PBNU: Bom Bunuh Diri Ciderai Kemanusiaan

ISLAMRAMAH.CO, Miris! Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi terkini terkait ledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara, pada Rabu (13/11) pagi. Pelaku yang disinyalir berprofesi sebagai pengendara ojek online dan berstatus mahasiswa membuat mata kita terbelalak, bahwa siapa pun dengan beragam profesi bisa bertindak di luar nalar. Ini membuktikan paham ekstremis-jihadis sudah menjangkiti masyarakat di kalangan akar rumput. Pemerintah serta elemen masyarakat sudah seharusnya merumuskan bersama gerakan kontra ekstremisme.

Pemahaman agama yang tidak  komprehensif  juga dapat memicu seseorang untuk bertindak ekstrem dengan menyalahkan kelompok yang tidak sepaham dengannya. Pada titik akhir seorang yang sudah fanatik tersebut akan memiliki pemahaman bahwa kelompok yang di tidak sepaham dengannya maka halal darahnya untuk ditumpahkan. Jelas, pemahaman ini sudah melenceng dari pemahaman sebenarnya mengenai konsep jihad. Menurut Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) melalui Sekretaris Jendral nya, Helmy Faishal Zaini, jihad yang sebenarnya adalah mengupayakan perdamaian dengan cara-cara kebaikan, sehingga bom bunuh diri bukan termasuk dalam kategori jihad.

“Islam mengutuk kekerasan. Bahkan tidak ada satupun agama dan ideologi di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan. Bom bunuh diri bukan jihad. Bom bunuh diri bukan perintah agama,” cetus Helmy dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/11) seperti dilansir dari situs cnn.com

Bahkan menurut Helmy,  pemaknaan mengenai jihad terkadang hanya terpaku pada perang dan sebagainya, padahal dalam Islam upaya untuk memuliakan manusia, bekerja untuk menghidupi keluarga adalah termasuk bagian dari jihad. Masyarakat sudah seharusnya tidak terpancing provokasi dengan dalih agama, karena bagaimanapun kehadiran agama bertujuan untuk mencipakan perdamaian buka malah menimbulkan konflik dan kegaduhan.

“Jihad dalam pemaknaan Islam adalah justru segala usaha untuk memuliakan manusia; Orang tua yang bekerja siang malam untuk menafkahi keluarganya adalah bagian dari jihad,” ungkap menteri pembangunan daerah tertinggal masa Presiden SBY tersebut.

Lebih lanjut, tokoh yang juga menjabat sebagai DPR RI tersebut mengatakan, penegak hukum punya tugas besar untuk segera mengusut motif dan akar perilaku tindakan bom bunuh diri tersebut, agar terciptanya keamanan dan ketertiban di masyarakat. Pemerintah khususnya, memiliki tugas maha berat untuk melakukan tindakan tegas kepada oknum maupun ormas yang berpretensi melakukan hal serupa. Masyarakat Indonesia sudah seharusnya memiliki  narasi yang sama, bahwa kegiatan teror dan bom merupakan musuh bersama. “Mendorong aparat untuk mengusut tuntas motif dan akar perilaku tindakan bom bunuh diri,” pungkas Helmy.

Comments
Loading...