Kiai Marzuqi Mustamar: Jangan Merasa Hebat Lantaran Lulusan Timur Atau Barat

ISLAMRAMAH.CO, Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Mungkin pribahasa itulah yang tepat untuk menggambarkan bahwa setiap negeri dan sebuah bangsa pasti memiliki adat dan budaya yang berbeda-beda. Dalam konteks ajaran Islam, setiap negara dan wilayah pasti memiliki karakteristik keberislamannya. Bagi mereka yang tengah belajar Islam di negeri lain, pasti merasakan betul perbedaan-perbedaan karakteristik itu. Namun demikian, dalam konteks Indonesia, seorang pelajar yang tengah belajar ke luar negeri jangan sampai terjebak pada egoisme dengan meninggalkan identitas keindonesiaannya.

Tak terkecuali bagi para santri yang saat ini sudah banyak menempuh studi di Timur Tengah maupun di Barat, juga jangan sampai meninggalkan budaya khas Nusantara. Bekal ilmu yang didapat dari hasil studi di negara Timur Tengah dan Barat harus bisa diinternalisasikan dengan budaya Nusantara, artinya walaupun mendapatkan ilmu dari tempat yang berbeda, namun jangan sampai adat ketimuran ditinggalkan.

Menurut seorang santri yang dulu pernah mengeyam pendidikan di Timur Tengah dan saat ini menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nadhlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, yakni KH Marzuqi Mustamar, santri yang tengah belajar di luar negeri, baik di Timur Tengah maupun di Barat hendaknya tidak meninggalkan identitas dan budaya kesantriannya. Menurut Kiai Marzuqi, tidak semua budaya Arab dan Barat cocok diterapkan di Indonesia karena Indonesia sendiri sudah memiliki budaya adiluhung yang sangat dijunjung masyarakatnya. Sebagai lahan dakwah, seorang santri harus memahami kultur dan adat istiadat masyarakatnya. “Mas, di sini Jawa, bukan Arab,” kata Kiai Marzuqi saat menyampaikan pengajian rutin di mushalla PWNU Jawa Timur belum lama ini.

Lebih lanjut Kiai Marzuqi menyoroti tentang perilaku sebagian orang yang kadang tidak sesuai dengan budaya Nusantara, bahkan perilaku tersebut condong ke perilaku sombong karena ingin memperlihatkan strata tingkat keilmuannya melalui pakaian yang dipakainya. Padahal kealiman seseorang tidak diukur melalui pakaiannya akan tetapi sejauh mana pengetahuan agamanya. “Belajar di Arab maupun Barat bukan berarti harus berpenampilan dan berperilaku layaknya orang Arab dan Barat,” tandasnya.

Ulama yang menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang ini juga menambahkan bahwa tidak elok sebagai seorang santri yang pernah menuntut ilmu di luar lantas menyalahkan ulama yang notabenenya jasa terhadap bangsa dan agama sangatlah besar. Jelas pemahaman tentang penguasaan referensi kitab kitab rujukan haruslah dipadu padankan dengan pemahaman tentang budaya maupun adat istiadat setempat karena budaya dan agama adalah komponen yang tidak bisa dipisahkan.

“Jangan kemudian merasa hebat lantaran lulusan Arab atau Barat, lantas menyalahkan para pendahulu yang kontribusinya sangat jelas untuk dakwah Islam dan menjaga bangsa,” pungkas Kiai Marzuqi

Comments
Loading...