ISLAMRAMAH.CO, Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kamis, (10/1) atau bertepatan 4 Jumadil Awal 1440 H, telah berpulang ke Rahmatullah, perempuan hebat yang seluruh hidupnya diwakafkan untuk masyarakat, agama, dan bangsa. Tentu saja umat Islam berduka, terutama warga Nahdlatul Ulama. Bagaimana tidak, Nyai Hj Nihayah, perempuan Pengasuh Pondok Pesantren As-Shiddiqiyah Putra Jember itu adalah sosok penting di balik kebesaran nama KH Achmad Shiddiq,  tokoh besar NU yang menggagas NU kembali ke khittah: sebagai organisasi keagamaan, dan tidak lagi terlibat dalam politik praktis.

Di balik nama besar mantan Rais ‘Aam PBNU, KH Achmad Shiddiq, ada peran besar Nyai Nihayah dalam menjaga dan memotivasi Kiai untuk terus berjuang dan mengabdi kepada NU. Setiap kali Kiai merasa butuh saran dan teman diskusi untuk memutuskan solusi atas problem sosial yang terjadi, Nyai Nihayah senantiasa hadir untuk memberikan saran dan masukan atau setidaknya motivasi untuk sang Kiai. Ibu Nyai tidak hanya senantiasa menemani Kiai dalam rutinitas kesehariannya, tetapi juga ikut terlibat dalam perjuangan membangun NU dan bangsa.

Menurut Katib Syuriah PCNU Jember, MN Harisuddin, Ibu Nyai adalah sosok penting di balik kesuksesan Kiai Achmad Shiddiq baik sebagai tokoh nasional maupun tokoh Nahdliyin. “Terus terang, beliau adalah sosok hebat di balik kesuksesan KH Achmad Shiddiq, baik sebagai tokoh nasional maupun sebagai Rais ‘Aam PBNU. Kita sebagai penerusnya harus melestarikan perjuangan KH Achmad Shiddiq dan Ibu Nyai Nihayah,” tuturnya saat menghadiri pemakaman Nyai Nihayah Achmad Shiddiq, Jumat (11/1).

Pada usianya yang telah genap 81 tahun itu Ibu Nyai tiada. Akan tetapi, peran dan kontribusi besar kepada bangsa dan ummat tidak mungkin sia-sia. Sebelum wafat, di usinya yang telah sepuh, Ibu Nyai masih tampak semangat dalam rutinitas atau aktivitas yang dijalaninya. Semakin bertambah usianya, semakin memancar pula aura keibuan yang terpatri dalam wajah yang mulai mengeriput itu. Komplek pemakaman keluarga al-Ghafilin yang berlokasi di sebelah barat masjid Al-Ghofilin, Talangsari Jember, Jawa Timur itu menjadi tempat terakhir peristirahatannya.

Dalam sejarahnya, Ibu Nyai Nihayah termasuk perempuan yang luar biasa. Selama hidupnya, ia memegang peran sentral dalam keluarga. Bahkan di tengah-tengah kesibukan, ia masih bisa membagi waktu untuk mengabdi kepada masyarakat, santri dan Nahdlatul Ulama. Ia tak kenal libur di berbagai kegiatan NU, seperti Fatayat dan Muslimat di Jember. Kepercayaan masyarakat dan amanah yang diembannya, menjadikan Ibu Nyai pernah menjadi Ketua Fatayat hingga tiga periode dan Ketua Muslimat selama empat periode berturut-turut. Ibu Nyai tidak hanya menjadi ruh bagi sosial kehidupan masyarakat sekitar, tetapi juga berhasil memberikan kontribusi nyata kepada NU.

Selain itu, Ibu Nyai juga dikenal sebagai tokoh yang menggalakkan sedekah untuk umat fakir miskin dan para du’afa. Ia bahkan berhasil membangun sebuah rumah sakit bersalin Muslimat NU yang diberi nama RSBI Muna Parahita. KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo dan KH Achmad Shiddiq adalah peletak batu pertama pembangunan rumah sakit yang diinisiasi Ibu Nyai. Saat itu, Kiai As’ad memberi pesan agar Ibu Nyai bisa mengelola rumah sakit itu sebaik mungkin dan dengan manajemen yang transparan supaya tidak kalah pelayanannya dengan rumah sakit lain.

Sebelum wafat, Nyai Nihayah sempat menceritakan hal-hal unik mengenai Kiai Achmad Shiddiq. Salah satunya, Kiai Achmad Shiddiq ternyata biasa memberikan nama kepada putra-putrinya sesuai momentum yang terjadi pada saat kelahiran putra-putrinya. Berbeda dengan kebanyakan orang, Kiai Achmad Shiddiq lebih memilih mengenang sebuah peristiwa dengan mencantumkannya pada nama putra-putrinya. “Pak Achmad Shiddiq itu dulu punya kebiasaan memberikan nama anak-anaknya sesuai dengan momentum yang terjadi kala itu,” kenangnya.

Beberapa nama putra-putri Kiai Achmad Shiddiq memang terlihat unik ketika dicermati. Di balik keunikan itu, sebenarnya ada peristiwa yang ingin dikenang. Boleh jadi peristiwa itu adalah peristiwa sejarah besar bangsa Indonesia, atau peristiwa yang berkaitan dengan keluarganya atau bahkan peristiwa besar yang berkaitan dengan Nahdlatul Ulama.

Pada saat Kongres Islam Asia-Afrika misalnya. Kiai Achmad Shiddiq tampaknya ingin mengenang peristiwa besar ini dengan menyematkan pada puterinya yang bernama Ken Ismi Asiati Afrik Rozana. Begitu halnya ketika Kongres Rabithah (kongres pondok pesantren se-Indonesia) yang dilaksanakan di Jember. Kiai dan Ibu Nyai menyematkan peristiwa itu kepada putranya yang bernama Muhammad Rabith Hazmi.

Sejarah kembalinya UUDS ke UUD 1945 juga tak luput dari perhatian Kiai Achmad Shiddiq. Momentum itu diabadikan kepada nama putrinya yang bernama Nida Dusturiyah. Bahkan ketika para kiai NU memisahkan diri dengan pendirian Bung Karno yang ditengarai terlalu memihak kepada PKI, Kiai Achmad Shiddiq pun mengenang peristiwa itu kepada nama puteranya, Muhammad Baliyah Firjoun Barlaman.

Itulah sedikit kisah tentang Ibu Nyai. Kita semua kehilangan sosok penting sebagai perempuan hebat yang konsisten dan teguh pendirian untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Meskipun Ibu Nyai dan Kiai telah tiada, namun kontribuusi besar keduanya kepada negeri menjadi semangat generasi muda untuk terus menerus melestarikan perjuangan keduanya.

Pada hari pemakaman Ibu Nyai, para pelayat berjubel, memadati masjid hingga area pemakaman. Itu semua adalah bukti betapa masyarakat sungguh merasa kehilangan. Talqin yang dibacakan puteranya, KH Firjoun Barlaman, tidak hanya menandakan kerelaan diri dan keluarganya untuk melepas kepergian Ibu Nyai, tetapi juga menggambarkan kesiapan dan keteguhan diri untuk meneruskan perjuangan sang ibu tercinta.

%d blogger menyukai ini: