Ngaji Maraqi Al’Ubudiyah: Menjaga Mata

ISLAMRAMAH.CO, Mata diciptakan untuk membimbingmu dalam kegelapan, mencukupi kebutuhanmu, serta melihat kekuasaan Allah swt. dalam penciptaan bumi, langit, dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya. Semua ini agar engkau mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan-Nya, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya. Dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. al-Baqarah [2]: 164).

Oleh karena itu, jagalah matamu dari empat perkara: pertama, memandang wanita yang bukan mahram. Janganlah engkau memandang atau menikmati setiap lekuk tubuh wanita (termasuk mata, rambut, dan kuku) yang bukan mahrammu dengan pandangan penuh syahwat. Apabila mereka berpakaian dengan pakaian yang longgar dan tidak tampak lekuk tubuhnya (menutup aurat) maka tidak apa-apa bagimu untuk memandangnya. Namun, jika tampak lekuk tubuhnya, janganlah engkau memandangnya, berdasarkan sabda Rasulullah:

Barangsiapa memerhatikan bagian belakang tubuh wanita dari balik pakaiannya sampai tampak jelas lekuk tubuhnya, maka ia tidak akan mencium harumnya surga.”

Selain itu, jangan pula memandang aurat wanita, walaupun ia mahrammu. Akan tetapi, jika engkau memandangnya sekilas secara tidak sengaja dan untuk pertama kalinya, maka tidak ada dosa bagimu. Lain halnya jika kamu mengulangi pandanganmu, maka pandangan kedua ini berdosa, sebagaimana diisyaratkan oleh ar-Ramli.

Kedua, memandang bentuk rupa (atau gambar) yang elok dan rupawan meskipun tanpa syahwat. Dalam sebuah hadis diriwayatkan, suatu kaum pernah datang kepada Rasulullah, sedangkan di antara mereka terdapat seorang pemuda tampan yang mulus wajahnya, maka Rasulullah mendudukkannya di belakang punggungnya, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya fitnah yang menimpa Daud disebabkan dari pandangan.” Pandangan di sini berarti zinanya mata.

Ketiga, memandang seorang muslim dengan pandangan menghina. Keempat, memandangan seorang muslim untuk mencari aib dan kekurangannya. Allah swt. berfirman: “Katakanlah kepada orang-orang mukmin supaya mereka menjaga pandangan mereka.” (QS. An-Nur [24]: 30)

Dalam masalah ini, seorang penyair melantunkan puisi dengan pola al-bahar al-Basith:

Semua kecelakaan diawali dari pandangan, api yang besar disebabkan percikannya yang kecil, selama manusia mempunyai mata yang digerakkan, di antara mata-mata yang lentik, ia berada dalam bahaya, berapa banyak pandangan berbekas dalam hati pemiliknya, seperti panah tanpa busur dan tanpa tali, matanya merasa senang dengan yang membahayakan hatinya, padahal tiada kebaikan bagi kesenangan yang menimbulkan bahaya.

Penyair lain berkata:

Apabila seseorang itu berakal dan bersikap wara’, sikap wara’nya akan mencegahnya dari mengurusi aib orang lain, setiap orang sakit parah, rasa sakitnya akan mencegahnya dari mengurusi penyakit orang lain.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.