Fahruddin Faiz: Kehidupan Kontroversial Abu Nawas yang Berakhir Sufi

KhazanahHikmahFahruddin Faiz: Kehidupan Kontroversial Abu Nawas yang Berakhir Sufi

Abu Nawas hidup pada masa Harun Ar-Rasyid. Masyarakat luas mengenal ceritanya dalam kisah 1001 malam sebagai tokoh yang kerap melontarkan humor cerdas, baik dalam sikap maupun tutur katanya. Padahal bagi para peneliti sastrawan, sebenarnya sosok Abu Nawas sangat kontroversial karena kehidupannya yang liar. Namun, dengan anugerah Tuhan di luar dugaan menjelang akhir hayatnya kebiasaan bebas itu perlahan terkikis, sehingga mengubahnya meniti jalan tasawuf.

Hal yang tak pernah berubah dalam hidup Abu Nawas adalah jiwanya sebagai penyair. Adapun sisi kontroversial Abu Nawas, tidak lain bagian dari kehidupan seseorang pada umumnya, yang tidak selalu baik dan lurus. Salah satu lahirnya diwan bergenre khamriyah dinisbatkan pada Abu Nawas itu dilatarbelakangi oleh syair-syair yang digugahnya yang selalu bertemakan khamr. Ia populer dikenal peminum khamr yang kuat, semakin banyak khamr yang diminum dan mabuk, kian bagus unggahan-unggahan syairnya. Tidak sampai di situ, konon ia juga senang bermain perempuan atau laki-laki, termasuk beberapa kali masuk penjara karena ulahnya.

Fahruddin Faiz dalam kanal youtube Masjid Jendral Sudirman (MJS) menguraikan, “Bahwa Abu Nawas memang demikian adanya. Dalam kehidupan ia melalui banyak kekecewaan, yang mana ia ekspresikan dengan bersenang-senang melalui caranya sendiri, bersyair dengan satir dan indah, tidak berujar dengan cacian atau melukai orang lain”.

Kemudian pakar filsafat Islam ini juga mengutip komentar tokoh-tokoh yang menggambarkan siapa Abu Nawas sebenarnya. Di antaranya, Abdurrahman Shidqi mengatakan, Abu Nawas itu seorang pencari kenikmatan hidup (thalib ladzdzah) – namun kelezatan yang dimaksud lebih pada kenikmatan intelektual. Syairnya yang satir, sebagian besar digunakan untuk mengkritik masyarakat, pemerintah, dan lainnya yang malu-malu mengekspresikan kenikmatan dan kebahagiaan yang mana bagi Abu Nawas yang kritis mereka ini hipokrit atau munafik.

Komentar berikutnya dari Ibnu Mu’taz dalam Thabaqat al-Shu’ara, Abu Nawas adalah seorang fakih yang banyak mengetahui hukum dan fatwa agama, berpikiran terbuka dan memiliki hafalan kuat dan pengetahuan modern, mengetahui nasikh-mansukh dan muhkam mutasyabihat al-Quran. “Sayangnya Abu Nawas ini telah karam dalam hawa nafsunya. Siapa yang menang akan mengabdikan yang kalah. Jika yang kalah adalah nafsunya maka ilmu akan mendukungnya, sebaliknya bila yang menang adalah nafsunya, ilmu akan mengikut padanya. Syaiqi Dhaif, menyebutnya akumulasi krisis  pribadi. Demikian bahayanya orang pintar yang tidak dikuatkan keimanan akan seperti ini”, Fahruddin Faiz menambahkan.

Baca Juga  Syekh Abdul Qadir al-Jilani: Bencana Datang Untuk Menguji Keimanan
Baca Juga  Mempertanyakan Komitmen Pegiat Khilafah terhadap Kemanusiaan

Hal yang tak kalah memukau dari kehumorisan Abu Nawas adalah pertobatan di akhir hidupnya. Dikisahkan suatu ketika pada malam ganjil (lailatul qadar di bulan Ramadhan) Abu Nawas seperti biasa minum-minuman keras, dalam kondisi mabuk berat tiba-tiba seorang tak dikenal mendatanginya dan berucap, “Hai Abu Hani, jika engkau tidak mampu menjadi garam yang melezatkan makanan, janganlah engkau menjadi lalat yang menjijikan, yang merusak hidangan itu”. Mendengar ucapan itu, Abu Nawas terhentak dan tersadar atas segala perilakunya. Ada versi lain dari beberapa tokoh yang juga mengisahkan pertaubatan sang legendaris humor tersebut.

Usai unggahan syair-syairnya yang semula erotis dan liar, kini syair Abu Nawas berubah menjadi lebih religius. Salah satunya syair i’tiraf (sebuah pengakuan) yang masih populer hingga kini karena maknanya yang luar biasa dan indah. Beberapa syair lainnya juga mensinyalir tentang pertobatan dan penyesalan, kiranya Abu Nawas ini telah melakukan taubat nasuha (taubat yang murni), sampai para ulama menengarai ia telah meniti jalan sufi. “Demikian kehidupan Abu Nawas itu menarik, karena ia dikenang melalui puisi-puisinya dan pertaubatannya yang luar biasa. Sebuah babak akhir kehidupan yang indah”, ujar narasumber ngaji filsafat Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta. 

Artikel Populer
Artikel Terkait