Habib Luthfi: Dakwah Wali Songo Tanpa Kekerasan

ISLAMRAMAH.CO, Islam di Indonesia tak lepas dari peran besar Wali Songo. Peran dan kontribusi para wali Sembilan itu sangat besar, tidak hanya bagi perkembangan dan jumlah Muslim di Nusantara yang begitu besar, melainkan juga bagi corak dan cara beragama Muslim di Indonesia. Saat ini, Islam di Indonesia dikenal sebagai Islam yang ramah, moderat dan toleran. Hal itu tak lepas dari cara dakwah para wali yang mengedepankan kearifan dan moralitas yang luhur (akhlakul karimah).

Menurut Habib Luthfi, perjuangan dakwah Wali Songo di Indonesia tidak kenal kekerasan. Justru dakwah yang disampaikan adalah dengan lemah lembut dan welas asih. Cara dakwah yang semacam itu bisa menjadikan masyarakat dengan suka rela memeluk agama Islam tanpa paksaan. Cara semacam itu pula yang menjadikan Islam mudah berkembang di Indonesia. Dakwah para Wali Songo senantiasa menghadirkan kegembiraan bagi masyarakat umum.

“Perjuangan para ulama Wali Songo yang terjadi pada 500 tahun yang lalu membuat kita para ulama dan habaib agar tetap mempertahankan ajaran Aswaja di tanah air ini,” ujarnya di hadapan ribuan umat Islam yang menghadiri acara Silaturahim dan Halal bi Halal Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama dan Rabithah Alawiyah Pekalongan, Jawa Tengah, di eks Pendopo lama Alun-alun Kota Pekalongan, Selasa (2/7) malam.

Ketua Forum Ulama Sufi Internasional ini juga mengatakan bahwa apa-apa yang kita perbuat untuk negara dan agama tak sebanding dengan jasa para wali terdahulu. Karena itu, masyarakat diminta untuk meneladani dakwah Wali Songo. “Kadang terbersit di hati saya untuk mengucapkan terima kasih, kepada beliau-beliu. Tapi saya sungguh malu, ucapan terima kasih saja ternyata tidak cukup dan terlalu kecil dibanding jasa-jasa Wali Songo di bumi nusantara,” tandas Habib luthfi.

Selain itu, menurut Habib Luthfi, meskipun yang dihadapi para Wali adalah penjajah, namun itu semua tidak mengubah cara lembat dakwah Wali Songo. “Beliau dalam berdakwah dengan lembut tanpa kekerasan padahal pada waktu itu yang dihadapi adalah kaum penjajah, dengan telaten mengenalkan huruf-huruf dalam Al-Qur’an dari kampung ke kampung,” terangnya.

Comments
Loading...