ISLAMRAMAH.CO, Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk sangat beragam, baik keragaman etnik, bahasa, tradisi budaya maupun agama. Indonesia juga dikenal sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Selain itu, umat Islam Indonesia dikenal sebagai umat yang moderat, toleran dan terbuka terhadap perbedaan-perbedaan agama lain.

Meskipun keragaman menjadi realitas yang luar biasa di Indonesia, itu semua tidak menjadikan Indonesia terpecah belah, justru sebaliknya, melalui Pancasila Indonesia berhasil menjadi negeri yang bersatu-padu di tengah-tengah keberagaman. Keadaan itulah yang menjadikan Indonesia sebagai negerinya kerukunan antar umat beragama di dunia. Apabila hendak menyaksikan secara langsung model kerukunan antar umat beragama di dunia, maka berkunjunglah ke Indonesia.

Pesan itulah yang disampaikan Prof Dr. Mariam Ait Ahmed dalam acara Dialog Peradaban Lintas Agama di Hote Aryaduta, Jakarta Pusat (13/10). Menurutnya, Indonesia merupakan contoh konkrit dialog antar umat beragama itu diterapkan, karena itu ia mengajak masyarakat dunia untuk berkunjung dan menyaksikan praktik toleransi di Indonesia. “Kalau kalian ingin melihat contoh aplikasi dialog antarumat beragama itu diterapkan, silahkan datang ke Indonesia,” tuturnya.

Perempuan yang juga sebagai Guru Besar Universitas Ibnu Tufail, Maroko itu merasa tenang dan damai ketika berkunjung ke Indonesia. hal itu karena praktik keberislaman di Indonesia adalah moderat dan ramah, sehingga suasana itu menjadi oase yang menyejukkan bagi siapapun yang mengunjunginya. “Saya merasa tenang di Indonesia karena di Indonesia, Islam disebarkan dengan cara moderat,” kata perempuan yang sudah sering mengunjungi Indonesia sejak 10 tahun terakhir.

Prof Mariam juga memberi pesan agar iklim dan tensi politik yang relatif memanas hendaknya tidak sampai membawa-bawa agama sebagai komoditas politik. Hal itu penting karena ongkos mahal pasti akan di tanggung Indonesia jika sampai Islam yang rahmatan lil ‘alamin di Indonesia disusupi kepentingan politik praktis.

“Kita menghormati itu semua karena perbedaan politik, tapi jangan sampai perbedaan politik memanfaatkan agama untuk alat jualan, untuk memberikan, mendukung kelompok tertentu, dan sambil menyalahkan kelompok lain,” tegas Ketua Perhimpunan Persaudaraan Maroko-Indonesia itu.

%d blogger menyukai ini: