Puasa Jempol

Dalam sebuah hadis yang masyhur, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan pahala apa-apa dari puasanya, kecuali hanya rasa lapar dan dahaga.”

Hadis ini dapat menjadi acuan bagi setiap muslim yang sedang menunaikan ibadah puasa selama Ramadhan. Puasa bukan sekedar perkara tidak makan dan minum. Lebih dari itu, puasa merupakan olah batin yang di dalamnya termasuk menahan diri dari perbuatan yang dapat menjadikan puasa menjadi sia-sia.

Atas dasar itu, Imam Al-Ghazali dalam magnum opusnya, Ihya’ Ulumuddin mengajak kita melaksanakan ibadah puasa secara paripurna dengan membersihkan hati dari keburukan dan menjauhi segala perbuatan buruk. Puasa harus benar-benar dilakoni dengan melibatkan jiwa dan raga sekaligus sehingga dapat membentuk kepribadiaan seorang Muslim yang paripurna.

Namun, hakikat puasa di atas masih jauh api dari panggang. Dalam era media sosial yang makin mengkhawatirkan ini, kita sepertinya tidak melihat adanya pembeda antara bulan puasa dan bukan bulan puasa. Pasalnya, di media sosial masih berseliweran ujaran kebencian, semburan kebohongan, dan fitnah.

Bahkan, mohon maaf, mereka yang dari tampilan lahirnya seolah-olah mengerti hakikat puasa justru beberapa unggahan di akun media sosialnya terlihat sangat jauh dari makna puasa yang hakiki. Alih-alih menjadikan puasa sebagai instrumen menata hati dari segala perbuatan buruk, malah menonjolkan sejumlah ujaran dan unggahan yang dapat menimbulkan fitnah, semburan kebohongan, dan ujaran kebencian.

Karena itu, sudah saatnya kita menggelorakan sebuah gerakan Bersama agar kita “puasa jempol”, puasa dengan cara menahan jempol agar tidak menulis hal-hal yang dapat mengganggu kualitas ibadah puasa kita. Seruan ini sangat mendesak agar Ramadhan benar-benar bermakna dalam kebiasaan kita menggunakan media sosial.

Betapa media sosial telah menjadi lahan yang subur untuk memupuk permusuhan dan perselisihan. Apalagi di tengah panasnya suhu politik yang tidak kunjung mereda, puasa jempol sangat mendesak digelorakan. Setidaknya, kita mempunyai filter dalam hati dan pikiran untuk tidak mengunggah hal-hal yang dapat menimbulkan keburukan dan kejahatan.

Ramadhan sejatinya menjadi pembeda dengan bulan-bulan lain. Sebab di bulan ini kita dituntut berlomba-lomba untuk beribadah dan menebarkan kebajikan kepada yang lain. Karena itu, jika kita justru berlomba-lomba menebarkan keburukan dan ujaran kebencian, puasa kita secara otomatis tidak bermakna apa-apa.

Kita semua ingin puasa kita dapat menempa batin dan membangun karakter sebagai Muslim. Alangkah indahnya jika puasa jempol dapat menjadi pegangan kita selama Ramadhan ini.

Ada dua pegangan yang dapat dilakukan agar kita benar-benar bisa melaksanakan puasa jempol, yaitu bertutur dengan menggunakan pesan yang positif atau diam tidak mengunggah apapun di media sosial, sebagaimana pesan Nabi Muhammad Saw, “Barang siapa beriman kepada Allah Swt dan hari akhir, hendaknya ia bertutur baik atau diam.”

 

Tulisan ini diterbitkan di Koran Tempo, Kamis (9/5)

Comments
Loading...