ISLAMRAMAH.CO, Salah satu perbuatan yang tidak disukai oleh Allah adalah sikap berlebihan dalam berbagai hal, tidak terkecuali juga dalam berdakwah. Seorang pendakwah hanyalah perantara bagi seseorang untuk mendapatkan hidayah, bukan pemberi hidayah itu sendiri. Jika ada pendakwah yang memaksakan kehendaknya, maka hal itu merupakan tindakan yang kurang elok karena menyalahi kehendak Allah itu sendiri.

KH Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha menjelaskan kandungan surat al-Kahfi ayat 6 tentang teguran Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Menurut Gus Baha, dalam surat tersebut dijelaskan bahwa Allah SWT menegur Nabi yang terlampau bersemangat dalam berdakwah hingga hampir mencelakakan dirinya sendiri ketika ada umat yang tidak mau beriman kepada Allah SWT.

“Maka uniknya al-Quran itu ketika Nabi Muhammad terlalu semangat oleh Allah justru ditegur, fala’allaka baqi’un nafsaka, maka barangkali engkau Muhammad akan mencelakakan dirimu. Muhammad, engkau jangan terlalu menggebu-gebu dalam berdakwah. Karena bakal dapat iman atau tidak biarlah jadi urusan-Ku (Allah) yang penting untukmu dakwah seperti biasa. Jangan sampai kau merusak dirimu sendiri,” jelas Gus Baha dalam salah satu videonya di Channel Youtube.

Ulama muda yang populer di kalangan umat tersebut mengingatkan pentingnya dakwah secara rileks dan santai. Tugas seorang pendakwah menurut Gus Baha sejatinya hanya sebatas menyampaikan perintah Allah untuk dipahami dan dijalankan oleh umat. Meskipun dalam praktiknya tentu saja tidak mungkin semua apa yang menjadi perintah Allah bisa secara pasti dijalankan dengan baik.

Kisah Nabi Muhammad yang diterangkan Gus Baha menjadi penting sebagai pedoman dakwah bagi para pendakwah agar tidak terlalu menggebu-gebu dan memaksakan kehendak dalam dakwah yang disampaikan. Ujian terberat seorang pendakwah adalah rasa sombong yang muncul dari desiran hati dan struktur dalam otak, yaitu ketika seorang pendakwah merasa paling baik dan memaksakan kehendaknya harus sepenuhnya diikuti oleh orang lain.

“Jadi akhirnya Allah kasihan sama Nabi karena terlalu bersemangat. Beliau tersiksa jika ada orang tidak mendapatkan hidayah, sampai kata mufassir, Nabi hendak mencelakakan diri, maka Allah berfirman, sudahlah masalah hidayah itu urusan Saya. Bukankah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, Sudahlah Kamu ngaji saja, berdakwah saja tetapi tetap bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk itu bukan wilayah Engkau untuk memberi hidayah,” terang tim Lajnah Mushaf Universitas Islam Indonesia (UII) tersebut.

Dalam akhir ceramahnya Gus Baha mengilustrasikan bahaya orang yang terlalu ambisius dalam berdakwah justru akan berdampak kurang baik terhadap jasmani dan rohaninya sendiri. Hal itu karena sejatinya manusia hanyalah makhluk yang mempunyai keterbatasan. Segala hidayah dan petunjuk sejatinya datang dari Allah, manusia hanya disuruh untuk menyampaikan perintah dan larangannya, sekadar itu. “Kayak saya begini, ngaji ya ngaji saja Jangan sampai bilang Aku pingin ngajar di Damaran (Kudus), dan semua yang ku ajar jadi alim semua bakal stroke kalau punya niat seperti itu, pasti kecewa,” pungkas Gus Baha.

%d blogger menyukai ini: