ISLAMRAMAH.CO, Rasulullah SAW telah mewariskan kepada umat manusia di muka bumi ini dua pusaka kehidupan dunia akhirat, yakni al-Quran dan Sunnah. Ajaran yang terkandung di dalamnya berlaku sampai akhir waktu dan senantiasa relevan di setiap zaman. Namun demikian, tafsir dan interpretasi selalu dinamis mengikuti persoalan zaman yang selalu berubah. Mengambil istinbath hukum berdasarkan al-Quran bukanlah sesuatu yang mudah, dibutuhkan pemahaman yang kompleks akan ilmu-ilmu al-Quran serta kearifan yang tinggi, agar produk hukum yang dihasilkan memiliki legitimasi tinggi serta tidak menimbulkan kekacauan di dalam masyarakat.

Akan tetapi, mutakhir ini muncul sekelompok masyarakat yang ingin langsung menyandarkan setiap persoalan kepada al-Quran saja dan di satu sisi menafikan keberadaan kiai dan ulama sebagai pewaris keilmuan Nabi, karena dianggap mereka layaknya seperti manusia biasa yang bisa salah. Padahal, menurut dai kondang asal Bojonegoro KH Anwar Zahid, jika  individu dari masyarakat tersebut langsung mengambil hukum dari al-Quran langsung, apalagi modal terjemahan saja, tentu kesalahannya lebih fatal lagi dibandingkan dengan para ulama dan kiai yang belasan bahkan puluhan tahun bergelut dengan ilmu-ilmu agama tersebut.

Hal ini membuktikan kepolosan dalam berpikir sebagian orang dan hanya akan menjadi perdebatan yang tidak bermutu, di mana perdebatan bukan antara yang seimbang ilmunya, tetapi perdebatan antara yang berilmu dengan individu yang merasa berilmu. “Tanpa para kiai kita tidak kenal Rasulullah, kita gak bisa sampai kepada Rasulullah,” katanya saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Purworejo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Pasalnya, jarak umat Islam saat ini sangat jauh dengan Nabi Muhammad SAW, hampir 15 abad. Jika Rasul ibarat mata air, manusia saat ini adalah muaranya.

Lebih lanjut dai yang terkenal dengan guyonan segarnya itu menjelaskan bahwa rentang waktu hidup Nabi Muhammad SAW dengan umatnya sekarang yang begitu jauh, sekitar lima belas abad, menjadikan setiap umatnya belum tentu dapat memahami persoalan yang terjadi pada masa Nabi dahulu. Apalagi orang yang tidak memiliki silsilah nasab keilmuan yang bersambung kepada Nabi pasti akan sulit memahami ajaran Nabi. KH Anwar Zahid mengibaratkan Nabi sebagai mata air yang bersih dan jernih sedangkan umatnya sekarang ibarat sebagai muara yang terkadang kotor dan tak terawat.

Sehingga jika seseorang ingin mengambil instinbath hukum berdasarkan ajaran Nabi tentu tidak bisa langsung, harus melalui proses yang panjang untuk bisa mendalami khazanah keilmuan yang sangat kompleks. “Rasulullah ibarat mata air yang sangat bersih, jernih, bening, sedangkan kita ibarat sungai kecil yang sudah sampai di muara, keruh karena lumpur, kotor karena sampah,” ungkap KH Anwar Zahid.

Untuk bisa mencapai mata air tadi, KH Anwar Zahid mengibaratkan masyarakat agar mencari sumber air yang besar yang masih jernih yaitu para ulama dan para kiai yang sanad keilmuannya bersambung dari Rasulullah. Hal ini menunjukkan bahwa ketika seseorang cukup ilmu dalam mengambil keputusan dari peliknya permasalahan agama akan lebih tepat dengan mengambil kalam-kalam dari ulama dan kiai, karena bagaimanapun merekalah yang mempunyai kapasitas keilmuan pasca Nabi wafat, seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadis bahwa Ulama adalah pewaris Nabi, sehingga sudah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk menghormati ulama dan mengikuti petuah-petuahnya.

“Kalau gak bisa, setidaknya kita mendekat ke sungai-sungai besar yang arinya masih terjaga kebersihannya, yakni para ulama para kiai yang membimbing kita menuju tuntunan Rasulullah,” terang alumnus pesantren Langitan tersebut.

Segelintir kelompok yang menafikan keberadaan kiai  dan ulama tersebut juga terkadang menganggap remeh dengan literatur kitab-kitab kuning. Sedangkan menurut KH Anwar Zahid keberadaan kitab-kitab kuning tersebut adalah penjabaran dari al-Quran dan Sunnahnya yang berfungsi untuk memudahkan masyarakat dalam memahami al-Quran dan Sunnah. Sebagai orang awam yang minim akan keilmuan pasti akan mengalami kesulitan jika langsung mengambil hukum dari al-Quran dan Sunnah, sehingga langkah yang tepat adalah mendalami ilmu agama melalui ulama dan kitab kuningnya. Gerakan kembali ke al-Quran dan Sunnah harus dimaknai dengan mengaji dan memperdalam khazanah keilmuan kitab-kitab klasik dan tidak cukup bermodalkan al-Quran terjemahan saja.

“Adanya kitab kuning karangan para ulama sudah merupakan penjabaran detail Al-Qur’an dan Hadis sehingga kita mudah memahami dan mengamalkan. Memahami Al-Qur’an dan Hadis melalui kitab kuning seperti meminum madu yang sudah diperas, tinggal diminum saja, sedang memahami Al-Qur’an dan Hadis langsung tanpa melalui kitab kuning ibarat meminum madu langsung dari lebahnya”, pungkas KH Anwar Zahid.

%d blogger menyukai ini: