indonesia. Sayangnya beliau tidak bisa hadir di Munas 1983 karena sedang sakit. Beliau diwakili oleh putranya, Kyai Rosyidi, dan menantunya, Kyai Sanusi. Sepulang dari Munas, Kyai Rosyidi dan Kyai Sanusi secara bergantian melaporkan hasil keputusan Munas kepada Kyai Musikan.

Setelah pemaparan panjang lebar dan penjelasan tentang berbagai macam sikap para Kyai yang hadir, Kyai Musikan lalu bisa menerima keputusan Munas itu dengan lapang dada. Beberapa Minggu setelah Munas itu, di awal tahun 1984, Kyai Musikan wafat. Sebelum wafat, salah satu wasiat beliau kepada semua anggota keluarga dan santri beliau adalah “Engko’ matoro’ah NU… NU… NU…” (Saya titip NU… NU… NU…). Tamat.

Gus Ahmad Badrus Sholihin, Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember

%d blogger menyukai ini: