ISLAMRAMAH.CO – Dalam pandangan umum, politik kerapkali melahirkan intrik yang tak kunjung usai. Masing-masing politisi acapkali menampilkan debat kusir yang ujungnya hanya untuk kepentingan jangka pendek mereka. Tak jarang pula politisi menggunakan agama sebagai alat untuk meraup dukungan dari masyarakat. Padahal, politisasi agama justru dapat mengotori kesucian agama itu sendiri.

Keadaan politik semacam ini, membuat masyarakat pesimis atas masa depan politik di Indonesia. Pada akhirnya pun masyarakat menganggap politik dan agama adalah dua hal yang bertolak belakang. Padahal menurut Quraish Shihab, pakar tafsir terkemuka dari Indonesia, politik dan agama tak bisa dipisahkan. Agama seharusnya menjadi spirit politisi untuk menciptakan kemaslahatan umum, dan bukan justru sebaliknya, menggunakan dalil-dalil agama untuk meraup kepentingan masyarakat.

“Tidak mungkin suatu ajaran yang mengajarkan bagaimana cara masuk WC, bagaimana cara orang kalau bersin, hal yang semacam ini diaturnya, padahal dia tidak atur menyangkut negara, menyangkut masyarakat.  Jadi kita tidak bisa berkata Islam tidak mengenal politik, tetapi di sisi lain politik dalam kenyataannya itu seringkali bertentangan dengan langkah-langkah yang diinginkan agama,” ujar Mantan Menteri Agama tersebut.

Ulama yang juga pendiri Pusat Studi Alquran tersebut mengingatkan agar berhati-hati saat terjun ke dalam dunia politik. Politik sebagai bentuk pengabdiaan kepada masyarakat dan sebagai kemashlahatan merupakan politik yang didukung oleh agama. Sebaliknya, politik yang menggunakan agama demi kepentingan politiknya, justru politik semacam itu sebenarnya menodai kesucian agama itu sendiri. Agama seharusnya menjadi kontrol sosial agar tidak disalahgunakan politisi untuk kepentingan jangka pendek.

“Tujuan dari politik untuk mewujudkan kemashlahtan bersama tentu didukung oleh agama, namun jika agama hanya sebagai kendaraan meraih kekuasaan tentu hal itulah yang dilarang,” ungkap Quraish Shihab.

Menurut penulis Tafsir al-Misbah tersebut, politik berpotensi menjadi candu yang dapat membuat penikmatnya merasa ketagihan. Karena itu, ia mengingatkan kepada para politisi agar memegang prinsip agama secara kuat sebagai benteng untuk menghadapi godaan kenikmatan dunia di dalam dunia politik. Dengan berpegang teguh terhadap agama, maka secara otomatis para politisi akan senantiasa mengingat akan tugasnya, yakni menciptakan kesejahteraan masyarakat.

“Hati-hati politik itu candu. Berpolitiklah dengan hikmah yaitu menciptakan kemashlahatan bersama. Bentengilah politik dengan agama bukan malah menciptakan kekacauan dengan dalih agama,” tegasnya.

%d blogger menyukai ini: