Mengenal Tuan Guru Bengkel: Kiprah dan Dakwah (Bagian I)

Dalam rangka menyambut Haul yang ke-52 Tuan Guru Haji Muhammad Shaleh Hambali atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bengkel, Saya, dalam beberapa waktu luang yang saya punya, ingin menulis tentang pemikiran-pemikiran beliau. Saat kuliah S1, saya meneliti tentang pemikiran beliau dan itulah awal pertama kali saya lebih mendalami pemikiran beliau.

Sebelumnya, walaupun saya lahir di desa Bengkel di mana Tuan Guru Bengkel lahir dan desa Bengkel menjadi pusat dalam menyebarkan dakwah Islam di Lombok, terutama Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah, namun saya tidak begitu tahu pemikiran-pemikiran beliau.

Yang mungkin sampai ke telinga saya saat masih sekolah di MTs. Darul Qur’an, hanya tentang kunjungan tokoh-tokoh penting negeri ini, seperti Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan pejabat-pejabat negara lainnya. Oleh sebab itu, melalui uraian-uraian singkat yang mungkin nantinya menjadi beberapa bagian, saya ingin menulis tentang Tuan Guru Bengkel, sehingga kita bisa lebih mengenal bahkan merefleksikan perjuangan dakwah dan pemikiran beliau.

Dalam tulisan pertama ini, saya ingin membahas tentang kiprah dan dakwah Tuan Guru Bengkel secara singkat sebagai seorang penyebar Islam di Lombok. Sepulangnya Tuan Guru Bengkel dari menunaikaikan ibadah haji pada tahun 1916, inilah awal dimulainya dakwah beliau. Beliau pertama-tama mengajarkan membaca Al-Qur’an kepada masyarakat desa Bengkel di Santren (baca: Mushalla, sekarang menjadi Masjid Shaleh Hambali).

Setelah itu, berkembang lagi beliau mengajarkan ilmu-ilmu agama. Dari Santren ini, nama Tuan Guru Bengkel secara perlahan dikenal ke seluruh pulau Lombok. Saat itu, murid pertamanya yang berasal dari luar desa Bengkel bernama Zainuddin Hasbullah Taliwang. Setelah itu, para penuntut ilmu di tanah Lombok penasaran terhadap keluasan ilmu Tuan Guru Bengkel dan menjadi magnet yang membuat mereka datang ke desa Bengkel untuk menuntut ilmu.

Pada tahun 1929, Tuan Guru Bengkel menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Sepulangnya dari ibadah haji yang kedua ini, Tuan Guru Bengkel kemudian menghasilkan karya-karya tulisnya. Hal ini membuatnya menjadi seorang ulama yang kharismatik dan disegani. Dan pada tahun 1948, Tuan Guru Bengkel kembali menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa dulu saat seseorang pergi untuk menunaikan ibadah haji, tidak hanya semata-mata untuk menunaikan ibadah haji saja, tetapi juga sekalian untuk menuntut ilmu. Dengan demikian bahwa kepergian Tuan Guru Bengkel ke Mekkah sebanyak tiga kali ini menunjukkan semangat menuntut ilmu beliau sangat tinggi untuk mengembangkan dakwah Islam terutama di Lombok.

Sebagaimana yang dikutip dalam buku “Pemikiran Islam Lokal: TGH.M. Shaleh Hambali Bengkel” yang ditulis oleh Adi Fadli bahwa jumlah santri Tuan Guru Bengkel saat itu sudah berjumlah ribuan yang tersebar di 6 asrama di desa Bengkel. Setiap asrama mempunyai sekitar 40-50 kamar dan setiap kamarnya dihuni oleh 1-6 orang. Tentu saja santri-santri Tuan Guru Bengkel tidak hanya dari Pulau Lombok saja, namun juga datang dari Bali, Sumbawa dan bahkan Jawa Timur.

Tuan Guru Bengkel merupakan ulama’ NU yang paling berpengaruh dalam menyebarkan Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah di Lombok. Hal ini dibuktikan dengan diangkatnya Tuan Guru Bengkel sebagai Rais Syuriah Nahdlatul Ulama NTB dari tahun 1953 sampai dengan wafatnya tahun 1968. Bersambung…

Helmy Hidayatullah, S.Th.I, MA, Alumni Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA)

Comments
Loading...