Islam Nusantara Kebanggaan Masyarakat Global

ISLAMRAMAH.CO, Islam Nusantara merupakan kebanggaan masyarakat global. Sebab, Islam di Nusantara tidak bertentangan dengan peradaban komtemporer, bahkan Islam Nusantara menjadi bagian kemajuan peradaban mutakhir ini. Ketika banyak negara mayoritas berpenduduk Islam belum menemukan titik persinggungan yang tepat dengan demokrasi, kemajuan teknologi, hingga kebudayaan, justru Islam Nusantara hadir sebagai fleksibelitas Islam dengan peradaban. Maka tidak mengherankan apabila Islam Nusantara melahirkan umat Islam yang moderat, ramah dan toleran.

Menurut peneliti ahli Indonesia asal Amerika Serikat, Robert W. Hefner, Islam Nusantara adalah gaya hidup umat Islam Nusantara yang memadukan antar nilai-nilai luhur tradisi budaya dengan ajaran-ajaran Islam. Melalui kelenturan ini menurutnya Islam Nusantara mementingkan ajaran Islam yang substantif sekaligus meneguhkan bahwa Islam tidak bertentangan dengan budaya.

“Islam Nusantara adalah suatu kebanggaan terhadap gaya hidup mereka sebagai orang Indonesia dan pengakuan bahwa sebetulnya adat istiadat Indonesia yang benar itu tidak sama sekali bertentangan dengan agama Islam,” kata Robert usai memberikan kuliah umum di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Jakarta, Jumat (11/1).

Islam Nusantara oleh peneliti terkemuka dunia itu dinilai telah memberikan ragam makna baru yang positif mengenai kandungan ajaran-ajaran Islam. Tidak saja dalam arti Islam yang formal saja, tetapi Islam Nusantara bahkan telah mewujud pada pengalaman Islam yang esensial “Bahkan memberikan sebuah tafsiran yang sangat positif terhadap nilai-nilai Islam yang benar, betul, dan pokok,” tegasnya.

Hefner juga menambahkan bahwa sejak dulu tradisi Islam Nusantara telah kompromistis terhadap nilai-nilai tradisi dan agama, bahkan sejak istilah itu belum digunakan. Islam Nusatara adsalah tipologi keberislaman ala masyarakat Islam Nusantara yang distingtif yang tidak akan ditemui di berbagai wilayah lain. “Islam Nusantara lanjutan sesuatu sejak dulu di kalangan NU dan di kalangan sebagian besar dari komunitas Muslim di sini,” ujarnya.

Hefner juga menilai kalangan yang menolak istilah Islam Nusantara sebenarnya salah paham mengenai istilah itu. Sebab, meskipun istilahnya baru, tetapi pengamalan nilai-nilai keagamaan Islam Nusanatar sudah dilakukan sejak dahulu, bahkan sebelum Indonesia merdeka. “Walaupun istilahnya baru, menurut pengalaman saya di kalangan NU selama lebih dari 40 tahun, ada jiwa seperti itu jauh dulu sebelum istilah itu diciptakan,” pungkasnya.

Comments
Loading...