Gus Baha: Puncak Keimanan Adalah Akhlak

ISLAMRAMAH.CO, Menjadi seorang muslim adalah anugerah sekaligus rahmat tak terhingga dari Allah Swt. Nilai-nilai dan ajaran luhur agama Islam, yakni rahmatan lil alamin menjadi bukti betapa Islam mendambagakan suatu tatanan masyarakat yang islami, yang memberikan kedamaian bagi seluruh makhluk semesta alam. Pangkal dari sebuah nilai yang dianut oleh setiap muslim adalah iman kepada Allah, sementara buah dari iman adalah pengalaman spiritualitas ruhani, sehingga output dari keimanan seseorang akan melahirkan kedamaian dan kebahagiaan bagi sesama.

Menurut Rais Syuriyah Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Bahaudin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha, bagi seorang muslim yang beriman pasti akan menuai rasa keimanan tersebut, seperti yang disebutkan dalam hadis-hadis Nabi. Kendati demikian, para pendakwah jarang mengurai bab ini, padahal masalah ini penting untuk dibahas agar menumbuhkan semangat umat muslim untuk meningkatkan keimanannya dan lebih mencintai agama Islam sebagai agama perdamaian.

“Rasa manisnya iman ini sering disebut dalam hadits. Tetapi hal ini jarang sekali diangkat oleh banyak orang. Padahal ulama dalam syarah-syarah hadits menjelaskan banyak masalah ini,” kata Gus Baha dalam pengajian yang diselenggarakan di Masjid Bayt Al-Qur’an, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, beberapa waktu lalu dilansir dari nu.or.id

Ulama muda yang dikenal luas akan pemahaman ilmu agamanya tersebut menjelaskan, di dalam kitab Fathul Bari karangan Ibnu Hajar Asqalani disebutkan manisnya iman hanya dapat diperoleh oleh umat Islam yang benar-benar beriman. Manisnya iman yang dirasakan adalah kenyamanan akal pikiran menerima ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW. Sehingga orang yang merasakan manisnya iman akan dengan mudah mengikuti segala tindak tanduk dan tuntunan Rasulullah. Hal ini berarti orang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah akan senantiasa melahirkan akhlak yang mulia serta terpuji.

“Nanti akan saya bacakan ta’birnya (kutipan teksnya). Orang yang beriman mesti nyaman akal pikirannya. Bayangkan, Nabi Muhammad datang di tengah masyarakat Qurasy, lalu mengatakan bahwa maujudat, alam semesta, atau segala sesuatu yang ada ini diciptakan oleh zat yang gaib. Masyarakat jahiliyah heran, kok barang yang ada diciptakan oleh yang tidak ada? Tetapi bagi orang beriman, hal itu nyaman saja pada akal,” ulas  Gus Baha.

Lebih lanjut Gus Baha mencontohkan orang yang merasakan kenyamanan akal menerima ajaran Rasulullah seperti kepercayaan seorang pasien terhadap dokter yang mengobatinya. Ketika pasien diberi obat ia akan benar-benar merasa nyaman, beda ketika pasien tidak percaya maka  akan menyangkal resep tersebut. Pesan yang bisa dipetik dari ceramah Gus Baha adalah ciri orang yang benar-benar beriman adalah senantiasa mudah menerima dan menjalankan tuntunan dari Rasulullah. Puncak dari ajaran Rasulullah adalah akhlak, sehingga kalau ada yang merasa iman kepada Rasulullah namun menanggalkan akhlak mulianya, tentu keimanan seseorang tersebut belum bisa dikatakan sempurna.         

“Manisnya iman itu puncaknya iltidzadzan aqliyan, kenyamanan akal karena iltidzadz aqliy dapat merasakan kesempurnaan dan kebaikan sebagaimana riilnya yang dapat mengantarkannya kepada kemaslahatan dan kebaikan dunia dan akhirat,” pungkas santri dari Mbah Maimoen Zubair tersebut.

Comments
Loading...