ISLAMRAMAH.CO, Hari Santri Nasional adalah momentum untuk meneguhkan eksistensi pesantren di dunia yang terus mengalami perubahan ini. Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan di Indonesia harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman mutakhir, agar masyarakat tetap memiliki antusiasme yang besar untuk mendidik putra-puterinya di pesantren. Hal itu penting karena usaha dalam merespon perkembangan zaman yang berubah merupakan keniscayaan.

Pesan itulah yang disampaikan Rais Syuriah PBNU, KH Ahmad Ishomuddin atau akrab disapa Gus Ishom menanggapi momentum Hari Santri Nasional 2018. Menurut Gus Ishom, ada kecenderungan masyarakat yang mulai meninggalkan pesantren sebagai pendidikan keagamaan awal putera-puterinya. Hal itu ditengarai karena perkembangan teknologi kurang direspon dengan baik oleh kalangan pesantren. Dampaknya, masyarakat lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya ke pendidikan umum.

“Pesantren saat ini harus mempersiapkan diri mengikuti perkembangan sehingga tidak ada keengganan bagi orang kota untuk memesantrenkan anaknya. Saya kira itu momentum penting dari diadakannya hari santri,” kata Gus Ishom di Jakarta (21/10).

Kiai asal Lampung itu juga menambahkan, seorang santri harus bermanfaat bagi masyarakat di manapun dan kapanpun berada. Santri harus menjadi problem solving dan bukan justru menjadi bagian dari masalah bangsa. Dalam akhir-akhir ini bangsa Indonesia kerapkali dihadapkan oleh permasalahan kebangsaan, maka santri hendaknya hadir untuk menjadi inspirasi kedalaman ilmu keislaman sekaligus kebangsaan.

“Intinya bagaimana agar santri menjadi orang-orang yang bermanfaat, bisa memberi solusi, memecahkan masalah atas problem-problem kehidupan di masyarakat yang semakin lama semakin rumit, bukan justru sebaliknya, menjadi sumber masalah kehidupan itu sendiri,” ulasnya.

%d blogger menyukai ini: