ISLAMRAMAH.CO, Sebagai umat beragama, kita tidak boleh mencatut nama agama untuk kepentingan politik. Apabila agama dimasuki kepentingan politik, maka agama berpotensi digunakan untuk kepentingan jangka pendek pragmatis yang dapat mengotori kesucian agama itu sendiri. Pencatutan agama dalam politik tidak hanya sebagai tindakan yang dilarang oleh agama, melainkan juga cerminan dari rendahnya peradaban manusia yang zalim karena begitu tega menghinakan kemuliaan agama.

Pesan itulah yang disampaikan mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif dalam menyikapi maraknya politisasi agama jelang pemilihan umum. Menurut Buya Syafii, sepanjang sejarah demokrasi Indonesia, banyak politisi yang kerap menggunakan nama agama untuk kepentingan politiknya. Bahkan tidak sedikit politisi yang menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai dalil tujuan politiknya.

“Memperalat Tuhan untuk tujuan politik yang kotor itu tidak bisa dibenarkan. Sepanjang sejarah demokrasi kita, ayat Al-Qur’an, Tuhan, dibajak oleh politisi-politisi yang tidak mau naik kelas jadi negarawan,”tegas tokoh senior Muhammadiyah itu.

Oleh karena itu, Buya Syafii memberi pesan kepada para politisi untuk menjadikan agama sebagai acuan moral, dan bukan untuk kepentingan politik. Menjadi politisi harus tampil secara beradab, saling menghargai, tidak menyampaikan ujaran kebencian, dan tidak melakukan tindakan yang tidak dibenarkan oleh agama dan akal sehat.

%d blogger menyukai ini: