ISLAMRAMAH.CO, Ketahuilah, agama mempunyai dua ketentuan: pertama, meninggalkan maksiat, dan kedua, mengerjakan ketaatan. Meninggalkan maksiat lebih berat dan lebih sulit daripada mengerjakann ketaatan, dan karena itu pahalanya lebih besar. Setiap orang mampu berbuat taat, tetapi yang mampu meninggalkan syahwat dan maksiat hanya para shiddiqin.

Mereka itulah yang sampai pada hakikat segala sesuatu dengan cara berpikir secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah Swt atau melalui penyucian jiwa dan riyadhah ruhiyyah. Oleh karena itu, Rasulullah Saw bersabda, “Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan keburukan, sedangkan mujahid adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsu.” Artinya, mengendalikan nafsu syahwatnya dengan cara bersabar dan menyebarkan kebaikan.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban, Rasulullah Saw bersabda, “Mujahid adalah orang yang berjihad melawan nafsunya.” Dalam arti, menekan nafsu buruknya untuk menjauhi kemaksiatan dan berbuat ketaatan. Jihad melawan hawa nafsu adalah jihad yang paling utama karena bila seseorang tidak bisa memeranginya, ia pun tidak akan bisa memerangi musuh. Begitulah yang diungkap oleh al-‘Azizi.

Selanjutnya, jiwa manusia mempunyai sepuluh kecenderungan yang harus dilawan, yaitu keinginan kuat, berahi, kikir, berharap, menyimpang, keras, perilaku buruk, angan-angan, tamak, dan malas. Adapun nafsu juga memiliki sepuluh bala tentara, yaitu dengki, sewenang-wenang, membanggakan diri, sombong, dendam, tipu daya, waswas, melanggar perintah, buruk sangka, dan suka mendebat. Inilah keterangan dari al-Hamdani.

Pahamilah, anggota tubuhmu adalah nikmat dan amanah yang diberikan Allah kepadamu. Maka dari itu, bersyukurlah atas nikmat dan amanahNya dengan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dilarangNya. Karena, jika engkau pergunakan nikmat itu dengan melakukan maksiat, berarti engkau telah mengingkari nikmat Allah dan mengkhianati amanahNya.

%d blogger menyukai ini: