Gus Mus: Jangan Membid’ahkan Maulid Nabi

ISLAMRAMAH.CO, Tradisi Islam di Indonesia dikagumi oleh dunia. Pasalnya, Islam yang berkembang di Indonesia bukanlah Islam yang kaku, tetapi amat lentur dan fleksibel sehingga wajah Islam di Indonesia berbunga-bunga dan menggembirakan. Ada begitu banyak tradisi Islam Indonesia yang tidak mungkin ditemukan di wilayah Muslim lain di dunia, seperti tradisi maulidan, tahlilan, slametan dan sebagainya. Tradisi semacam ini tidak saja menampilkan wajah Islam yang teduh dan penuh keakraban, tetapi juga menjadi medium bagi Muslim Indonesia untuk lebih meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt.

Namun demikian, sayang seribu sayang, tradisi Islam Indonesia yang menyemai di antara keberagaman di Indonesia itu acapkali mendapatkan tuduhan-tuduhan tak berdasar dari sebagian kelompok. Tradisi peringatan maulid Nabi misalnya, kerapkali dianggap bid’ah dan tidak sesuai dengan ajaran Rasul. Begitu juga tradisi-tradisi lain seperti ziarah kubur sampai acara-acara slametan dianggap tidak sesuai ajaran Islam. Menyikapi kelompok yang kerap menuduh bad’ah tersebut, KH Musotofa Bishri atau Gus Mus mengatakan kelompok tersebut tidak mengaji sehingga pikirannya menjadi sempit dan wawasan keislamannya dangkal.

Menurut Gus Mus, masyarakat Muslim Nusantara begitu mencintai Nabi sehingga tiap tahun, bahkan tak perlu menunggu bulan kelahiran Nabi, masyarakat Muslim Nusantara menggelar perayaan kelahiran Nabi dengan membaca shalawat seperti Barzanji. Begitu halnya masyarakat Muslim Indonesia juga mencintai ulama-ulama panutan sehingga saking cintanya tiap tahun menggelar haul, yakni peringatan hari wafat seseorang, terutama para ulama dan kiai.

“Tahlilan dibilang bid’ah. Itu dia tidak ingat. Orang desa bisa ingat Allah itu karena tradisi-tradisi seperti tahlilan. Kalau ini dibid’ahkan lalu orang tidak ada yang tahlilan, wong ada tahlilan saja masih banyak yang lupa Gusti Allah, bagaimana terus kalau tidak ada tahlilan?” ungkapnya saat memberikan tausyiah acara temu alumni pesantren asuhannya yang berlangsung di aula pesantren setempat, Sabtu (2/11).  

Gus Mus mengibaratkan adanya kegiatan-kegiatan seperti haul saja masih banyak orang yang lupa akan jasa-jasa ulama, bagaimana kalua kegiatan itu ditiadakan. Bisa jadi orang makin lupa atas jasa-jasa para kiai dan ulama. Begitu juga dengan peringatan-peringatan tahlilan, maulid Nabi, itu semua dilakukan sebagai akhlak bagi seorang Muslim untuk menghargai jasa-jasa orang terdahulu. “Ada peringatan haul saja masih banyak santri yang lupa terhadap kiai dan apa yang diajarkan. Lalu bagaimana jika peringatan haul itu sampai dibid’ahkan?” imbuhnya.  

Atas dasar itu, kiai Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah ini sampai menaruh kecurigaan terhadap perilaku orang-orang yang suka membid’ahkan itu. Apa yang oleh kelompok tertentu, tradisi-tradisi itu dibid’ahkan sesungguhnya mencerminkan sikap arogansi dan merusak ajaran Nabi. “Sekarang saya curiga sama orang-orang yang suka membid’ahkan. Ini jangan-jangan mau merusak ajaran Kanjeng Nabi,” kata putra Kiai Bisri Mustofa ini.

Menurut Gus Mus, tren orang-orang yang baru belajar Islam mutakhir memiliki sikap dan keinginan belajar agama secara kuat, namun tidak dilandasi dengan iktikad dan usaha mengaji di pondok pesentren sehingga ilmu-ilmu agama yang mereka dapatkan tidak bisa diverifikasi sumbernya. Santri sebagai pewaris ilmu-ilmu dalam khazanah keislaman diminta untuk lebih semangat untuk menyebarkan Islam Indonesia yang moderat, ramah dan menghargai perbedaan-perbedaan yang ada.

“Orang-orang yang Islamnya masih baru, 10-20 tahun itu tidak tahu, makanya marah-marah sewaktu mendengar istilah Islam Nusantara. Mereka mengira kalau Islam Nusantara itu suatu kategorisasi, ini ada Islam Arab, ini ada Islam Nusantara. Itu karena mereka tidak pernah mengaji, tidak tahu apa itu idhafah. Kalau santri itu tidak perlu menjelaskan mana dalilnya,” pungkasnya.

Comments
Loading...