Gus Yusuf: Berdebat Harus Saling Menghargai, Bukan Menjatuhkan

ISLAMRAMAH.CO, Keberagaman merupakan ketetapan Allah SWT (sunnatullah) yang harus kita syukuri. Yang tunggal hanyalah Allah itu sendiri karena Dialah Yang Maha Esa dan tak ada makhluk yang bisa menyamaiNya. Persoalan-persoalan hidup yang muncul harus diselesaikan dengan cara musyawarah. Apalagi persoalan yang muncul karena perbedaan pendapat. Berbeda bukanlah alasan untuk perpecahan, atau malah menimbulkan permusuhan. Berbeda pendapat tidak dilarang agama, namun timbulnya permusuhan dan perpecahan menyalahi ajaran agama itu sendiri.

Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, KH Yusuf Chudlori atau akrab disapa Gus Yusuf menjelaskan bahwa dalam khazanah keilmuan Islam klasik, perbedaan antar ulama dalam suatu masalah adalah suatu hal yang wajar. Namun yang perlu dijadikan pegangan adalah ulama-ulama terdahulu disamping memiliki kelimuan yang luas, juga dibekali akhlak yang luhur. Perbedaan pendapat bukan alasan untuk tidak saling menghormati dan menghargai. Hal inilah yang patut untuk ditiru dan diamalkan oleh ulama generasi sekarang di mana berdebat sejatinya untuk menemukan solusi yang terbaik bukan malah ajang saling menjatuhkan.

“Berdebat dengan argumen yang jelas itu menjadi tradisi di antara para ulama, tetapi tidak hanya berbekal ilmu, yang lebih penting adalah berbekal akhlak. Berbeda dibungkus dengan etika saling menghargai bukan saling menjatuhkan,” terang Gus Yusuf dalam akun twitter pribadinya.

Lebih lanjut Gus Yusuf mengisahkan tentang sifat rendah hati Imam Syafi’i ketika melihat ketidakpuasan seorang muridnya saat berselisih pendapat dalam salah satu majelisnya. Imam Syafii dengan legawa menghampiri rumah muridnya di malam hari untuk memberikan nasihat tentang adab atau etika ketika berbeda pendapat dengan seseorang. Walaupun Imam Syafi’i seorang guru dan ulama besar, ia tidak merasa jumawa. Hal ini terbukti ketika ada salah seorang murid dengan sengaja meninggalkan majelis  yang disebabkan ketidaksetujuan dengan pendapatnya, Imam Syafi’i justru menghampiri rumah murid tersebut.

“Imam Yunus bin al A’la pernah berselisih pendapat dengan sang guru, Muhammad Idris as Syafi’i . Ketika Imam Syafi’i mengajar di masjid beliau berdebat dengan muridnya sampai berselisih pendapat dengan keras. Imam Yunus akhirnya bangkit dengan meninggalkan majelis dengan marah. Ketika tiba malam hari tiba-tiba pintu Imam Yunus diketok oleh seseorang lantas dia bertanya, siapa yang mengetok pintu, yang dipintu menjawan Muhammad Idris as Syafi’i dia berpikir siapa itu ketika dibuka pintunya ternyata gurunya datang malam itu beliau berkata, Wahai  Yunus kita itu sudah ditemukan dalam ratusan masalah. Apakah hanya karena masalah tadi siang kita harus berpisah,” tutur penggiat budaya di Komunitas Lima Gunung tersebut.

Di akhir ceramah singkatnya Gus Yusuf berpesan mengenai pentingnya menyambung dan merawat tali silaturahim. Dengan terbatasnya kemampuan dan pengetahuan manusia terkadang ada di suatu masa ia harus mengakui kelemahannya, karena merebut hati manusia untuk berbuat kebaikan itu lebih penting daripada sebuah kemenangan dalam berdebat. Sebagai makhluk sosial tentu akan selalu membutuhkan kehadiran orang lain, jika setiap perbedaan disikapi dengan permusuhan tentu akan berdampak buruk terhadap kehidupan sosial kita dan juga memutus tali silaturahim merupakan perbuatan tercela di sisi Allah.

“Jangalah kamu memaksakan untuk selalu menang dalam perdebatan karena kadang-kadang merebut hati manusia itu lebih penting daripada mencari kemenangan. Dan jangan kamu merusak jembatan yang telah engkau bangun selama ini karena suatu ketika kamu akan butuh jembatan itu untuk kembali. Berbeda pendapat bukan masalah tapi jangan sampai memutus silaturahim. Akhlak lebih utama daripada ilmu,” pungkas ulama muda asal Magelang tersebut.

Comments
Loading...