Gus Mus: Bulan Rajab Momentum Mendekatkan Diri Kepada Allah

ISLAMRAMAH.CO, Dalam kalender Hijriyah, umat Islam tengah memasuki bulan Rajab. Peristiwa bersejarah bagi umat Muslim, yaitu perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram Mekkah menuju Masjidil Aqsa Palestina lalu dilanjutkan naik ke langit ke tujuh sampai ke Sidratil Muntaha untuk bertemu Allah SWT, bertepatan pada tanggal 7 bulan Rajab. Peristiwa ini begitu penting bagi umat Islam karena merupakan sejarah perintah Allah SWT kepada umat Islam untuk menunaikan kewajiban shalat. Karena itu, bulan Rajab memiliki begitu banyak keutamaan.

Dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan bahwa kata Rajab adalah turunan kata tarjib yang berarti mengagungkan atau memuliakan, hal ini karena dulu masyarakat Arab juga memuliakan Rajab di atas bulan lainnya. Rajab juga bisa disebut Al Ashabb yang berarti mengucur atau menetes, bisa dijuluki demikian sebab begitu derasnya tetesan kebaikan pada bulan ketujuh dalam penanggalan hijriah ini.

Ulama terkemuka Indonesia, KH Musthofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus dalam tulisannya di laman gusmus.net mengajak umat muslim menjadikan bulan Rajab sebagai momen renungan untuk semakin memperbaiki diri, utamanya istiqamah dalam menjalankan shalat lima waktu. Gus Mus mengibaratkan seorang tamu yang setiap hari lima kali datang terkadang kita justru mengabaikannya, padahal jika dibandingkan dengan seseorang yang bertamu dengan pejabat tinggi, kita akan mempersiapkan dengan baik.

“Bisakah kita menjumpai penguasa tertinggi negeri ini, presiden misalnya, atau setidaknya petinggi tertinggi provinsi kita, gubernur, kapan saja kita mau? Kalau pun bisa, paling setahun sekali, pada saat diadakan acara open house. Nah ini penguasa petinggi Maha Tinggi, Penguasa segalanya, mengadakan open house sehari lima kali. Bukankah ini Kemurahan yang luar biasa bagi hamba sekecil kita ini? Bahkan tidak itu saja. Tengah malam atau dini hari sekalipun, Dia menerima pesowanan kita. Malah menawarkan, “Adakah yang punya hajat? Adakah yang memohon ampun? Adakah yang ingin meminta sesuatu?,” ungkap pengasuh pondok pesantren Raudlatut Thalibin Rembang tersebut.

Dalam bait terakhir tulisannya, Gus Mus menekankan pentingnya menjadi hamba yang bersyukur. Sebagai makhluk kecil ciptaan-Nya tidaklah pantas menyambut kepentingan dunia dengan berlebihan apalagi malah menafikan berbagai kenikmatan besar yang telah Allah anugerahkan kepada umat-Nya.  

“Lalu bagaimana kita yang kerdil ini menyikapi ke-Maha MurahNya itu? Apakah kita penuh semangat menghadap, sebagaimana misalnya bila kita diterima presiden atau gubernur,” pungkas ulama budayawan tersebut.

Comments
Loading...