Ngaji Maraqi Al-‘Ubudiyah: Memelihara Persahabatan (Bagian 1)

ISLAMRAMAH.CO, Apabila engkau menjalin persahabatan dan persaudaraan, tunaikanlah hak dan kewajiban kepada saudara dan sahabatmu secara adil. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda: “Perumpamaan dua orang saudara/sahabat adalah seperti dua tangan, yang satu membasuh yang lainnya”

Rasulullah mengibartkan keduanya dengan dua tangan, bukan dengan kaki karena keduanya saling membantu untuk mencapai satu tujuan bersama. Begitu juga dengan dua orang yang bersaudara. Persaudaraan keduanya menjadi sempurna bila saling menopang dan membantu mewujudkan apa yang diharapkan. Hal ini menuntut kebersamaan dalam menghadapi berbagai keadaan, baik suka maupun duka, sekaligus kebersamaan di masa sekarang maupun yang akan datang.

Suatu ketika Rasulullah memasuki hutan, kemudian beliau mengambil dua ranting pohon, yang satu bengkok dan yang lainnya lurus. Menurut riwayat, saat itu Rasulullah bersama seorang sahabat bernama ‘Abdurrahman bin ‘Auf atau ada yang mengatakan beliau ditemani ‘Utsman bi ‘Affan. Kemudian Rasulullah memberikan ranting yang lurus kepada sahabatnya dan menahan yang bengkok untuk dirinya. Lalu sahabatnya berkata, “Ya Rasulullah, engkau lebih berhak memegang yang lurus daripada aku.”

Rasulullah menjawab, “Tidaklah seorang menemani temannya walaupun sesaat di siang hari, melainkan ia akan ditanya tentang persahabatannya, apakah ia menegakkan hak-hak Allah dalam persahabatan itu atau menyia-nyiakannya.” Hadis ini menunjukkan bahwa yang lebih diutamakan adalah menegakkan hak-hak Allah dalam persahabatan.

Dalam hadis lain dikatakan, ketika Rasulullah keluar menuju sebuah sumur untuk mandi, Hudzaifah memegang kain dan berdiri sambil menutupi Rasulullah hingga selesai mandi. Kemudian Hudzaifah duduk untuk mandi, dan Rasulullah pun mengambil kain itu dan berdiri menutupi Hudzaifah daripada orang-orang. Namun Hudzaifah menolak seraya berkata, “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu wahai Rasulullah, janganlah engkau lakukan itu.”

Akan tetapi, Rasul tetap menutupinya hingga Hudzaifah selesai mandi. Kemudian beliau bersabda, “Tidaklah dua orang berteman, melainkan yang paling dicintai Allah adalah yang paling lemah lembut kepada temannya.” Maka dari itu, dalam sebuah persahatan, dituntut 22 macam adab, yaitu:

Pertama, mengutamakan teman dalam pemberian harta. Jika engkau tidak bisa melakukannya, bantulah ia saat membutuhkan walaupun sedikit. Dalam masalah pemberian harta kepada teman ini ada tiga macam tingkatan. Tingkatan terendah, jika engkau menempatkan temanmu seperti pelayan atau hamba sahaya yang memenuhi kebutuhanmu dari hartamu. Jika ia membutuhkan sesuatu, sedangkan engkau mempunyai kelebihan harta, bantulah ia dengan hartamu sebelum ia meminta. Karena, jika ia sampai meminta kepadamu maka itu adalah puncak kecerobohanmu terhadap hak-hak persaudaraan.

Tingkatan kedua, menempatkan seorang teman seperti dirimu sendiri, dan engkau rela ia ikut menikmati hartamu. Adapaun tingkatan tertinggi yaitu lebih mengutamakan teman daripada dirimu, serta mendahulukan kebutuhannya di atas kebutuhanmu bila sama-sama mempunyai kebutuhan. Ini adalah tingkatan paling shiddiqin dan puncak tertinggi orang-orang yang saling mengasihi dan mencintai. Adapun mengutamakan orang lain dalam hal ibadah hukumnya makruh.

Comments
Loading...